
Setelah lima hari lamanya berada di negara India hanya untuk membeli jaleby dan ladu pesanan sang jabang bayi yang berada di kandungan wanita yang di pujanya. Dengan semangat Rangga menampakkan kakinya di negara Indonesia, Rangga tak sabar reaksi Maya kala dirinya telah membawakan pesanan yang di inginkankannya.
Pelukankah atau ciuman kah yang akan diberikan wanita itu nantinya, kala melihat buah tangan yang diinginkannya darinya.
Dengan bibir yang terus mengembangkan senyumannya, Rangga menapaki lorong-lorong rumah sakit dengan langkah tak sabaran.
Rindu rasanya dengan wanita yang selalu hadir dalam mimpinya. Apalagi kini wanita tersebut sudah hampir menerima kehadirannya.
"Cantik, tunggu aku. " Guman Rangga disela langkahannya.
ceklekkk....
Rangga memutar handle pintu dengan pelan, takut seorang yang berada di sana masih tengah tertidur lelap. Ia menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan dengan khas cat putih tersebut. Hening, sepi dan rapi itulah yang ada di fikiran Rangga namun dirinya berusaha berfikir positif dengan mengecek beberapa tempat di dalan ruangan tersebut.
"Cantik kamu dimana? " Panggil Rangga membuka pintu kamar mandi dan tak menemukan tanda- tanda Maya ada disana.
"Cantik. " teriak Rangga yang lagi-lagi tak menemuakn batang hidung Maya.
Rangga berlari keluar karena seseorang yang dicarinya tak ada di dalam ruangannya, Rangga melangkahkan kakinya ke ruangan dokter yang menangani Maya selama ia tak ada.
Brakkkk...
Dengan kasar Rangga membuka pintu ruangan Dokter tersebut tanpa hati nurani, dirinya juga mencekram kerah kemeja yang di pakai sang dokter.
"Dimana wanitaku. " Sarkas Rangga dengan kilat kemarahan di matanya.
"T-uan sabar lah, kami bisa jelaskan. " Ujar sang dokter dengan tergugu, takut sudah pasti.
"Mau sabar bagaimana hah, sedangkan wanitaku hilang tak tau rimbanya. " Sergah Rangga semakin mencengkram kemeja sang dokter.
Bugghhhh...
Satu bogeman mentah mendarat sempurna di pipi sang dokter hingga dirinya terpental ke lantai. Rangga kembali mencekram kerah kemeja sang dokter dengan duduk di atas tubuhnya.
"Dimana wanitaku. " Sarkas Rangga tanpa mau mendengarkan penjelasan sang dokter.
"N-ona Maya kabur tuan. " Timpal sang Dokter menahan sakit dipipi kirinya akibat serangan Rangga.
"Kenapa bisa kabur hah..? Rumah sakit macam apa ini. " Teriak Rangga membuang benda- benda di atas meja sang dokter termasuk laptop dan beberapa berkas penting.
Seorang satpam yang mendengar kegaduhan di ruangan kerja sang Dokter membuatnya membuka handle pintu tanpa mengetuknya. Dan betapa terkejutnya dirinya kala sang Dokter terduduk di lantai dengan beberapa kertas berceceran di lantai.
Rangga memberhentikan aktivitasnya kala satpam rumah sakit menatap tajam kearahnya.
"Mau apa? mau ikut campur urusanku hah.. " ucap Rangga meraih kerah seragam sang satpam.
"Tuan tolong jangan bikin kegaduhan disini. " Ujar satpam dengab tangan gemetar melihat tatapan mengerikan Rangga kearahnya.
Bugghhhhh...
Rangga menendang perut satpam hingga dirinya menabrak dinding di belakangnya. Ia berlalu meninggalkan tempat yang sudah tak karuan oleh ulahnya.
Fikiran kacau terus saja hinggap di kepalanya, mengapa Maya bisa kabur dan siapa yang telah membantunya pikir Rangga mengeram frustasi.
Akankah Maya pulang kekediaman orang tua Aaron tapi kenapa bodyguard yang disuruhnya memata- matai Maya tak mengabarinya.
