
Maya semakin gusar ketika Aaron tak menggubrisnya walau sekarang mereka saling pandang dalam diam Tapi Maya sangat yakin bahwa di hati Aaron sangat kecewa padanya. Buktinya wajah datar yang tak pernah di tunjukkan padanya kini ada dihadapannya. Meskipun belum lama ia berada di sisi Aaron, ia sangat hafal betul jika Aaron memendam kekecewaan yang mendalam pada dirinya.
"By, Aku minta maaf jangan diami aku kayak gini dong by" Ucap Maya ketika Aaron memalingkan wajahnya. Air matanya tak ada hentinya mengalir di pipi mulusnya hinga mengakibatkan mata indah tersebut bengkak akibat kelamaan menangis.
" Maaf aku mau keluar." Ucap Aaron, Ia menggeser tubuh Maya yang tengah duduk di pangkuannya agar berdiri. Dirinya segera berjalan ke arah pintu keluar, Entah mengapa rasa kecewanya semakin menjadi ketika Maya mengunci kamarnya dan tak mau terbuka padanya. Belum juga tangannya memegang handle pintu sebuah tangan lembut menghentikan langkahnya.
" By pliss jangan gini." Ucap Maya yang sudah berhasil memeluk Aaron dari belakang . Ia sangat sakit hati ketika Aaron mencapakkannya sedari tadi.
"Kamu yang udah bikin aku kayak gini hummy, Kamu anggap aku apa hahh.?" Tanya Aaron yang sudah membalikkan badannya menghadap istri sahnya. Ia sudah tak bisa menahan gejolak emosinya lagi, biarlah Maya mengetahui segala unek- uneknya ketika Maya masih bungkam dengan masalahnya.
"By aku minta maaf, Iya aku salah membuat kamu berfikir negatif sedari tadi ak.."
"Jika memang aku gak ada artinya untukmu, kenapa kamu mau menikah denganku, Yahh aku tau kamu masih belum ingat aku sepenuhnya tapi sifat kamu yang paling aku gak suka masih melekat pada dirimu." Papar Aaron geram, kelemahannya adalah di saat wanita tercintanya menangis karena ulahnya. Tapi biarlah semua ini kebaikan dari hubungannya dan wanitanya agar tak ada sesuatu yang di sembunyikan. Toh, kodrat suami istri harus saling terbuka dan saling percaya.
" Bukan maksutku gak ngehargai kamu sebagai suami, Aku juga mau nikah sama kamu karna aku yakin binar ketulusan di matamu takkan berbohong by." Terang Maya.
"Tapi kenapa kamu selingkuh di belakang aku Hummy." Bentak Aaron yang tengah di kuasai amarah kecemburuannya.
"Kamu kenpa berfikir seperti itu by, Seenaknya kamu meremehkan kesetiaanku. Tega banget kamu." Cecar Maya yang mulai terbawa emosi.
"Kamu bilang tega, Lalu menurutmu aku harus gimana sedangkan pelaku pertamanya tak mau bercerita. Apa aku salah menerka- nerka tentang kejadian tadi, Siapapun pasti akan sama pemikirannya denganku jika mengetahui istrinya menangisi pria lain." Terang Aaron mengeluarkan semua unek- unek yang sedari tadi bersarang di hatinya. Maya yang mendengar itu semakin dilanda kecemasan, Air matanya semakin deras meluncur di pipi mulusnya.
Ia mengakui bahwa dirinya salah membiarkan sang suami menerka- nerka dengan kejadian yang beberapa jam mereka alami. Tak seharusnya sikap bodohnya itu ditunjukkan ada suaminya hingga membuat pertengkaran hebat yang pertama kali dalam pernikahan mereka.
" Kamu gak perlu nangis Hummy, Kalau memang kamu pengen sendiri silahkan aku gak ngelarang. Gak usah peduliin aku sebagai seorang suami yang selayaknya." Papar Aaron kembali dan memeluk Maya agar berhenti menangis. Ia memang kecewa dengan sifat Maya namun apalah daya jika sang wanitanya seperti tengah rapuh dan menangis di hadapannya.
"By aku salah, gak seharusnya aku ngelakuin hal bodoh seperti itu." Ucap Maya mengeratkan pelukannya.
"Lalu mau kamu apa sekarang, menyesalipun percuma kamu sudah sangat mengecewakan aku Hummy." Ucap Aaron mengahapus lembut pipi Maya.
