
Maya terpaksa menginap di kediaman Noah dengan paksaan dari Tiara dan Ayahnya yang baru pulang bekerja. Padahal Maya berinisiatif menginap di Apertement yang dulu pernah di tinggalinya, Namun apalah daya saking capeknya mendengar omelan Tiara, hingga memutuskan untuk tetap tinggal.
Ditaman belakang kini sepasang ayah dan anak itu saling mencurahkan isi hatinya, apalagi Maya yang meminta nasehat dari sang Ayah. Apakah jalan yang di ambilnya sudah benar atau malahan menjerumuskan dirinya ke hal- hal yang tak diinginkan.
"Apakah aku salah yah meminta perceraian itu?." Tanya Maya dengan tatapan sendunya sembari bersandar di bahu sang ayah.
"Jangan terlalu cepat mengmbil keputusan nak, Ingatlah kamu dan Aaron sudah banyak melewati ujian dalam menyatukan cinta kalian. Apakah itu tak bisa membuatmu berfikir ulang dengan keadaan yang ada. Apalagi umur pernikahan kalian masih seumur jagung, Bicaralah dari hati ke hati.
Jangan sampai pengorbananmu selama ini sia- sia" Papar Tio membelai rambut hitam legam putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi yah Aaron gak mau punya anak, Sedangkan aku sekarang mengandung anaknya. Aku gak mau nantinya anakku jadi korbannya yah, yang tak bisa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya." Terang Maya bangkit dari posisi duduknya dan kini ia berdiri membelakangi ayahnya yang tengah duduk .
"tapi nak jangan berfikir sedemikian dulu, Siapa tau Aaron ada alasan lain." Ujar Tio meyakinkan putrinya.
"Alasan apa lagi yah, Apa perlu alasan jika dia mau membunuh anaknya sendiri. Dimana hati nuraninya sebagai seorang ayah." Terang Maya membalikkan tubuhnya dengan linangan air mata.
Seketika tubuhnya membeku kala pria jangkung nan kekar berada di belakang ayahnya dan memandangnya dengan ekpresi yang tak biasa.
Penampilan yang lusuh dengan rambut gondrong yang acak- acakan. Dengan raut wajah yang juga nampak kelelahan.
"Mau apa kamu kesini." Ucap Maya dengan nada meninggi sembari menyorotnya dengan mata kekecewaan.
Tio menoleh ketika tatapan putrinya mengarah ke arah belakang tubuhnya apalagi nada suara yang tak bersahabat.
"Nak Aaron." Ujar Tio menghampiri menantunya yang penampilannya sudah kacau balau.
"Maaf nak, jangan diambil hati ucapan putri ayah ya nak." Ujar Tio mengelus bahu Aaron yang masih setia memandangi wanita yang seharian ini membuatnya kebingungan ,Hingga membuatnya seperti orang gila menurutnya
"Yah, Jangan meminta maaf sama dia. Gak guna." Ucap Maya begitu kentara jika dirinya sangat membenci suaminya.
"Jaga bicarmu nak, Dia suamimu yang patut kamu hormati." Ucap Tio dengan nada tak kalah tingginya dengan Maya.
Hal itu membuat Maya menunduk karena baru sekarang inilah ayah yang biasanya berbicara lembut kini membentaknya hanya karena Aaron.
"Berbicaralah dari hati ke hati, Ayah yakin kamu tak bermaksut melakukannya." Ujar Tio pada Aaron, Dirinya sebisa mungkin tegas dengan masalah yang tengah di hadapai putri- putrinya apalagi Aaron sangat mencintai putrinya Maya afriaresa
Tio melangkahkan kakinya pergi dari taman tersebut meninggalkan kedua pasangan suami istri yang bermasalah.
Mendengar derap langkah kaki menjauh Maya mendongakkan kepalanya. Dan benar saja dugaannya bahwa ayahnya meninggalkannya bersama pria dengan segenap kekecewaannya.
Maya melebarkan langkah kakinya berniat menyusul sang ayah namun ketika melewati sisi Aaron yang membelakangi pintu, Sebuah tangan kekar menariknya membawanya dalam pelukan hangatnya.
"Lepas brengsekkk." Pekik Maya kala tangannya tak bisa bergerak karna Aaron tak memberi ruang untuk melawannya.
"Jangan tinggalkan aku sayang, Aku mohon. Maafkan aku." Ucap Aaron, Sedari tadi dirinya terdiam baru kali ini dia berbicara dalam pelukan sang istri dan jangan lupakan wajah keputus asaannya.
"Lepass." Maya tak merespon ucapannya yang ia mau kini hanya bisa terlepas dari pelukan pria yang membuatnya kecewa dengan sikapnya.
