Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Bangunnya putri tidur



Dibelahan dunia bagian barat seorang pria berparas tampan dengan tampang ke baratan nampak sedang mengamuk. Semua pengawal dan pelayan yang bekerja di rumah mewahnya terkena imbas dari masalah yang mereka tak tau menau.


Para pengawal yang bertugas mengawal Pria tersebut dan wanitanya babak belur akibat amukan sang atasan. Karena menurutnya mereka tak becus menjaga sang wanita hingga akhirnya bisa hilang entah kemana.


"Bagaimana bisa kalian lengah hah.?" Bentak Rangga kepada kelima pengawalnya yang masih tersungkur di lantai.


Ya Rangga, Pria keturunan asli London- inggris mengamuk ketika pengawalnya mengatakan bahwa wanita yang selalu menemaninya selama dua bulan ini menghilang.


"Maaf tuan sepertinya ada yang mengecoh kami." Salah satu pengawal itu berujar. Memang benar adanya saat kejadian Maya menghilang, Mereka mendapat panggilan dari rekannya yang lain bahwa ia terkena tembakan dari pria misterius hingga semua pengawal berbondong- bondong ke arah sang penelvon. Ketika sudah berada di titik lokasi mereka hanya menemukan sebuah boneka yang sudah berlumuran darah.


"Dasar bodoh." Umpat Rangga menendang pengawal yang masih tersungkur di lantai.


"Lalu dimana wanitaku sekarang hah.? Mengapa semua cctv di gedung itu bisa rusak bodoh. Kalian semua bodoh" Teriak Rangga menggelegar di ruangan kerjanya.


Rangga berfikir, memang ada yang sengaja menculik Maya hingga merencanakan dari jauh- jauh hari agar semua rencananya matang sempurna. Terbukti sekarang, seorang Rangga tak bisa menemukan titik terang keberadaan wanitanya.


"Semua cctv di gedung itu sudah di retas tuan." Salah satu pengawal kembali berujar, Ia berusaha berdiri akibat pukulan bertubi- tubi dari sang atasan. Dengan menundukkan kepala, Ia takut akan menjadi pelampiasan amukan sang atasan lagi.


"Lalu?." Tanya Rangga mendekati pengawal yang menundukkan kepala mungkin dirinya takut jika Rangga memukulnya lagi, Terlihat dari kakinya yang gemetaran.


"Dan ssaaya melihat Tuan muda Addison keluar toilet wanita ketika nona Mayra masih berada di dalam toilet." Timpal sang pengawal dengan nada tergagap, Ia harus mengatakan yang ia tau karena menurutnya jika sang atasan tau dari yang lain nyawanya akan terancam.


"Aaron Addison sialann." Teriak Rangga membanting semua yang ada disana tak peduli seberapa mahalnya barang yang ia pecahkan.


"Apa lu sudah mengingat semuanya cantik, Lalu lu pergi bersama Aaron. Cihh ... wanita tak tau di untung, Sudah untung gua selamatin malah kayak gini balasannya dasar. Tunggu pembalasanku cantik." Batin Rangga tersenyum sinis , ia juga mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia merasa telah di khianati oleh Maya ,menurutnya cintanya yang hampir bersemi harus layu sebelum mekar.


Rangga melangkahkan kakinya ke luar ruangan kerjanya meninggalkan para pengawal dan pelayan yang masih setia menunduk. Namun mereka bernafas lega karena sang Tuan keluar dari ruangan tersebut sebab mereka merasa kekurangan pasokan oksigen jika tuannya masih satu ruangan dengan mereka.


Mendobrak pintu kamar yang sempat menjadi kamar pribadi Maya ataupun Mayra. Menggeledah semua tempat yang menurutnya kebiasaan wanitanya menyimpan sesuatu, Namun nihil tak ada apapun yang di temukannya.


Ia mengeram frustasi, Bagaimana bisa dirinya sampai kecolongan seperti ini. Dia tak terima dengan hal yang menimpa dirinya apalagi cintanya masih tahap indah- indahnya untuk sang wanita.


**Tuuuuttt.


📱Rangga: Cari tau keberadaan Maya secepatnya.


📲Teddy: Bisa kirim fotonya tuan?


📱Rangga: Cek emailmu.


📲Teddy: Baik laksanankan tuan,


Tuuuuuutttttt**......


