
Aaron membuka poni yang di gunakan Maya untuk menutupi lukanya dan benar saja ada luka yang darahnyapun sudah mengering di sekitarnya. Tangan Aaron terkepal menahan kesal dengan seseorang yang melukai sang istri. Ingin mencari tau namun Maya berusaha membujuk Aaron agar meredam emosinya. Mau tak mau Aaron menurut dengan pujaan hatinya meski begitu ,lain waktu dirinya akan menguak siapa dalang dari kejadian ini.
Masih terduduk di atas rerumputan hijau, Aaron kembali memeluk mesrah Maya, Menurutnya dengan mudahnya sang istri tak menampakkan jika dirinya tengah sakit walau tak ada perban atau obat yang mengobati lukanya. Hanya saja Maya hanya membutuhkan sebuah gunting untuk memotong poninya agar lukanya tak nampak meski dengan gaya potong yang asal- asalan namun auranya tak pernah luntur di wajahnya.
"Pantesan ada yang beda, Kamu sekarang makek poni. Apa gak sakit sayang, aku panggilin dokter ya." Tanya Aaron hendak mengambil handponenya di saku celananya namun tangan Maya mencekalnya.
"Udah gak perlu by, Ini udah sembuh dengan adanya kamu disisiku. Jadi kamu gak perlu khawatir." Ucap Maya menangkup wajah brewok sang suami namun dengan sigap Aaron menarik Maya kedalam dekapannya.
"Inilah yang aku takutkan, Maafkan aku sayang jika rencanaku ini nantinya akan menyakitimu, Ini hanya untuk keselamatannya." Batin Aaron membelai surai hitam legam milik sang permaisurinya.
Pelayan yang menyaksikan sang Tuan dan nonanya tengah berpelukan terharu dengan keadaan yang tengah menimpa sang atasan. Sang pelayan meneteskan air mata ketika pandangannya terpusat pada dua insang yang saling menguatkan hingga dirinya lupa tujuan awal ke taman belakang.
"Hey, Nyonya besar sudah menunggu kenapa masih belum di panggil juga nona dan tuannya." Ucap Pelayan yang biasa di pangggil Mila dengan menggepak bahu Loli sang rekan kerjanya.
"Ihh Mila, Aku terharu sama mereka. Banyak banget cobaannya tapi nona gak ada dendam- dendamnya kayaknya malah nyuruh Tuan jangan ngeladeni. Kan aku yang sebel, Tuan juga gak mau menolak apa yang di ucapkan Nona." Ucap Loli menyandarkan kepalanya di bahu Mila.
"Itumah namanya wanita baik hati tak suka balas membalas biarlah Tuhan yang membalas." Ucap Mila juga mengamati dua sejoli yang setia berpelukan di atas rerumputan.
"Ihh Nyonya besar nunggu Loli, Gihh panggil. Hapus juga tuh air mata buaya kamu. Bisa marah nanti Tuan kalau kamu ketahuan ngintip." Ucap Mila memperingati dan berlalu pergi meninggalkan Loli yang masih sesegukkan.
"***Ihh si Mila main pergi aja, Lah aku gimana masak jadi obat nyamuk. Huhuuuu ...Tuhan kapan jodoh hamba datang, Hamba maunya kayak Tuan Aaron ya .. gak mau kayak yang lainnya." Batin Loli menengadah tangannya, Hingga dirinya menghembuskan nafas kasar karna menurutnya memanggil sang majikan adalah tugas yang berat apalagi dengan mereka yang bermesraan hingga membuat dirinya tak tega mengganggunya
"Santai Loli, Nyonya besar akan menerkammu nanti." Batin Loli menakuti dirinya sendiri***.
Ia melangkah perlahan demi perlahan hingga tepat di belakang sang majikan Loli memberanikan diri berdehem niatnya agar pelukakan sang majikan terlepas.
"Ehemmm." Deheman Loli namun bukan melepaskan , Aaron semakin nakal dengan mencium lembut bibir sang istri hingga membuat Loli yang melihat secara langsung membelalakkan matanya.
