
Maya merasakan nyeri pada tangannya yang ia sengaja mencabut infusnya. Dirinya berjalan tertatih-tatih keluar dari rumah sakit tanpa ada yang mencurigainya.
Ketika sudah sampai di depan gerbang, Maya memberhentikan taksi yang melintas di depannya.
Hanya bermodalkan uang yang berada di dalam tasnya, dirinya nekat pergi dari sisi keluarga yang mencintainya hanya ingin mengubur kenangannya bersama Aaron. Apaagi kini kehadiran Rangga yang tak diinginkannya, mungkin saja nanti Ayah dari Rangga akan membunuh dirinya ataupun anaknya.
"Bissmillahirohmanirohim, Yakinkan hatimu May. " Ujar Maya meyakinkan hatinya kala taxi yang sudah di tumpanginya melesat bersamaan mobil yang lainnya.
"Pak anterin saya ke alamat ini ya pak. " Pinta Maya memberikan kertas putih yang ada di genggamannya.
"Baik nona. " Ucap sang sopir setelah membaca tulisan di kertas putih tersebut.
Maya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan tatapan menerawang pada cendela kaca. Air matanya mengalir menghadapi kenyataan pahit yang silih berganti menimpanya.
Akankah dirinya mampu menghadapinya hingga usai atau malah dirinya memilih menyerah dan akan mengikuti sang suami yang sudah berada di sisiNya.
Maya pasrah dengan apa yang menimpanya nanti di tempat barunya, walau kehidupannya nanti takkan berkecukupan tapi Maya tetap bertekad dengan niat yang sudah direncanakannya.
Hingga di beberapa detik kemudian decitan mobil taxi yang ditumpanginya membuatnya terhuyung ke depan dan hampir saja dahinya terbentur kursi bagian depannya.
"Maaf nona, Ada mobil yang menghalangi kendaraan kita. " Ucap si pengemudi dengan tatapan panik.
"Siapa pak? " Tanya Maya mencoba melihat ke arah depan, namun mobil yang menghalangi laju taxinya tak merasa dikenalinya.
"Apakah itu mobil Rangga. " Batin Maya mulai gusar kala pria berakaian hitam turun dari mobil itu dan mengarah ke arah mobilnya.
Maya berjongkok, bersembunyi di pojok bawah kursi agar sang pria berpakaian hitam tak menemukan dirinya. Ia takut kalau sampai benar jika mereka adalah suruhan Rangga yang akan membawa dirinya kembali ke hadapan tuannya.
"Buka atau kami hancurkan mobil ini. " Ucap salah satu pria berakaian hitam tersebut dengan memegang balok kayu besar.
"Nona tolong keluarlah, mereka pasti mencarimu. " Ucap sang supir memelas kala Maya tak bergerak dari persembunyiannya.
Maya melihat ke arah sang sopir merasa kasihan sehingga dirinya membuka pintu dengan tangan gemetar.
ceklekk......
Baik Maya dan sang sopir bersamaan membuka pintu mobil dengan keadaan gusar dan gelisah.
Apalagi tatapan kedua pria berpakaian hitam itu tengah tersenyum entah senyuman apa yang di maksut.
"Mau apa tuan menghalangi jalan kami?. " Tanya sang sopir dengan nada kehati-hatian. Takutnya mereka bertindak jahat jika terlalu kasar bertanya.
"Saya mau membawa nona yang menjadi penumpang anda pak, Mari nona. " Ujar pria tersebut hendak menghampiri Maya yang menyimak interaksi mereka.
Maya memundurkan tubuhnya kala kedua pria tersebut semakin mendekat ke arahnya, Maya gemetar takut yang dipikirkannya adalah kenyataan.
"Jangan takut nona, Kami disuruh tuan Ben menjemput anda." Terang Pria tersebut membuat hatinya lega, karna bukan Ranggalah yang mengutus mereka.
"B-en" Tanya Maya memastikan , Kedua pria tersebut megangguk membenarkan ucapan Maya.
Masih dengan perasaan was- was , Maya sesekali melirik kedua pria di depannya yang sibuk sendiri. Yang satu sibuk dengan kemudinya dan satunya lagi sibuk dengan ponselnya.
