
Kini mereka berdua berada di dalam mobil melajukan kendaraannya ke arah kediaman Addison. Aaron memang sudah berbicara pada keluarganya bahwa dirinya akan membawa wanita dan akan menikahinya hari ini juga. Membuat keluarga besar Addison bingung, apakah secepat itu seorang Aaron melupakan wanita yang teramat di cintainya. Namun semuanya bersyukur jika Aaron bisa membuka hati untuk wanita lain, Bukan tak menginginkan Maya kembali tetapi mereka menginginkan agar Aaron bisa seperti dua bulan yang lalu ceria dan tak pendiam seperti akhir- akhir ini sejak menghilangnya wanita tercintanya.
"Hubby gimana reaksi keluarga kamu nantinya.?" Tanya Maya yang masih kikuk berkumpul di tengah- tengah keluarga Addison. Baru pertama kali ia menginjakkan kakinya di kediaman Addison setelah hilang ingatan.
"Mereka sangat menyayangimu Hummy terutama bunda, dia sampai sakit- sakitan di tinggal kamu." Terang Aaron menggenggam tangan Maya sesekali mengecupnya.
"Oh begitu." Maya hanya manggut- manggut mendengar penuturan Aaron.
Setelah beberapa menit mengendarai kuda besinya membelah jalanan ibukota, Kini mobil Aaron berhenti di pelataran kediaman Addison.
Aaron membuka saltbeltny namun dengan gerakan cepat tangan Maya menariknya agar lebih dekat dengannya.
"By aku kok deg- degan ya, kita batalin dulu aja kali ya. Aku kayaknya masih belum siap." Terang Maya mencekal tangan Aaron.
"Enak aja main batalin kamu gak liat disana sudah ada mobil pak penghulu. Jangan aneh- aneh deh Hummy." Cecar Aaron memelototkan matanya ke arah Maya, Dirinya kesal dengan ucapan Maya yang dengan mudahnya akan membatalkan rencana pernikahannya.
"Tapi akummppttt." Ucapan Maya terpotong karena serangan dari Aaron yang mendadak.
Aaron tak memberikan cela untuk Maya berbicara, Dia begitu antusias dengan pernikahan mendadaknya dan kini wanitanya malah menyuruhnya untuk membatalkan rencananya sungguh membuat Aaron frustasi.
"Hentikan fikiran anehmu Hummy, siap belum siap kita akan menikah sekarang juga." Ujar Aaron setelah ciuman itu terlepas.
Menuruni mobil tanpa menggubris wanitanya yang terus menggerutu di sebelahnya. Ia memutari mobil, takut sang wanita kembali kabur darinya.
Tak taukah ia jika Aaron sangat khawatir jika Rangga akan mengambilnya lagi darinya .Seandainya sang wanita telah menjadi istrinya, bisa saja Rangga di tuntut oleh hukum sebab membawa istri orang. Dan lagi pula Aaron enggan penantiannya bertahun- tahun sia- sia hanya karena ada orang ketiga dalam hubungannya, Cukup dulu sahabatnya yang menjadi orang ketiga.
Aaron menggenggam tangan Maya dengan erat, melangkahkan kakinya ke arah rumah yang sudah ramai oleh orang tertentu yang menghadiri.
"Assalamualaikum." Teriak Aaron ketika dirinya memasuki kediaman Addison, tentu saja semua langsung menoleh ke arahnya tak terkecuali Talia yang ingin tau gadis yang dengan mudahnya mengalihkan hati putranya dari seorang Maya afriaresa.
"Nak dimana gadis it...." Ucapan Talia terhenti ketika seorang wanita menyembul di balik punggung Aaron.
"Putriku." Sergah Talia,ia berdiri dan berlari ke arah Maya. Membuat semua orang disana membelalakkan mata kecuali sahabat Aaron yang telah membantu misinya.Talia mengamati dengan lekat wajah Maya yang seperti mimpi menurutnya.
"Maya putri bunda." Talia memeluk Maya dengan erat meyalurkan betapa rindunya dirinya kepada wanita di depannya ini.
"Nak beneran ini kamu nak." Tio tak luput menghampiri putri yang telah menghilang selama dua bulan lamanya.
Maya yang mengerti dengan semuanya yang kebingungan berusaha melirik ke arah Aaron yang melihat ke arahnya. Memberi kode agar dirinya bisa tau dan mengenal kembali keluarga yang membuatnya nyaman tersebut.