Ia buru- buru berlari kembali ke dalam rumah saking tergesanya ia sampai menabrak pintu kaca yang menghubungkannya dengan taman belakang. Suara kaca yang di tabrak Loli tersebut menghentikan aktivitas sepasang suami istri yang tak lain Aaron dan Maya. Hingga mereka bangun dari duduknya dan menghampiri Loli yang tersungkur di atas rerumputan.
"Loli apa yang terjadi.?" Tanya Maya yang sudah duduk di samping Loli yang tengah merasakan nyilu di hidung dan dahinya.
"Mmm Non anu itu Mmm apa ya." Ucap Loli tergagap.
"Kamu ngapain disini, Oh atau jangan- jangan kamu ngintip." Suara bariton Aaron membuat Loli terjingkat hingga dirinya spontan memegang kaki Aaron dan meminta maaf atas kesalahannya.
"Bunda kesini By, Ayok." Ujar Maya kegirangan dirinya menarik tangan Aaron tanpa menghiraukan Loli yang masih bersipuh di kaki Aaron, Membuat Loli terbengong hingga muncul keberaniannya berteriak pada majikannya.
"Tuan saya di pecat." Teriak Loli hingga Aaron dan Maya spontan menoleh dan di persekian detik Loli membekap mulutnya sendiri sebab dengan lancangnya bibirnya berteriak pada sang majikan.
"Kamu ingin di pecat." Ucap Aaron bersedekap dada.
"J-angan dong tuan." Timpal Loli tergagap, dirinya menunduk ketika melihat mata tajam milik Aaron.
"Loli kamu tenang saja kami takkan memecatmu, dan bangunlah karna kami ingin kamu dan Mila memasak sesuatu yang spesial untuk Papa dan Bunda." Ucap Maya kembali menarik tangan Aaron menuju depan.
"***untung- untung punya majikan yang satunya baik yang satunya galak, Aduhhhh aman." Batin Loli mengelus dadanya.
Maya berlari kearah Papa dan bundanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu, Dirinya sangat antusias menemui mereka sebab sang Bunda dan papanya sangatlah berharap atas kesembuhannya..
"Sayang hati- hati." Ucap Aaron memperingati, Namun Maya tak menghiraukan ucapan Aaron.
"Bunda... Papa..." Teriak Maya ketika netranya mendapati sepasang suami istri setengah baya namun masih segar dan bugar di usianya.
Talia, Arkan dan Aryan terjingkat kaget dengan teriakan Maya yang tak seperti biasanya selama ia dalam keadaan lupa ingatan . Hingga Talia ikut berteriak dengan tingkah putrinya yang lama ia rindukan.
"Nak jangan lari- lari." Ucap Talia ketika melihat Maya menarik tangan Aaron dengan berlari, Talia takut nanti putri kesayangannya terjatuh dan terluka.
"Bunda." Maya memeluk erat sang bunda kala dirinya sudah berada di dekat bunda dan melepaskan cekalan tangannya pada tangan Aaron.
"Ada apa nak?." Tanya Talia yang aneh dengan sifat Maya , Kemarin- kemarin ia masih saja terdiam seperti masih menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan orang sekitarnya.
"Aku udah mengingat semuanya Bun, Aku ingat bunda , papa sama bocil ini." Timpal Maya melerai pelukannya , Melihat wajah Bundanya dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
"Benarkah." Tanya Talia menangkup wajah Maya memastika bahwa putrinya tak berbohong.
"Iya seriusan Bunda , Aku Maya Afriaresa putri bunda. Yahhh meskipun putri ketemu gede.." Canda Maya agar bundanya tak menangis ketika melihatnya sembuh apalagi cairan bening itu mulai merambat di pipi yang sudah nampak keriput itu.
"Sayang." Ujar Bunda kembali membawa Maya ke dalam pelukannya.
Maya membalas pelukan erat sang bunda, menyalurkan kerinduan pada sosok wanita yang dengan baiknya menganggap dirinya sebagai putrinya dan dengan kelapangan dadanya membuat seorang Maya seperti mempunyai seorang ibu kembali dengan sifat lemah lembutnya dan tak membedakan antara darah dagingnya atau bukan***.