Maya diam, bibirnya tak mampu mengeluarkan suaranya. Walaupun rasa penasarannya membuncah tapi dirinya memilih diam.
Hingga di beberapa menit kemudian mereka membelokkan mobilnya ke arah rumah kecil yang sangat asri di penglihatannya.
Maya bertanya kala mobil itu berhenti tapat di rumah kecil itu, Membuat rasa penasarannya semakin memuncak.
" Maaf pak, rumah siapa ini. " Tanya Maya kala pintu mobilnya sudah di buka oleh sopir.
"Masuklah nona, Anda akan tau sendiri nanti di dalam. " Ujar Sang sopir seraya membungkuk.
Maya melangkahkan kakinya ke rumah kecil nan asri dengan pintu yang terbuka lebar. Netranya mendapati Ben dan Noah saling berbincang di ruang tamu, Entah apa yang di bahasnya namun sepertinya sangatlah serius.
Hari menjelang malam dengan penampilan layaknya pasien dengan baju berwarna biru yang nampak kebesaran di tubuh Maya. Membuat yang melihatnya nampak tercengang, bukankah Maya tadi di makam Aaron kenapa sekerang pakaiannya berubah jadi baju pasien.
"May ada apa. " Tanya Noah kala dirinya mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat. Noah khawatir dengan Maya apalagi wajahnya pucat pasi di penglihatannya.
"Gak apa-apa Noah. " Ujar Maya santai, dirinya beralih menatap Ben yang juga melihat ke arahnya.
"Kenapa bawa aku kesini Ben? " Tanya Maya dengan tatapan mengitrogasi.
"Mau kemana kamu? " Tanya Ben bersedekap dada, entah sifat konyolnya yang dulu ditunjukkannya kini berubah menjadi sifat datar nan dingin.
"A-ku M-au... " Ucap Maya terpotong kala Ben dengan gesitny menyela.
"Mau kabur, mau lari dari kenyataan hah, Tanah peristirahatan Aaron belum kering dan kamu malah mau meninggalkannya. Dimana hati nuranimu May, apa segitu tak berharganya Aaron di matamu hah jawab. " Bentak Ben dengan emosi yang meluap, dirinya kecewa dengan keputusan yang di ambil Maya. Untung dirinya sudah menyuruh orang untuk memantau Maya, dari Rangga yang menghampirinya bahkan membawanya ke rumah sakit.
"Ben, Bicaralah yang baik. Tak perlu membentaknya. " Sergah Noah yang tak terima dengan tindakan Ben. Walau bukan cinta yang dimiliki Noah, melainkan kakak pada adiknya.
"Gak perlu ngomong baik-baik sama dia Noah, Karna dia gak bakalan peka. " Sarkas Ben dengan nada berapi-api.
Maya menangis dalam diam, kala ucapan Ben sangatlah menusuk hati bagian terdalamnya. Apakah yang dilakukannya salah meninggalkan kenangan yang telah di bangun oleh dirinya dan Aaron.
Apakah dirinya salah mencoba melupakan Aaron dan semua kenangan termasuk kota yang begitu banyak kenangannya ini.
"Lakukanlah sesuka hatimu Ben. Marah, kesel ataupun mau membunuh orang bodoh seperti aku, silahkan. Bunuh aku biar aku bisa ikut bersama suamiku disana. Aku juga capek hidup dengan masalah yang selalu memojokkanku. " Bentak Maya dengan linangan air mata yang membanjiri pipinya.
"May, udah ya. jangan dengarkan ucapan Ben. " Ujar Noah menenangkan emosi Maya yang tak terkontrol.
"Aku tau aku salah, tapi apa salahnya aku mencari ketenangan untuk diriku sendiri. Aku ingin menenangkan bersama anakku Ben. " Ujar Maya lagi mengusap air matanya secara kasar.
"Lu tau may, dengan cara lu kayak gini. Gimana gua bilang ke Aaron kalau gua sama yang lain gak becus jaga lu, Lu gak ngerti tentang itu May. " Ucap Ben membalas emosi Maya.
Maya membeku mendengar ucapan Ben, Benarkah sebelum pergi untuk selamanya Aaron menitipkan dirinya pada sahabat- sahabatnya. Buat apa, bukankah dirinya bisa menjaga dirinya sendiri pikir Maya.