
Kecemasan di wajah Aaron sangat kentara di netra Maya kala dirinya menyuruh sahabatnya pergi sebelum mengatakan penyakit apa yang membuat Maya lemah tak bertenaga seperti saat ini.
Aaron bingung menetralisir perasaannya yang campur aduk, antara senang jika sang istri tengah hamil buih dari cinta mereka dan sedih ketika masalah yang di hadapinya belum juga teratasi olehnya.
Aaron masih setia mematung setelah kepergian sang sahabat, Hingga dirinya tak mendengar beberapa kali Maya memanggil dengan suara lemahnya.
"By.." Panggil Maya kesekian kalinya, Ia merangkak niat hatinya ingin menghampiri Aaron yang berdiri membelakanginya.
"T-uan nona memanggil anda." Ujar Mila yang kasihan melihat Maya memaksakan dirinya untuk bangun.
Aaron menoleh, dan benar saja Maya sudah mau menapakkan kakinya ke lantai walau dalam keadaan seperti itu.
"Sayang." Sergah Aaron menghampiri Maya agar istrinya mengurungkan niatnya untuk memaksakan diri.
"Aku kenapa by, Kenapa kamu marah sama Revan." Timpal Maya kala Aaron kembali membaringkan tubuh ringkihnya.
"Kamu baik- baik aja sayang." Sahut Aaron mengelus pucuk kepala sang istri.
"Lalu kenapa kamu marah sama Revan, Ada apa sebenarnya by? jangan bikin aku takut." Timpal Maya lagi dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.
"Kamu sehat sayang jangan khawatir, Percaya sama aku." Ujar Aaron memeluk tubuh sang istri dari samping ketika dirinya juga ikut membaringkan tubuhnya.
Loli dan Mila saling senggol menyenggol lengannya, Mengkode agar berpamitan pada majikannya yang tengah bermesraan di kasur king sizsnya.
"Mmm tuan....." Ucap Mila memberanikan diri, namun belum sempat mengucapkan niatnya suara datar sang tuan membuatnya begidik ngeri.
"Pergilah." Ujar Aaron, Tanpa menunggu lama kedua pelayan tersebut keluar dari ruangan yang sepertinya sangat mencekam baginya.
Mila dan Loli saling menerka- nerka penyakit apa yang di derita nonanya sehingga melarang dokter untuk mengucapkannya.
Menuruni anak tangga dengan kedua wajah muramnya, Entah mengapa rasanya mereka sangatlah penasaran dengan penyakit yang di derita sang nonanya.
Setiba di kamarnya, Loli dan Mila mengeluarkan segala terkaannya yang sedari tadi menggerayangi hati mereka.
"Ha... Apa ya mil. HaIV kali yah?. Si dokter mah gak jelas banget ngomongnya." Ucap Loli yang penasaran karena dokter tadi hanya mengatakan awalannya saja tanpa melanjutkan lagi kata- katanya.
"Gimana mau jelas, Tuan aja langsung marah." Sergah Mila yang juga ikut penasaran dengan ucapan dokter tersebut.
"Semoga gak serius ya penyakit nona, Kasihan banget." Ujar Loli .
"Iya Lol." Sahut Mila menaruh kepalanya pada bahu Loli.
"Kita berdoa saja semoga nona baik- baik saja dan jika ada penyakit yang serius semoga lekas di sembuhkan oleh Tuhan." Timpal Mila lagi dengan di angguki oleh Loli.
Disisi lain, Didalam kamar bernuansa klasik tersebut kini suasananya bertambah kacau ketika Maya masih memojokkan Aaron .Kala suaminya tak mau memberi tahunya dan selalu mengatakan jika dirinya dalam keadaan baik- baik saja.
"Aku harus bilang berapa kali sayang, kamu gak apa- apa. Kamu hanya kecapekan saja." Ujar Aaron, Bibirnya terlalu kelu jika menyatakan bahwa sang istri tengah hamil apalagi dirinya berusaha menghambat kehamilan wanita tercintanya.
Aaron mendekap erat sang istri, Biarlah nanti dirinya akan membawa sang istri ke dokter spesialis. Agar mereka tak perlu menerka- nerka jika ternyata sang istri tengah hamil anaknya, Darah dagingnya.