Dirinya memang sengaja mengiyakkan ucapan Maya agar tak ada bodyguard yang menjaganya. Tetapi Rangga diam-diam menyuruh seseorang untuk memantau keadaan Maya selama dirinya tak ada.
"Siapa yang ada di balik semua ini. " Ujar Rangga menelungkupkan wajahnya di setir kemudi.
Harapan yang akan dimulainya kini pupus dengan ditinggalkan Maya dari sisinya. Padahal Rangga berniat mempersunting Maya dan menjadikan anak yang di janin Maya adalah anak kandungnya walau bayi itu hasil dari percintaan Maya dan Aaron sang musuh.
Dengan mengendarai mobil dengan ugalnya, Rangga sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Siapa tau nantinya dirinya akan menemukan wanita yang membuatnya tak karuan.
"Apa jangan-jangan ini kelakuan tua bangka itu. " Ujar Rangga menggenggam setir dengan erat. Jika itu benar adanya, dirinya akan membunuh ayah kandungnya sendiri dengan tangannya tak peduli dengan statusnya yang masih sedarah dengannya.
...----------------...
Dikediaman yang sangat sederhana namun asri, Maya dan Nina tengah sibuk membuat kue yang akan dihidangkan dan dimakan sendiri.
Merasa dirinya bosan ketika terdiam, Maya berinisiatif mengajak Nina membuat kue yang dia bisa. Walau dapur yang semula rapi kini sudah acak kadut oleh ulah Maya dan Nina.
"Non, Ini di kasih pewarna apa ya enaknya.?" Tanya Nina yang bingung dengan pilihan kedua warna yang nampak indah di matanya.
"Merah apa hijau yan non. " Tanyanya lagi karena Maya tak menjawabnya.
"Item juga boleh mbak. " Sergah Maya cekikan dan itu membuat Nina mendelkk dengan usul nonanya.
"Bukan kue namanya non, tapi tai sapi dong. " Ujar Nina mengerucutkan bibirnya dan sukses membuat Maya tertawa lepas dengan tingkah absurd Nina.
"Udah pernah coba. " Tanya Maya dengan tawa yang masih melekat di bibirnya.
"Ihh nona, mana ada aku makan tai sapi. Yang benar saja dong. Mending makan puding aja daribada tai sapi. " Ungkap Nina menuangkan pewarna berwarna coklat di adonannya tersebut hingga menampakkan warna yang membuat mata merem melek dibuatnya.
Nina menggaruk kepalanya yang tak gatal karena pewarna yang dituangnya terlalu banyak hingga menampakkan warna coklat kehitaman. Dirinya takut jika Maya marah nanti kala melihatnya.
"Kenapa. " Tanya Maya kala Nina tak kunjung memasukkan adonannya pada oven yang sudah panas.
"Non warnanya kayak tai sapi beneran. " Ujar Nina dengan cengirnnya, Sontak saja membuat Maya menoleh ke arah adonan yang tak berbentuk itu.
Tanpa melihat raut keputus asaan di wajah Nina, Maya memasukkan adonan yang sudah di letakkan di loyang tersebut masuk ke dalam oven.
"Kita oven aja ya mbak, biarpun bentuk dan warnanya kayak tai sapi tapi kita lihat rasanya ,bener nggak?" Tanya Maya dengan sembari cekikikan membuat Nina bertambah mengerucutkan bibirnya.
"Tai sapi kalau dimasak enak non.?" Tanya Nina dengan nada kesalnya karena telah gagal membuat kue.
Nina memang di utus Ben hanya untuk bebersih dan menemani Maya karena Ben yakin jika Maya takkan mau jika ada yang memasak untuknya.
Karna selama menjadi istri Aaron, Ben selalu menjadi pendengar setia cerita yang selalu terlontar dari mulut Aaron dan itu tak luput tentang istrinya Maya.
Dengan sisa tawanya, Maya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Nina. Maya tau jika Nina tak handal membuat kue tapi dengan kecekatannya membuat Maya senang dengan usahanya.
Maya bahagia ketika teman yang tinggal bersamanya sudah dianggapnya sebagai teman, tempat berkeluh kesahnya selama disini.