
Keluarga inti Addison sangat antusias mendapat kabar bahwa putrinya telah mengingat semuannya setelah hampir tiga bulan tak mengingat tentang masa lalunya
Aaron membuatkan sang istri susu dengan mencampurkan obat yang tadi sudah ia beli di sewaktu pulang dari kantor. Aaron dengan matangnya merencenakannya hingga dirinya turun tangan sendiri dalam melakukannya, Ia takut jika rahasianya akan terbongkar sebelum misinya terselesaikan.
"Maafkan aku sayang, Ini demi kebaikan kita." Ucap Aaron menuangkan serbuk di dalam gelas susu yang tengah di sajikannya dengan rasa bersalahnya.
"By..." Panggil Maya membuat Aaron membalikkan badanya saking terkejut bukan main, Apa sang istri melihat apa yang di lakukan pikirnya.
"S-ayang." Ujar Aaron gugup.
"K-mu ngapain kesini." Tanyanya lagi sembari melangkahkan kakinya ke arah Maya.
"Kamu kenapa sih,? Kayak orang ketahuan selingkuh aja pakek gugup lagi." Tanya Maya memicingkan matanya, Menurutnya Aaron aneh malam ini apalagi segitu terkejutnya dirinya hingga berbicara tergagap padanya.
"Lebih dari itu sayang, mungkin akan membuatmu kecewa nantinya jika tau apa yang ku lakukan." Batin Aaron dengan rasa bersalahnya.
"Woooww susu, Kamu buat sendiri by. Aku cicipin ya.?" Tanya Maya ketika Aaron sudah di depannya dan netrany melihat meja dapur terdapat susu yang sudah siap diminum.
Ia melangkahkan kakinya melewati Aaron yang membeku di tempat, Hingga di persekian detik kepala Aaron menoleh mendapati sang istri hendak meminum susu yang di buatnya tadi.
"Tunggu." Teriak Aaron membuat Maya urung meminum susunya.
Aaron melangkahkan kakinya ke arah sang istri dengan segelas susu di genggamannya, Aaron mengambil alih susu tersebut dengan tatapan bersalahnya pada sang istri.
Entah mengapa rasanya seperti tak tega jika sang istri meminumnya padahal sedari tadi ia berusaha memantapkan rencananya.
"Apa sih by." Ucap Maya jengkel dengan sikap Aaron, Maya mengambil merampas lagi susu yang di genggaman Aaron lalu meminumnya hingga tandas.
"S-ayang." Ucapan Aaron tercekat di tenggorokan menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya kala Maya meminumnya tanpa jeda hanya dengan sekali teguk.
"Lebay deh ekpresinya, cuma minum susu doang bukan racun juga." Ucap Maya menaruh gelasnya dan berlalu pergi menghampiri kedua orang tuanya yang sudah siap menyantap hidangan makan malamnya.
Deggggg
Ucapan Maya sanggup membuat diri Aaron membeku kesekian kalinya, Aaron berharap takkan terjadi sesuatu yang buruk ke depannya.
"Tuhann dosakah aku, Enggak... ini yang terbaik gua gak perlu nyesel ini udah jadi yang terbaik untukku dan istriku. Lu harus yakin Aaron dengan rencana Lu selanjutnya." Batin Aaron memantapkan hatinya kembali.
"By sini dong, Udah pada nungguin juga." Teriak Maya di ruang makan karena Aaron tak kunjung datang. Karena ruang makan dan dapur hanya tersekat dinding pemisah walau tak berteriapun Aaron akan mendengarnya, itulah Maya jika ingatannya kembali takkan sungkan pada kedua mertuanya yang dianggap orang tuanya sendiri.
Walaupun begitu Maya tetap ramah dan sopan pada mereka berdua berkat merekalah Maya bisa ke titik sekarang ini. Selalu menjadi orang terdepan jika dirinya ada masalah selain Tio ayah angkatnya.
