
Setelah perdebatan di meja makan tadi kini antara Aaron dan Maya saling diam di dalam mobil. Sebenarnya Aaron bingun kenapa Maya mendiaminya, Apa ia punya salah pikir Aaron.
''Amy.'' Ujar Aaron meraih tangan Maya.
Maya hanya diam saja tak menhiraukan panggilan dari seseorang yang sedang mengemudi.
'' Sayang.'' Aaron kembali memanggil Ia menarik tangan Maya, Alhasil Maya menoleh.
''Kamu kenapa???'' Tanya Aaron ia memiringkan badannya ketika mobil sudah menepi menurutnya agar dengan leluasa melihat Maya .
''Malu.'' Sahut Maya menundukkan kepalanya.
'' Apa yang membuat kamu malu hah.'' Sahut Aaron memegang dagu Maya agar melihat kearahnya.
''Mmm... itu. Mmm kemaren bunda yang liatin kita begituan terus papa juga udah mergokin kita tadi. Aku malu A'' Sahut Maya menutupi wajahnya dengan tangannya. Sungguh memalukan menurutnya.
Aaron hanya membalas dengan tawa lepasnya membuat Maya dongkol dibuatnya.
''Ihh ngeselin malah ketawa lagi. Jahat banget jadi orang udah tau aku malu setengah mati mala diketawain.'' Maya merajuk. Ia kesal, Aaron yang menurutnya tokoh utama dalam hal membuat dirinya malu, malah seperti tak ada beban.
''Heyy dengerin aku'' Aaron mengambil tangan Maya namun dengan segera Maya menghempaskannya.
''Idihh ngambek'' Seru Aaron.
''Bodo'' Timpal Maya. Aaron memegang dagu Maya lagi agar dirinya melihatnya meskipun dalam mode marah.
''Kalau aku gak lakuin kayak gitu mungkin kita gak bakalan nikah secepat ini sayang. Bayangkan saja mungkin bakalan nunggu berbulan- bulan lamanya.'' Tutur Aaron ia membelai wajah ayu Maya.
''Tapi gak gitu juga A , Aku malu kalau ketemu Papa sama bunda nanti.'' Timpal Maya .
''Mungkin itu sudah kodrat kita sayang jalani aja kan tadi bunda bilang pernikahan kita 1 bulan dari sekarang jad kamu gak usah berfikir yang aneh- aneh. Tinggal duduk manis semua akan siap dengan sendirinya.'' Papar Aaron tak lupa ia mengecup bibir Maya.
Arkan dan Talia berencana akan menyatukan cinta mereka sebulan lagi.
Melihat kedekatan dan sikap mereka membuat Talia dan Arkan mempercepat pernikahannya. Ia takut putra putrinya sampai melamapaui batasnya.
Segala persiapan sudah di urus oleh para orang tua dari weeding organizer , Catering, dan segalanya. Hanya cincin dan fighting baju calon pengantin sendiri yang akan mengatasi.
Kini kuda besi milik Aaron sudah mendarat sempurna di basement Aa corp. Aaron turun disusul Maya juga ikut turun, Aaron memberikan kunci mobil mobil pada security untuk memparkirkan mobilnya.
Berjalan dengan langkah dinginnya , Membuat semua karyawannya yang berpapasan dengannya menunduk memberi hormat.
Maya mengekor sang atasan meski sedikit ribet karna langkah Aaron sangatlah lebar, Namun ia tetep menyeimbangkan langkahnya.
Tingggg..
(Pintu lift terbuka.)
Hanya mereka berdua di dalam lift sebab mereka menggunakan lift khusus direktur.
Ketika pintu lift tertutup, dengan gesit Aaron menarik Maya dalam pelukannya. Memeluk dari belakang, Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Maya. Membuat sensasi geli bagi yang dipeluk, Maya berusaha melepaskan diri dari dekapan Aaron . Namun Aaron dengan gemas menghisap leher itu hingga merah keungu-unguan.
'' Aw A sakit.'' Pekikan Maya ketika Aaron berhasil membuat tanda merah itu.
''Masih pemanasan sayang tunggu bulan depan ya, Aku akan bikin kamu gak bisa berjalan.'' Sahut Aaron sembari meremas gunung kembar milik Maya.
''Aw A. Kamu mesum banget sih A.'' Maya merintih lagi . Ia tak habis pikir dengan tingkah Aaron yang teramat mesum.