
Kini acara telah usai para tamu undanganpun sudah pulang satu per satu. Hanya keluarga inti yang masih mengobrol, Berbahagia atas pernikahan kedua putra putri mereka apalagi akan dikaruniai seorang cucu.
Noah mengajak Tiara ke taman belakang mencoba lebih dekat satu sama laim meski masih dalam keadaan kaku.
''Tiara aku minta maaf atas kesalahan yang sudah aku perbuat mungkin kesalahanku ini membuat dirimu jijik dan ilfil.'' Noah mencairkan suasana dengan bicara dari hati- ke hati.
''Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Mari kita mulai membina rumah tangga selayaknya meskipun belum ada kata cinta tapi aku yakin kalau kita melakukannya dengan sabar dan ikhlas semuanya akan berjalan dengan lancar .'' Ucapnya lagi.
''Iya Noah kita mulai lembaran baru. Tapi segampang itukah kamu melupakan Maya bukannya kamu cinta banget sama dia''Tanya Tiara hatinya nyeri ketika menyangkut Maya. Namun bagaimana lagi ia ingin memastikannya langsung dari bibir Noah.
''Kalau melupakanya masih belum bisa, Tapi aku akan berusaha demi malaikat kecil kita Cemburu sih iya tapi aku berfikir ada hati yang harus aku jaga. Mungkin aku aja yang kegeeran tapi menurutku kamu menyukaiku dari awal ketemu meskipun belum ketahap cinta sih.'' Ujar Noah ia sengaja melontarkan guyonan karna ia melihat wajah Tiara yang sudah tak bersahabat.
Tiara memalingkan wajahnya , Terlalu malu menurutnya mengakui perasaannya terlebih dulu. Emang awalnya ia menyukai Noah tapi ketika tau semuanya cerita Noah dari Maya. Ia agak bencin, Ditambahbah lagi tragedi satu malam itu membuatnya semakin membenci Noah.
''Kamu terlalu percaya diri.'' Timpal Tiara ia enggan melihat Noah.
''Oh begitu, yaudah aku mau lanjut memperjuangkan cintaku ke Maya. Mungkin dia akan luluh.''Sergah Noah ia beranjak berdiri namun dengan gesit Tiara menahan tangan Noah.
''Iya aku menyukaimu.'' Papar Tiara .Noah membungkuk mengelus perut yang sudah terlihat buncit itu.
''Noah.'' Seru Tiara air matanya sudah mengalir dipipinya.
''Ra ,kenapa???'' Tanya Noah kebingungan melihat Tiara menangis. Apakah dirinya menyakitinya pikir Noah.
''Aku minta maaf Noah, Aku udah berfikir buruk tentangmu.'' Sahut Tiara.
Noah mendekap Tiara, Membelai rambut sebahu itu dengan lembut.
'' Memang pantas kamu berfikir buruk tentangku, aku bajingan , aku brengsek aku merebut wanita yang dicintai sahabatku aku egois tapi sekarang aku sadar kalau cinta gak bisa dipaksa. Bertahun- tahun menjalin dengannya namun tak bisa membuat dirinya jatuh cinta. Lalu kamu datang memberikan semua itu meski belum sempurna, Tapi aku gak akan menyia- nyiakan kamu Tiara.'' Timpal Noah mencium pucuk kepala Tiara. Ia melerai pelukan ,menangkup wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
''Jangan panggil Noah panggil aku Mas atau apalah. Yang sopan dong sama suami.'' Ujar Noah lagi diselingi cengiran.
''Iya mas Noah.'' ujar Tiara juga menangkup wajah Noah dengan senyuman. Mereka saling pandang dengan jarak yang begitu dekat. Hingga kini benda lunak itu saling *******, mencecap dan saling berbagi saliva. Disaksikan bintang dan bulan mereka memulai mahliga rumah tangga dengan khidmat walau mereka masih sama- sama belajar mencintai namun mereka tetap yakin jika benih- benih cinta akan dengan cepat tumbuh ketika yang menjalaninya dengan ikhlas dan sabar.
Noah menyudahi ciumannya, Ia mengelap sisa pagutan di bibir ranum Tiara dengan ibu jarinya. Dengan dahi yang masih menempel keduanya masih nampak menghirup udara sebanyak- banyaknya.
'' Kau canduku Tiara.'' Seru Noah ia tersenyum ketika mendapati wajah Tiara sudah memerah bak kepiting rebus.