Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 33



Maya dan Aaron terlonjak kaget ketika suara yang sangat familiar mengganggu aktivitas mereka.


''Bundaa..'' Ucap Mereka serempak. Maya dan Aaron membenarkan pakaianya yang berantakan.


Bunda Talia sengaja mendatangi kantor sang putra karna Bunda Talia takut apa yang diliatnya dikamar sang putra tempo lalu benar adanya. Kalau mereka sedang menjalin kasih dibelakang Noah kekasih Maya. Bunda Talia mendekat , Memandang Maya dengan raut mata penuh kecewa yang di pandang hanya bisa menunduk karna takut kalau ia dan Aaron sudah melampaui batas.


''Bun Aaron bisa jelasin semuanya gak seperti yang bunda fikirkan.'' Ucap Aaron ketika sang bunda terus menatap Maya.


Plaaakkkkkk.


Tamparan keras mendarat sempurna dipipi mulus Maya hingga ia tersungkur ke lantai. Mata Aaron membulat menyaksikan sang bunda menampar kekasihnya.


'' Sayang...'' Aaron menghampiri Maya yang sudah terduduk dilantai.


''Bunda kenapa jadi begini Bun, Dia gak salah bun. Aaron yang maksa dia buat nglakuinn....'' Ucapan Aaron terhenti ketika Suara sang bunda membentak. Baru pertama kali ia mendengar suara yang biasanya lembut kini sangat kasar akibat emosi yang meluap.


''Jangan pernah membela dia Aaron'' Bentak bunda Talia menunjuk ke arah Maya.


''Bunda''Maya mendongak dengan suara melemah hidungnya mengeluarkan darah akibat tamparan keras dari bunda Talia.


Bunda Talia yang melihat Maya seperti itu sebenarnya kasihan namun bagaimanapun kekecewaannya jauh lebih besar.


''Jangan peduliin aku A'' Maya menghempaskan tangan Aaron ketika ia mencengkal tangannya. Maya terus berjalan menghampiri bunda Talia. Ketika sampai di hadapan sang Bunda, Maya menjatuhkan tubuhnya di kaki bunda Talia. Meminta maaf atas apa yang dilakukannya bersama Aaron sungguh perbuatan yang tercela.


''Bunda, Aku minta maaf bun gak seharusnya aku dan Aaron melakukan seperti itu.'' Ucap Maya bersimpuh sembari memegang tangan Bunda Talia.


''Sayang jangan begini.'' Ucap Aaron menghampiri Maya . Sungguh ia tak tega melihat kekasih hatinya seperti itu. Namun Maya tak menghiraukan perkataan Aaron, Ia menangis sesegukan tak memperdulikan darah yang keluar dari hidungnya.


''Jangan panggil aku bunda karna saya sudah terlalu kecewa sama kamu. Saya pikir kamu itu perempuan baik - baik namun semua kepercayaan saya hilang ketika kamu menghianati kekasihmu dan yang lebih parahnya lagi, Kamu jadikan Aaron sebagai pelampiasaanmu Maya..???? Saya kecewa sama kamu. Mulai saat ini kemasi semua barang- barangmu , saya gak mau anak saya punya perilaku buruk kayak kamu. Kamu saya pecat.'' Ungkap Bunda Talia datar. Sudah cukup hubungan mereka sampai disini bunda Talia takut Aaron akan semakin menggila karenanya.


''Bunda. Bunda apa- apaan semua ini gak ada sangkut pautnya.'' Bentak Aaron , Ia tak terima dengan keputusan sepihak dari sang Bunda.


''Kamu berani bentak bunda Aaron karna membela wanita ini. Bunda hanya ingin yang terbaik buat kamu Aaron. Bunda gak mau kamu jadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Mereka akan menikah dalam bulan ini Aaron buka matamu nak.'' Ucap Bunda Talia melemah ia tak tau harus ngomong gimana lagi.


''Engga Bun. Mereka gak akan menikah karna mereka gak saling cinta.'' Ujar Aaron tak mau kalah.


'' Kamu jangan tertipu daya olehnya Aaron.'' Timpal Bunda Talia.


''Maaf saya permisi.'' Pamit Maya, Ia sudah tak kuat menahan sesak dihatinya oleh perkataan Bunda Talia dan pening dikepalanya semakin menjadi akibat darah yang keluar dari hidungnya semakin deras.


Maya mengambil tas dirungannya dan segera berlari keluar kantor. Suara bariton Aaron memanggil- manghil namanya namun tak dihiraukan, Ia terus berlari sudah muak dengan semua yang menimpanya. Karyawan yang lain bertanya- tanya sekertaris bos berlari mungkin dia terluka pikir mereka yang melihat Maya berlari tergesa- gesa. Ia terus berlari hingga pandangannya mulai mengabur. Sebelum terjatuh ke tanah, Sebuah tangan kekar menangkapnya. Maya hanya memandang wajah itu namun samar karna penglihatanya semakin hilang dan ia pingsan dalam dekapan pri itu.