Jika memang itu terjadi, Aaron akan berusaha siaga dalam melindungi keluarga kecilnya dari musuh yang selalu mengintainya.
Ya, Aaron mengetahui jika Rangga selalu mengintainya dan itu tak luput dari pengawasan Aaron. Biarlah Rangga mengintainya namun dirinya takkan membiarkan adanya waktu luang untuk seorang Rangga Luxio mengambil apa yang menjadi miliknya.
"Tuhan jika memang benar adanya tolong lindungilah mereka, Mareka orang- orang yang sangat hamba sayangi." Batin Aaron mencium kening Maya dengan lembut.
"Nanti kita ke dokter, Aku udah nevon dokter spesialis untukmu sayang." Ujar Aaron berusaha bersikap biasa walau dalam hatinya teramat bahagia walau tertutup dengan kekalutannya.
Maya mendongak, Memandang wajah suaminya yang tengah menatapnya dengan penuh binar kabahagiaan.
"Aku akan mati kah by." Ujar Maya dengan penuh ketakutan, Dirinya berfikir apa yang belum terucap dari mulut Revan tadi sebuah kenyataan pahit yang menimpa dirinya.
"Kamu ngomong apasih, Jangan ngaco deh." Sahut Aaron yang tak terima dengan seloroh Maya, Dia takut apa yang di ucapkannya menjadi kenyataan seperti terdahulu.
"Kita ke dokter untuk mastiin sayang, Apa benar pemeriksaan Revan kalau kamu Mmmm kalau kamu itu sebenarnya." Ucap Aaron tergagap, Akankah ini awal yang baik ketika masalah yang di hadapinya belum usai pikir Aaron.
"Apasih by jangan berbelit- belit deh" Sergah Maya kesal dengan tingkah Aaron.
"K-amu Ha-mil." Putus Aaron, biarlah sekarang dirinya harus yakin jika nanti semua yang di laluinya mendapatkan pertolongan dari TuhanNya. Semua akan baik- baik saja jika dirinya selalu bermunajat padaNya.
"H-amil." Timpal Maya tergugu. Ia melihat sorot mata Aaron dengan binar kebahagiaan hingga dirinya menyimpulkan bahwa Aaron akan menerima janin yang ada di dalam rahimnya.
"Makanya aku gak mau kamu menerka- nerka dulu biarla nanti hasilnya lebih efesien kita cek di dokter spesialis kandungan." Papar Aaron.
"A-pa kamu menerima janin ini by." Ucapan itu lolos keluar dari mulut Maya kala mengingat tempo lalu Aaron masih enggan memiliki keturunan darinya.
"Hey.. kamu ngomong apasih? Tentu aku menerima janin ini Sayang, Dia darah dagingku jika kamu belum tau." Terang Aaron menahan kesal dengan ucapan Maya.
"Kan kemarin- kemarin kamu gak mau aku hamil by." Sahut Maya mengungkapkan unek- uneknya yang di pendam sedari kemarin setelah kejadian di kamar mandi tersebut.
"Bukan gak mau kalau kamu hamil sayang, tapi belum siap." Kelakar Aaron yang mengerti maksut Maya yang tengah memandang lurus atas.
Aaron harus bekerja lebih ektra lagi dalam melindungi calon buah hati dan istrinya. Jika memang itu benar adanya kemungkinan besar dirinya akan bekerja di rumah menemani sang istri agar tak kesepian, Biarlah Ben sang tangan kanan yang mengatasi perusahaan.
Apalagi papa Arkan juga sangat percaya dengan kinerja Ben walau orangnya urakan dan konyol namun jika berurusan dengan pekerjaan dirinya sangat serius.
"Alhamdulillah dek, Mommy fikir Daddymu gak mau jika mommymu ini hamil dari benih Daddymu." Ucap Maya mengelus perut ratanya, Hatinya lega jika yang di takutkan Maya hanyalah fikiran negatif miliknya.
Aaron yang melihat itu tersenyum simpul, Bagaimana perasaan istrinya nanti jika tau dirinya pernah memberikan sesuatu pada minumannya agar sang istri tak bisa hamil eh ralat menunda kehamilannya.