"Ishhh kamu nih, ngapain aja sih di dapur betah banget kayaknya." Ucap Maya ketika Aaron sudah duduk di sampingnya, Sembari tangannya mengmbil makanan untuk sang suami.
"Gak ada sih. Cuma pengen aja di dapur." Ucap Aaron membelai surai hitam milik sang istri.
Hingga sampai ke titik ini, Dimana keduanya menjadikan rumah tangga yang harmonis tanpa kendala apapun.
Sepasang suami istri yang bisa di sebut orang tua Maya dan Aaron masih tak tau jika bahaya yang sempat hilang bak di telan bumi kini hendak menghampirinya.
Bukannya tak mau tau, tetapi Aaron memeng sengaja merahasiakannya pada mereka. Sebab ia enggan membuat orang tuannya berfikir ektra tentang masalahnya.
Cukup sang sahabat yang selalu ada untuknya menjadikan mereka tempat berkeluh kesah bersama.
Mereka manyantap hidangannya secara khidmat tanpa ada satupun yang berbicara karna Arkan sangat tak menyukai jika ada seseorang mengobrol di kala makan. Hanya dentingan sendok yang saling bersautan di meja makan tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian dentingan sendok sudah tak terdengar lagi dan kini terdengar langkah kaki mengarah ke ruangan keluarga. Itu berarti sesi makan malam telah usai dan akan di gantikan oleh obrolan ringan mereka.
"Nginep sini ya bun." Ucap Maya memeluk Talia dari samping kala mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu nihh yaa makin manja aja sih kayak orang lagi hamil, Gak biasanya sebelum lupa ingatan." Ujar Talia membalas pelukan Maya dari samping.
Degggggg...
Jangtung Aaron dan Maya saling berpacu dengan kerasnya hingga mata mereka saling bersitubruk dengan kekhawatiran yang melanda hati dan fikiran masing- masing.
"***Apa Hubby masih tak mau punya anak dariku." Batin Maya yang memandang suaminya kala melihat tatapan Aaron yang seperti sangat khawatir dengan hal itu.
"Jangan Tuhan, Jangan dulu biarah aku menyelesaikan masalahku dulu." Batin Aaron yang melihat tatapan Maya seperti tengah bingung***.
"Kok pada diem sih, Ohh Bunda tau jangan- jangan kalian menundanya yah. Hayo ngaku." Tanya Talia ketika Aaron dan Maya sama- sama terdiam hingga ia melepas pelukannya dan menatap putra putrinya secara bergantian.
"E-ngg...."
"Belum rezekinya bun, Nanti juga hamil. Sabar dulu." Ucap Aaron sangat tenang walau rautnya tak seceria barusan.
"Oke bunda dan papa tunggu kabar baiknya, Jangan lama- lama. Ohya Nak, Kami pulang dulu ya sudah malam juga takutnya adek kamu nanti susah bangunnya." Ucap Talia melihat jam cantik yang melingkar di tangannya.
"Yahhh bunda, aku masih kangen. Paa nginep ya.." Ucap Maya memelas agar orang tuannya menginap.
"Noo.... Aku gak mau mengganggu kalian perjaka tua dan kakak cantik. Kata bunda kalian harus banyakin berdua biar Aryan punya temen main." Ucap polos si bocil dengan tampang sangarnya, membuat Arkan, Maya dan Aaron melototkan matanya namun tidak dengan Talia yang santai dengan cengirannya.
"Bun.." Sergah Arkan bertanya pada sang istri.
"Cuma gitu doang kok pa, Gak mengontaminasi otak Aryan juga. Baru kalau kayak Aaron secara live menunjukkan aksinya di depan Aryan baru itu menyesatkan otaknya." Ucap Talia membela diri.
"Heehh bocil. Aku tuh bukan perjaka tua ya, Tuh istriku. Bunda sihh ngajarin Aryan kayak gitu, Aku juga udah punya bini juga masih di katain perjaka tua." Ucap Aaron mengerucutkan bibirnya.
.