
Ketika berada di kantor Maya dan Aaron seperti bawahan dan atasan ,mereka sangatlah profesional tapi ketika mereka sudah berdua betapa mesumnya seorang Aaron.
Hingga jam makan siang mereka berencana akan makan siang di restoran Blizt bersama dengan Ben juga ikut serta.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam karna memasuki jam istirahat membuat mereka terkena macet namun setelahbsekian menit akhirnya mereka bisa lolos dari kemacetan.
Mereka bertiga celingukan mencari bangku kosong untung masih tersisa satu bangku masih kosong karna waktu makan siang membuat restoran ramai pengunjung. Ben memanggil waiters memesan semua makanan kesukan sang atasan dan kekasihnya.
Tak berselang lama pesenan mereka datang, Memakan dengan berbagai candaan yang terlontar antara Ben dan Aaron.
'' Enak bener hidup Lu Ar. Kepergok gituan langsung mau dinikahin. Mungkin nyokap gua kalau mergoki gua gituan juga langsung dihalalin kali ya.??'' Papar Ben.
''Ben jangan bahas itu dong.??'' Sahut Maya wajahnya memerah.
''Biarin sayang. Siapa tau nanti dia ngikutin kita biar gak jadi bujang lapuk.'' Sahut Aaron membuat Ben mendelik.
Bersebelahan dengan Meja Aaron seseorang mendengarkan interaksi mereka bertiga. Sejak mereka masuk ke restoran wanita itu sudah tau, niat hati ingin menyapa namun pembahasan mereka membuat dirinya menahan diri untuk tetap di tempatnya.
Emosinya tersulut ketika mereka membahas pernikahan Aaron dan wanita yang setau dirinya sekertarisnya dan termasuk incaran sepupunya.
Ia berdiri membawa segelas jus mangga yang dipesannya tadi, Menghampiri meja Aaron dan menyiram wajah Maya hingga pakaian yang di pakai Maya basah kuyup. Hal tersebut menjadi tontonan seisi restoran.
''Amanda apa yang kamu lakukan??'' Sentak Aaron ketika mendapati Maya disiram oleh amanda. Aaron berdiri menghampiri calon istrinya.
''Sayang kamu gak apa- apa??.'' Tanya Aaron membersihkan wajah Maya menggunakan tisu.
''Kamu keterlaluan Aaron. Aku cinta mati sama kamu tapi kenapa kamu malah memilih menikahi ****** ini.'' Tutur Amanda. Membuat Aaron meradang mendengar sang wanita dicaci maki di depannya.
''Ben bereskan semuanya.'' Titah Aaron.
''Ar buka matamu dia itu gak pantes buat kamu. '' Teriak Amanda disaksikan seluruh pengunjung restoran. Banyak yang menggunjingnya, Namun sepertinya urat malunya sudah putus hingga tak melihat tatapan pengunjung yang lainnya.
Aaron tak menggubris ucapan Amanda menurutnya dia sudah gila. Aaron meletakkan Maya dikursi penumpang membersihkan sisa jus yang masih menempel pada wajahnya.
''Maafin Aku yank belum bisa jagain kamu.'' Aaron membelai wajah Maya, Dirinya merasa bersalah tak bisa melindunginya.
''Aku gak apa- apa A beneran'' Timpal Maya tersenyum .Agar Aaron merasa tak bersalah meskipun hatinya terluka akibat tuturan Amanda.
'' Aku akan balas dia '' Sergah Aaron.
''Jangan A. Apa bedanya kamu sama dia kalau sampai kamu ngebalas perbuatannya. Aku gak apa- apa sungguh.'' Maya meyakinkan Aaron menggenggan tangan yang lebih besar dibanding tangannya.
Aaron mengecup kening Maya tak lupa bibirnya juga menjadi sasaran Aaron. Maya hanya pasrah mungkin emosinya akan kembali stabil jika Aaron mencium dirinya.
Setelah terlepas ciuman itu, Aaron menutup pintu lalu mengintari mobil. Mendudukkan dirinya di kursi kemudi, Menggenggam tangan Maya sembari menciumnya.
''Kita pulang sayang kamu istirahat aja. Gak perlu jadi sekertaris aku lagi. Kamu istirahat nanti kalau udah malam pertama jangan harap kamu bisa istirahat.'' Ujar Aaron diselingi cengiran.
''Ihh Aa mah gitu, perasaan mesum mulu deh.'' Timpal Aaron.
''Mesumnya cuma sama kamu sayang. Ya salah kamu sendiri yang udah buat aku gak bisa nahan hasrat kalau lagi sama kamu.'' Tutur Aaron menggoda Maya.
''Yee aku yang disalahin. Ya emang Aanya aja yang gak bisa nahan iman. Udah ah yuk balik udah lengket nih.'' Timpal Maya.