"sejauh apapun kamu melangkah aku bisa menemukanmu cantik, jadi jangan harap bisa lepas dari genggamanku." Batin Rangga tertawa sumbang, Dirinya telah di butakan oleh cinta hingga membuatnya menghalalkan segala cara agar bisa bersama wanita yang di inginkannya.


Sebenarnya dia rindu pada sosok Maya, Namun kekecewaannya teramat besar daribpada cintanya. Apalagi jika dugaannya benar Maya meninggalkannya hanya karna Aaron, entah bagaimana nanti dirinya bertingkah.


...----------------...


Maya membuka mata dengan membeliak kaget, Ia terkejut ketika bangun tidur bukannya di kamarnya malah di kamar yang menurutnya asing.


"Wait, Ini dimana.?" Batin Maya menuruni Ranjang, Ia mengamati banyak foto yang berada di kamar tersebut, Menelisik dengan teliti.


"Ini aku dan ini.. Enggak mungkin yang bawa aku Aaron." Batin Maya menaruh kembali foto tersebut ke tempat semula, Ia kembali lagi ke ranjang sambil mengingat- ingat apa yang telah terjadi pada dirinya.


Menoleh ke arah nakas yang terdapat sebuah memo yang di tujukan pada dirinya


**Kalau mau mandi baju gantinya ada di paperbag samping kamu.


Aaron Addison**


"Kan bener dugaan aku, Ini si Aaron yang bawa aku kesini." Ucap Maya pada dirinya sendiri, Ia senang bercampur takut. Senang karena Maya merasa nyaman dengan sikap Aaron yang di tujukan padanya dan takut jika Rangga akan terus mencarinya. Maya bingung harus bagaimana, Ketakutan terbesarnya adalah ketika Rangga tau bahwa yang membawanya adalah Aaron Addison. Mungkin Rangga tak akan segan- segan membunuh Aaron seperti ucapan Rangga tempo lalu di ujung telvond.


"Aahhhh bingung, .. Mending mandi dulu dari pada pusing mungkin setelah mandi otak kembali encer." Ujar Maya melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi tak lupa membawa paperbag yang ada di sampingnya seperti apa yang ditulis pada surat dari Aaron , ia akan mencari akal agar tak ada kata membunuh ketika ia sedang bahagia bersama pria yang membuatnya nyaman.


Dibawah guyuran shower dirinya memejamkan mata, menikmati air yang mengalir dari atas kepalanya hingga ke ujung kakinya.


Tak butuh waktu lama ritual mandi seorang Maya selesai hanya memakan waktu satu jam dua menit, Itu sudah membuatnya rilex.


**Ceklek..


S**embari menggosok rambutnya dengan handuk, Ia melangkahkan kakinya ke arah ranjang tanpa tau ada seorang pria tampan yang sedang memandangnya tanpa kedip.


Daster rumahan yang membuat Maya terlihat sangat seksi di mata Aaron. Berjalan mengendap- endap ke arah wanitanya, Lalu dengan gerakan cepat Aaron memeluk tubuh sintal itu ke pelukannya dan menghirup dalam- dalam aroma yang membuat dirinya menahan rindu selama dua bulan lamanya.


"Aaahhh...." Maya terjingkat kaget karena tiba- tiba ada yang memeluknya dari belakang spontan dirinya berbalik dan mendapati seorang Aaron Addison tengah tersenyum tampan padanya.


"Aaarronn." Ujar Maya tergagap, Ia mematung dengan pahatan sempurna dari pria dihadapannya ini.


"Bagaimana sayang kejutan dariku." Ucap Aaron membelai lembut kedua pipi Maya, Membuat Maya seperti tersengat aliran listrik, Entah mengapa rasanya ia ingin sesuatu yang lebih dari ini.


"Ar.. Bagaimana bisa.?" Ucap Maya terhenti ketika jari Aaron menempel pada bibirnya.


"Jangan panggil Aaron sayang, Panggil Hubby coba?." Timpal Aaron tak lupa dengan senyuman menawannya.


"Tapi.."


"No..no.. Dulu kamu manggil aku Aa sekarang aku ingin panggilan yang berbeda coba ucapkan." Timpal Aaron membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah wanitanya hingga berjarak beberapa centi.


"Hubby." Singkat Maya.


***Cuuupppp.


" M***anisnya." Ujar Aaron setelah dirinya mencium Maya secara mendadak.


Membuat yang di cium salah tingkah, wajah memerah tercetak jelas di paras ayunya.