
Lima bulan kemudian....
Perut rata Maya sudah mulai nampak menyembul di dalam pakaiannya, Selama umur enam bulan kandungannya tak sekalipun dirinya lemah seperti dulu setelah meminum obat yang diam-diam diberikan Aaron.
Maya sngat bersyukur karna kehamilannya tak menyiksanya apalagi dirinya masih tinggal di tempat yang Ben sediakan.
Tiara dan Tio kadang juga menyempatkan diri melihat kondisi Maya. Dan kadang juga Bunda Talia dan papa Arkan menjenguknya dan memastikan bahwa Maya dan calon cucunya dalam keadaan baik.
Hanya Nina yang menjadi tempat berkeluh kesahnya dan curhatan yang membuat hatinya lega. Apalagi selama dua bulan terakhir ini ada sosok misterius yang selalu mengawasinya dan kadang pula ada paket misterius berupa bunga dan berbagai macam hadiah untuknya.
Meskipun was- was namun Maya meyakinkan dirinya bahwa yang mengawasinya takkan macam- macam padanya dan yang di yakininya adalah orang suruhan Ben ataupun Noah.
"Non, Ada paket lagi nona. " Ujar Nina menghampiri Maya yag sedang terduduk di ruang keluarga. Kakinya akhir- akhir ini terasa lelah kala terlalu banyak bergerak.
"Paket apa lagi mbak. " Tanya Maya yang melihat Nina berjalan ke arahnya.
"Gak tau nona. " Ucap Nina memberikan kotak keci itu pada Maya, Sudah di bayangkan berapa kotak yang sudah di terima Maya selam dua bulan terakhir ini dan itu tak termasuk bunga yang selalu di temukannya di depan terasnya.
Namun yang di bingungkannya adalah, nama pengirinya tak tertera di bunga dan paketnya.
Maya membuka surat tersebut dengan pelan. Mata Maya berembun kala membaca kata demi kata yang tertulis dari lembaran surat tersebut.
««««
Tidak ada perjuangan tanpa adanya rasa sakit, akan tetapi percayalah bahwa rasa sakit itu hanya sementara dan rasa bahagia akan terasa selamanya.
Kebahagiaan harus terus dirasakan dalam perjalanan hidup, dan bukan hanya menjadi tujuan hidup belaka.
««««««««
Maya membacanya dengan seksma, Setiap kali ada semacam surat di dalam kotak tersebut. Kata-katanya selalu menyayat hatinya. Sepertinya yang mengirimkannya tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Non, kenapa.?" Tanya Nina yang duduk disebelah Maya sembari memperhatikan raut wajahnya yang sudah mendung.
"Siapa sih mbak yang ngirimin ini, Kayaknya dia tau banget deh sama kehidupanku. " Cecar Maya , Ia menaruh lagi surat itu pada tempatnya namun netranya terhenti pada kertas di bawahnya.
"Jika ingin tau aku, tunggulah aku di jam 22.30. Jangan takut, aku takkan menyakitimu. Jangan kamu kunci pintu kamarmu, Percayalah jika aku bukanlah orang jahat. "
Isi tulisan tinta hitam itu sanggup membuat jantung Maya berdegup kencang. Berarti yang mengirim sesuatu untuknya sangat mengetahui seluk beluknya bahkan kamarnya pun tau.
"Apa mungkin dia sama dengan seseorang yang sering aku lihat dan selalu mengawasiku. " Batin Maya meremas tulisan bertinta hitam tersebut.
"Non, kenapa? " Tanya Nina yang membuat Maya terkaget karena asyik dengan lamunannya.
Maya bingung harus menceritakan pada Nina atau tidak namun fikirannya mengucapkan agar tak bercerita pada Nina takutnya nanti Nina heboh dan ketakutan. Biarlah dirinya yang akan menguak sendiri orang misterius itu.
"Tidak apa- apa mbak., Aku masuk dulu ya mbak. Capek ngantuk lagi. " Ujar Maya tergesa - gesa masuk ke kamarnya.
Maya menutup rapat pintunya, dirinya mondar- mandir dikamarnya dengan rasa gelisahnya.
Matanya bergulir pada jam dinding yang menunjukkan pukul 19.45, berarti kurang tiga jam lagi orang misterius itu akan datang ke kamarnya.
