
Tengah malam Maya mendengar ketukan dikaca cendela. Mengucek matanya , dirinya mengumpulkan kesadarannya agar bisa mendengar dengan jelas.
Toookk...tookkk.
"Sayang bangun." Suara Aaron pelan dirinya mengetuk kembali kaca cendela.
Maya beranjak dari atas kasurnya, Menyibak tirai cendela yang selalu di tututupnya ketika malam menjelang.
Dirinya mendapati Aaron memakai kaos polonya sembari tersenyum.
"Buka sayang." Pinta Aaron.
Ceklekk.
Ketika cendela terbuka Aaron langsung memeluk wanita yang dirindukannya. Hingga Maya terhuyung ke belakang saking kerasnya benturan tubuh Aaron.
"Kangen sayang" Ujar Aaron setelah pelukannya terlepas, Dirinya memandang wajah yang sedari pagi dibayangkannya.
Cuppp.
Kecupan mendarat sempurna dikening Maya. Siwanita mendalami kelembutan kecupan dipelipisnya sembari memejamkan mata.
"Kok lewat cendela A?"Tanya Maya dirinya mendudukkan dirinya di sofa dekat dengan cendela.
"Aku kan tadi bilang pintunya jangan dikunci biar Aku gak bangunin kamu sayang." Aaron membelai wajah sang wanita, Dirinya hendak mencium bibir wanitanya. Seakan Maya mengerti ,dengan gerakan cepat Maya membekap bibir Aaron .
"Jangan mulai mesumnya A. Kamu kebiasaan deh, kalau udah kayak gitu pasti tangannya gak bisa diem deh." Terang Maya yang melihat Aaron mencebikkan bibirnya, dirinya juga terkekeh geli.
"Jelek deh A" Timpal Maya lagi.
"Nyicil yuk yank." Ucap Aaron dirinya menelan saliva ketika netra matanya melihat leher jenjang nan mulus itu terpampang jelas dimatanya.
"Enggak A. Sabar napa sih udah tinggal dikit lagi kok." Sahut Maya.
Tookkk...Tookkk.toook...
Talia mengetuk pintu, Dirinya lupa belum mengabari Maya kalau besok Aaron dan Maya harus mendatangi butik temannya. Takutnya Talia besok sibuk mengurus sesuatu yang lainnya hingga lupa mengabari Putra putrinya untuk melakukan fitting baju pengantin."
"Sayang buka pintunya. Ada hal yang perlu bunda bicarakan nak." Ucap Talia didepan pintu kamar Maya.
"A Bunda ,cepet pergi A." Papar Maya .
"Mana bisa yank. Masih belum dapat jatah nih." Tutur Aaron santai, Aaron berfikir lagi mungkin bagi dirinya kalau sampai sang bunda mengetahui mereka di kamar berduaan bisa jadi bundanya menikahkan mereka besok pikir Aaron.
"Ihh nyebelin." Sahut Maya kesal dirinya menarik tangan Aaron agar bersembunyi debelakang sofa. Agar Talia tak berfikiran buruk tentangnya bisa malu kesekian kalinya menurut Maya.
"Sayang buka dong nak." Sahut Talia lagi karena dirinya tak mendapat respon dari Maya.
Ceklekk.
"Eh bunda ada apa bun." Ucap Maya menyembulkan kepalanya ke luar.
"Boleh bunda masuk nak. Bunda ingin berbicara empat mata denganmu." Ucap Talia.
"Ohh mmm bboleh kok bun." Jawab Maya, Dirinya membuka lebar pintu agar Talia bisa masuk ke kamarnya.
Mendudukkan dirinya disofa bersebelah dengan Maya. Sedangkan Aaron hanya menjadi pendengar di belakang sofa.
"Bunda gak tau kondisi banget dahh. Gua kan masih belum dibelai." Batin Aaron menggerutu.
"Ada apa ya bun?" Tanya Maya penasaran. Dirinya melihat gelagat Bunda Talia yang aneh menurutnya.
"Begini sayang. Apa kamu udah yakin akan menikah dengan Aaron. Mmm maksut bunda apa kamu sudah memantapkan hati nak." Tanya Talia.
"Alhamdulillah sejauh ini sudah mantap dan yakin kok bun. Emang kenapa ya bun, Apa bunda berubah pikiran menikahkan kami.?" Tanya Maya. Jika iya , Entah bagaimana nanti nasibnya.
"Bunda apa- apaan sih kok ngomong kayak gitu. Jangan sampek gua gagal nikah sama Maya." Batin Aaron.
"Bukan begitu nak, Maksut bunda kalau memang sudah mantap ya dilanjutkan saja nak. Tapi kalau seandainya ragu jangan diteruskan . Bunda gak mau kalau sampai kalian tak berjodoh nantinya, itu semua berakibat pada keluarga kita. Bunda udah nganggep kamu kayak putri bunda sendiri. Bunda takut kamu menjauh dari keluarga Addison hanya karna kalian tak berjodoh." Terang Talia dengan kekhawatirannya. Maya menggenggam tangan Talia menyalurkan rasa haru yang mendera hatinya.
" Makasih ya Bun udah baik banget sama aku. InsyaAllah kalau memang Aku dan Aa gak ditakdirkan berjodoh, Aku akan tetep nganggep bunda dan papa kelurgaku bun. Bunda jangan khawatir ya kita tetep keluarga meskipun nanti aku dan Aa gak ditakdirkan untuk bersama." Papar Maya. Dirinya memeluk Talia menunjukkan bahwa dirinya sangat bahagia berada di tengah- tengah keluarga Addison.
"Oh iya bunda lupa besok kamu dan Aaron ke butik teman bunda ya. Cari gaun yang menurut kamu bagus, Karna tinggal beberapa hari lagi kalian akan menikah jadi bersiaplah jangan sampai lelah ya nak." Talia melepas pelukannya mencium sekilas kening Maya.
"Istirahat yang cukup nak. Bunda ke kamar dulu." Pamit Talia dirinya melangkahkan kakinya keluar kamar. Maya membuntuti dari belakang hingga dirinya menutup pintu. Sebelum berbalik sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Membisikkan sesuatu hingga membuat hatinya terharu.
"Kita akan selalu bersama meskipun kamu menjauh dari aku, Aku akan mengejarmu ke ujung dunia sekalipun. Satu hal yang perlu kamu tau sayang aku teramat mencintaimu esok, lusa dan selamanya jangan pernah meragukan rasa cintaku ini." Aaron membalikkan tubuh Maya hingga menghadapnya. Mencium bibir Maya penuh kelembutan menyampaikan betapa rasa cintanya begitu besar kepada sang pemilik hati.