"Tampar aku, pukul aku atau sekalian bunuh aku jika itu membuatmu bisa memaafkanku." Timpal Aaron melerai pelukannya sembari memegang bahu sang istri dengan kuatnya. Maya memalingkan wajahnya, terlalu sakit rasanya melihat kerapuhan di mata sang suami namun dirinya berusaha kuat agar air mata yang sedari tadi tumpah takkan tumpah lagi.
"Kamu mau aku memaafkanmu hmm.?" Tanya Maya memberanikan diri melihat wajah sayu suaminya.
"Iya sayang apapun yang kamu minta akan aku kabulkan asal kamu mau memaafkanku dan kita mengulangi dari awal lagi." Ujar Aaron angat antusias sembari menganggukkan kepalanya.
"Ceraikan aku."
Dua kata itu mampu membuat tangan kokoh yang setia bertengger di bahu Maya meluruh seketika.
Air mata yang sedari tadi di tahannya meluruh sudah di pipinya. Harapan yang tadi di pupuknya sudah layu sebelum disirami.
"Jangan pernah berbicara seperti itu sayang itu takkan pernah aku lakukan." Timpal Aaron mengepalkan tangannya, bukankah itu perkataan yang sangat menyakitkan. Apalagi yang mengucapkan seseorang yang sangat di cintainya.
"Terserah apa katamu, aku akan tetap mengurusnya meskipun tak melibatkan dirimu." Ucap Maya menyingkirkan tubuh Aaron yang menghalangi jalannya.
Hatinya sakit ketika berlama- lama memandang wajah sang suami yang nampak rapuh.
Apalagi dirinya mengucapkan kata-kata keramat dalam sebuah pernikahan, hatinya sangat tercubit dengan ucapannya apalagi tenggorokannya terasa tercekat dengan ucapannya sendiri.
"Jika itu maumu, Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya sebelum aku akan pergi mejauh dari mu sejauh- jauhnya." Teriak Aaron sebelum punggung Maya menghilang di depan matanya. Seakan pasrah dengan permintaan sang istri untuk mengakhiri hubungannya.
Semua salahnya, mungkin ini jalan yang terbaik untuk Maya yang selalu di kecewakannya. Walau permintaan itu sangat berat namun apalah daya jika wanitanya enggan mengulang lagi kisah asmaranya.
Biarlah dirinya yang menanggung kesalahannya dengan ditinggalkannya oleh wanita tercintanya. Entah bagaimana nanti jadinya benih yang mulai tumbuh di rahim istrinya, dan sebisa mungkin Aaron meluangkan waktunya untuk anaknya kelak.
Maya menoleh melihat wajah sang suami yang akan menjadi mantan suaminya itu. Tanpa menggubris ucapannya , Maya kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Noah.
Belum selangkah Maya akan menginjakkan kakinya ke lantai marmer tersebut, Sebuah tembakan berdenging di telinganya ditambah lagi dengan pekikan yang sangat familiar di indera pendengarannya.
Dorrr......
"Akhhhh...."
Spontan saja Maya menoleh ke belakang dan seketika matanya membulat kala netranya melihat Aaron mengeluarkan darah dari bibirnya dengan tatapan masih melihat ke arahnya. Maya masih mematung di tempat dengan kejadian di depannya ini. Dimana suami yang baru saja dicampakkannya tengah menahan sakit di bagian punggungnya.
Dorr***r....
Satu kali suara temba***kan menggelegar di indera pendengarnannya hingga membuatnya bangun dari mematungnya. apalagi kini Aaron sudah luruh ke tanah dengan wajah menunduk sembari mengepalkan tangannya.
"By..." Teriak Maya berlari ke arah Aaron yang sangat menderita tersebut.
Bukanya senang dengan kehadiran Maya, Aaron malah mengusir sang istri karena takut seseorang yang memegang kendali peluru yang melesat di punggungnya berusaha melesatkan juga ke arah istri tercintanya.
"Pergi..." Bentak Aaron kala Maya sudah mendekapnya dengan erat. Aaron tak mau jika istrinya akan terluka juga sama sepertinya .
"Berhenti kau brengsekk." Teriak Maya yang melihat sekelebat bayangan hitam berlari dari semak- semak taman belakang. Aaron sebisa mungkin melihat arah mata Maya yang ditujunya.
"Bitchh." Umpat Aaron dalam hati ketika tau siapa dalangnya.
"By,.... Noah , Ayahh tolonngggg.." Teriak Maya kala tubuh Aaron melemas dengan darah terus keluar dari bibir dan punggungnya.
"Peluklah aku sayang sebelum kamu mengakhiri semuanya." Ucap Aaron pelan dengn bersusah payah menahan rasa sakitnya.
"Takkan pernah by, Aku janji itu takkan terjadi. Dan kamu harus bertahan ya by... Tolonngggg." Ucap Maya memberi energi positif agar Aaron bisa kuat dengan rasa sakit yang di deritanya.