Maya hanya memejamkan mata menerima sentuhan lembut dari Aaron, Ia juga bertekad meluruskan masalah yang kini ia hadapai bersama sang suami. Apapun itu ,ia harus terbuka pada suaminya Aaron Addison.
***Cuuppp
cupppp
cuppp***
Aaron mencium setiap inci wajah sang wanita, Apakah masalah yang di hadapi istrinya sangat berat sehingga membut matanya bengkak seperti ini pikirnya.
"Mau bercerita atau di pendam sendiri." Usul Aaron ketik Maya masih setia terdiam, Seperti bingung dengan ingin menyampaikan atau tidak.
"By, Mm tadi preman itu Rangga." Sahut Maya membuat Aaron mematung.
***DEgggggg.
"Bangsat mau apa dia kesini, Bajingannn ." Umpat Aaron dalam hati hingga tak sadar jika tangannya semakin mencengkram bahu Maya dengan erat hingga membuat Maya merintih kesakitan***.
"By sakittt." Rintih Maya membuat Aaron tersadar dan langsung menarik tangannya pada bahu Maya. Ia seakan lupa dengan bahu lembut yang sebelumnya di belainya.
"Sayang maaf aku gak sengaja." Ucap Aaron kembali memeluk kembali namun kali ini dengan mesranya. Membuat Maya di landa kegelisahan ketika dirinya menyatakan bahwa Ranggalah yang menjadi preman tadi dan ingin melenyapkan Aaron.
Ia yakin Aaron geram apalagi ketika nama Rangga keluar dari bibir Maya dengan luwesnya. Mayapun berharap semoga kejadian yang seperti itu takkan terjadi lagi ketika Aaron mengetahui fakta sebenarnya hingga membuatnya lebih was- was lagi dalam menghadapi Rangga yang sudah gila.
Aaron menuntun Maya agar duduk di sofa ruangannya, Ia tau jika kini sudah tengah malam namun rasa sakit hatinya malah membuat dirinya sangat penasaran dengan kemunculan Rangga yang akan menjadi boomerang dalam rumah tangganya.
Maya menceritakan semua keluh kesahnya tanpa ada yang ia tutup- tutupi dari sang Suami. Ia tak sanggup melihat kemarahan Aaron yang sangat terpancar kekecewaan di dalam netranya. Sungguh membuat hatinya hancur mendapati sang suami seperti dalam keadaan rapuh dengan sikapnya tadi.
Aaron menyimak dengan jeli apa yang di katakan Maya, Hatinya lega jika Maya masih takut jika Rangga akan menyakitinya. Itu berarti istrinya sangat takut kehilangannya, Aaron terharu hampir saja air matanya ikut menetes dengan maksut istrinya. Kalau seandainya Maya berterus terang takkan mungkin Aaron berfikiran negatif pada sang istri.
Walau ia sangat tahu jika Maya takkan bisa menduakan cintnya pada pria manapun.
"Aku minta maaf Hummy, Aku sudah berfikir negatif tentangmu. Kamu tahu aku sangat cemburu melihatmu tak menghiraukan aku ketika aku bertanya dan yang lebih parahnya lagi kamu menangisi pria yang sudah jelas- jelas akan melukaimu dan aku." Papar Aaron menggenggam tangan Maya menyalurkan bahwa hal yang takut ia hadapi adalah kehilangan orang yang di cintainya.
"Iya aku mengerti By, Disini akulah yang salah aku melupakan jika ada suami yang harus aku jaga perasaannya , Sampai- sampai aku larut dalam masalah yang tak berujung." Ungkap Maya menenggelamkan wajahnya pada dada pria yang selalu membuatnya nyaman dan aman.
"Aku mohon sama kamu, Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku. Aku suami kamu jadi sudah sepantasnya aku ngelindungi kamu dan soal Rangga biarlah itu urusanku,. Kamu gak perlu khawatirkan apapun, Aku yang melakukan dan aku juga yang akan bertanggung jawab." Papar Aaron mengecup sekilas dahi Maya, Sebenarnya hatinya juga gusar dengan apa yang di katakan Maya namun dirinya berusaha tenang agar sang istri tak lagi tertekan. Ia tahu alasan yang mendasari Rangga kembali ke indonesia, Yaitu Maya Afriaresa.