Dengan jantung yang terus berpacu dengan kencangnya terus saja membuat Maya ketakutan. Tapi mau bagaimana lagi, Dirinya harus berani.
Menghembuskan nafas beberapa kali agar degub jantungnya tak semakin memburu.
Maya merangkak di kasur yang lumayan untuk dua orang tersebut, menarik selimut hingga batas lehernya.
Dengan keadaan remang- remang Maya berusaha memejamkan mata walaupun kadang matanya menyipit melihat sekitarnya. Hingga dipersekian menit mata yang berat itu mampu berselancar di alam mimpi.
***Tikkkk
tikkk
tikk***
Jarum jam terus saja berputar hingga tepat pukul 22.30 bersamaan dengan suara pintu kamar terbuka dengan perlahan.
Muncullah seseorang tinggi tegap dengan pakaian hitam tak lupa penutup wajah yang hanya menampakkan mata dan bibirnya.
Bibirnya mengembangkan senyumannya kala melihat wanita yang diincarnya tengah tertidur dengan lelapnya. Apakah dirinya tak takut jika yang datang adalah penjahat atau semacamnya hingga tak menampilkan rasa was - was pada dirinya.
Pria berbadan tegap dengan urat-urat yang menonjol di kedua lengannya membuat siapa saja tak mampu menolak pesonanya.
Dirinya mendudukkan pantatnya di tepi ranjang, memandang dengan lamat wanita yang membuat hatinya bergemuruh ingin selalu menyentuhya. Apalagi dengan perut buncitnya semakin membuatnya terlihat sangat seksi di matanya.
Cuoppp...
Satu kecupan dengan ******* kecil diberikan untuk wanita tidur di hadapannya. Hingga membuat Maya terbangun karna merasakan bibirnya basah disertai gigitan kecil.
Mata Maya membulat sempurna kala matanya melihat sesosok pria berotot di hadapannya. Apalagi pria tersebut hanya memakai kaos ketat tanpa lengan hingga tercetak jelas di penglihatan Maya.
Maya berusaha duduk dan bersandar dikepala ranjang, Tanganya ingin menggapai penutup wajah itu namun diurungkan kala tanganny sudah berada di genggaman pria di hadapannya.
"Kammppttgg.. " Belum sempat Maya berucap, bibir pria tersebut menyambar bibirnya dengan sensul. Entah mengapa rasa cumbuan yang diberikan oleh lelaki asing di depannya ini sangatlah dirindukannya.
Maya wanita dewasa yang pernah merasakan pengalaman bercinta dengan suaminya walau hanya beberapa kali. Berbulan- bulan di tinggal pergi untuk selamannya membuatnya seakan terhipnotis dengan sentuhan pria di hadapannya kini.
Pria tersebut mengakhiri cumbuannya dengan dahi saling menempel dan keduanya berusaha mengatur nafas yang tertahankan oleh gairah.
"Kamu siapa.? " Tanya Maya dengan lembut tangannya kembali meraih penutup wajah namun lagi- lagi tangan si pria menghalanginya.
Pria tersebut menggeleng, Hingga dengan cepat tangan pria tersebut menyusup ke dalam daster yang di kenakan Maya.
"Akhhh... J-angann... " pekik Maya berusaha menghalangi aktivitas tangan pria asing di depannya.
Sipria membungkam bibir Maya dengan bibirnya agar tak mengeluarkan suara. Tangan Maya di tuntun melingkar di lehernya, Entah bagaimana bisa daster yang di pakai Maya sudah robek dan tak berbentuk.
"Aku akan membantumu membuat jalan dengan mudah sayang. Agar nanti kamu tidak tersiksa. " Ucap pria tersebut dengan nada beratnya.
Degggg...
"Suara itu...." Batin Maya berperang dalam hatinya, tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar ini namun suara itu membuatnya berfikir keras mengingatnya, hingga tiba-tiba saja benda tumpul yang entah bagaimana bisa hendak mengoyak intinya.
Maya memekik dengan benda besar nan tumpul itu dengan ganasnya memporak porandakan hati dan intinya.
"Ouuhhhh..... " Desah Maya kala benda itu sudah masuk secara sempurna pada intinya