"Maaf semuanya, Maya hilang ingatan jadi dia tidak bisa mengingat kalian semua." Ucap Aaron membuat Talia ataupun Tiara yang mendengar itu semua syok.
"Kita akan berusaha mengembalikan ingatan Maya bersama- sama. Mmm bun bisa di lanjutkan acaranya nanti kita lanjutkan mengobrol tentang keadaan Maya." ucap Aaron berhati- hati takutnya bunda melarangnya menikah hari ini ketika mengetahui keadaan Maya.
"Tapi Nak, Apa kamu setuju." Ujar Talia bertanya pada Maya yang hanya mendapatkan anggukan darinya.
"Baiklah, Ayo bunda antarkan ke kamar, kamu harus di rias terlebih dahulu nak." Timpal Talia lagi menahan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
Menggandeng tangan Maya agar mengikutinya tak lupa Tiara mengekor ke dua wanita yang akan memasuki kamar rias. Karena perias dan penghulunya sudah datang sedari tadi hanya menunggu mempelai wanita yang akan melakukan ijab kabul.
Maya di dudukkan di depan cermin, Dengan gesit kedua perias itu mengukir wajah Maya dengan sentuhan make upnya. Talia dan Tiara yang melihat itu tak bisa lagi membendung air matanya. Mereka sangat bersyukur ketika Tuhan mendengarkan doanya meskipun keadaan Maya masih dalam hilang ingatan
"Nak ayo kita keluar, mendengarkan cerita Aaron yang bisa menemukan Maya." Ujar Talia melangkahkan kakinya keluar dengan Tiara yang dengan setia mengekor di belakangnya.
"Jadi Rangga Luxio yang membawa Maya pergi ke London dan tak memberi tahu kabarnya pada kita." Ucapan Arkan yang lumaya tinggi membuat Talia agak sedikit berlari namun tidak dengan Tiara, ia agak kesusahan apalagi perutnya sudah semakin membesar .
"Ada apa pa?" Tanya Talia ketika sudah berada di tengan keluarga intinya, ia juga melihat Arkan dan Tio yang sepertinya sudah di kuasai amarah.
"Ternyata yang membawa Maya adalah Rangga Luxio Bun." Sahut Arkan menoleh pada sang istri.
"Lalu bagaimana nak."
"Rangga sangat terobsesi sama Maya bun hingga dia juga mengaku sebagai tunangannya dan entah bagaimana mereka selama di London ." Aaron menundukkan kepalanya, Dirinya berfikir Maya dan Rangga sudah pernah bercinta apalagi di London terkenal dengan negara bebas.
"Apa kamu menerima jika Maya tak sesuai yang kamu harapkan lagi, Maaf om bertanya seperti itu karena Om tak mau putriku harus terluka ketika dia sudah menjadi istrimu." Sergah Tio yang mendapati wajah Aaron yang meredup, Tio sangat yakin bahwa Aaron berharap putrinya tak melakukan apapun bersama Rangga di sana apalagi bercinta, entahlah.
"Saya akan tetap menerima Maya apapun keadaannya karena saya mencintainya bukan karena sesuatu ataupun mempersalahkan keprawanannya. Meskipun dia tak perawan sekalipun saya akan tetap menikahinya, Karena yang saya butuhkan hanya Maya berada di sisi saya, menjadi ibu dari anak- anak saya. Tetapi saya marah ketika Rangga dengan seenak jidatnya mengaku bahwa dirinya tunangan Maya." Ucap Aaron dengan lantang membuat hati Tio merasa lega karena putrinya melabuhkan hatinya pada sesosok pria yang tepat menurutnya.
Setelah bercerita panjang lebar dengan keluarganya, Talia dan Tiara pergi melihat Maya yang sudah selesai di dandani keran si perias telah undur diri.
Maya mengembangkan senyumannya mendapati dirinya memakai gaun pengantin yang sangat cantik, Tetapi yang membuatnya bahagia adalah dirinya akan menjadi istri dari seorang pria yang dengan mudahnya membuatnya nyaman. Apalagi dirinya merasakan debaran jantung yang berpacu kencang akibat dari rasa gugupnya.
"Semoga ini yang terbaik untukku." Batin Maya dengan senyum yang terus mengembang.