
Tanpa menggubris ucapan sang dokter, Aaron berlalu membuka pintu ruangan yang diyakininya ruangan bersalin istrinya.
Para perawat yang sedari tadi membantu proses bersalin Maya nampak kaget dengan kehadiran Aaron .
"Sayanggg..." Seru Aaron ketika netranya melihat belahan jiwanya sudah dibanjiri keringat dan air mata. Hati Aaron bagaikan tersayat menyaksikan itu semua.
Dirinya menggenggam tangan Maya dengan penuh kasih sayang tak lupa sesekali di kecupnya.
"Sayang, Aku gak mau o-perasi akhhh..." Sergah Maya yang sedari tadi terus- menerus di bujuk oleh perawat dan dokter agar mau di operasi.
Maya enggan melakukan operasi sebab menurutnya, Wanita tak sempurna jika belum melahirkan secara normal. Maya ingin merasakan menjadi wanita yang sesungguhnya.
"Demi kebaikan kamu sayang, demi kebaikan anak kita." Ujar Aaron menggenggam erat tangan yang sudah lemah tak bertenaga itu. Air matanya tak bisa lagi di tahannya kala tatapan Maya membuat hatinya seperti tertusuk belati tajam.
"By, tolong. Aku gak mau" Sahut Maya yang terus saja berusaha mengejan dengan tenaga seadanya.
" Sus, tolong kabulkan permintaan istri saya." Timpal Aaron final, dirinya sangatlah tak tega melihat tatapan Maya yang membuatnya tak bisa melakukan apapun lagi.
"Tap..."
"Lakukan, kau tuli hahh." Bentak Aaron dengan tangan yang sudah terkepal, Namun tangan mulus dan lemah milik Maya membuatnya tersadar dari emosinya.
Dirinya kembali lagi menggenggam tangan sang istri kala para perawat dan dokter sudah menempatkan dirinya keposisi masing- masing.
Maya terus berusaha mengejan tak kenal lelah, walau sedari tadi tenaganya sudah terkuras habis namun keinginannya melahirkan normal mengalahkan semuanya.
"Sedikit lagi nyonya." Seru sang dokter yang membantu proses bersalin Maya. Dirinya tak berani mendongak, karena tatapan suami dari pasiennya sangatlah membuat gemetaran.
Sang dokter sangat berhati- hati menjalankan tugasnya kali ini.Jika tidak, mungkin nyawanya akan hilang ulah suami pasiennya ini.
"Akhhhh.." Teriak Maya kesekian kalinya namun usahanya tak membuahkan hasil. Bayi yang masih di dalam sana tak bergerak sedikitpun.
Sang dokter mengkode perawat agar menjalankan proses yang lainnya. Bisa saja hal itu memudahkan pasien yang melahirkan walau sakitnya akan bertambah.
Seakan mengerti dengan kode yang di berikan sang dokter, perawat itu berjalan ke arah Aaron yang terus saja menggenggam tangan Maya sesekali memeluk sang istri. Aaron enggan beranjak dari sisi sang istri barang sejengkalpun.
"Maaf tuan, Kami mau membantu nyonya. Anda bisa bergeser sedikit." Ucap perawat menundukkan kepala.
"Jang..."
"By, tolongg.." belum usai ucapan Aaron, Maya mengusap tangan sang suami. Ia tau jika Aaron akan emosi kembali jika ada yang menghalangi kemauannya. Walau dengan rasa sakit yang semakin menjadi, Maya masih sempat- sempatnya memberikan senyuman manis untuk sang suami. Mungkin dengan itu, Aaron bisa secepatnya meredam emosinya.
Aaron bergeser sedikit namun tangannya masih saling bertaut dengan sang istri. Sungguh sangat membuat siapa saja iri dengan pasangan ini.
"Saya akan membantu nona, tolong kerja samanya ya. Jika saya menekan perut anda, Anda harus mengejan bersamaan dengan tangan saya." Papar sang perawat memberi arahan. Maya hanya mengangguk, dirinya sudah pasrah dengan apa yang terjadi nantinya.
Hanya satu yang diinginkannya, melahirkan dengan normal seperti almarhum ibunya dulu.
Maya mengeram merakan sakit yang luar biasa kala tangan itu terus saja menekan perutnya tanpa jeda. Mau tak mau dirinya juga harus mengejan dengan sisa- sisa tenaganya.
"Akhh sakittt....." Pekik Maya hingga membuat Aaron hendak mendorong perawat yang masih setia menekan perut Maya. Namun perawat lainnya menghampiri Aaron dan berucap hingga membuat Aaron mematung.
"Tolong kerja samanya tuan, bayi anda harus segera di keluarkan dari rahim ibunya. Sebab sudah lama bayi anda berada didalam rahim itu. Yang kami takutkan hanya bayi anda tidak akan selamat karna telah meminum air ketuban." Papar perawat yang berhasil membuat jantung Aaron berpacu tak terkendalikan.
Aaron tak mau itu terjadi, Diam adalah solusi yang tepat agar orang yang dicintainya selamat. Walau rasa tak teganya membuat dirinya harus lebih was- was agar tak menyakiti salah satu dari mereka.
"Sedikit lagi nyonya, Kepalanya sudah nampak. 1... 2... 3 .... Lagi nyonya." Aba- aba dari mulut perawat membuat Maya kembali mengejan dengan sekuat tenaga.
Aaron meneteskan air mata kala netranya melihat jelas betapa tersiksanya seorang wanita kala melahirkan buah hatinya.
Maya mencengkram kuat tangan Aaron yang masih saja menggenggamnya. Hingga di persekian menit ruangan yang berisik dengan suara terikan para perawat dan tak terkecuali Maya. Kini suara bayi menangis begitu melengkingnya membuat mereka yang berada dalam ruangan nampak lega.
Proses persalinan yang begitu mencekam menurut mereka karna harus berhadapan langsung dengan orang terpenting di kotanya.
Oekkkk.... Oekkk......
" Selamat anak anda lahir dengan keadaan sempurna berjenis kelamin laki- laki." Ucap Sang dokter memperlihatkan bayi yang masih berlumuran darah pada kedua orang tuanya. Setelah menunjukkannya, sang dokter bergegas membersihkan tubuh bayi tersebut dari darah dan kotoran lainnya.
Aaron memandang Maya dengan tatapan haru, apalagi melihat wajah istrinya yang nampak sayu dengan nafas yang ngos- ngosan.
"Anak kita jagoan sayang, kau dengar tadi bilang apa?" Ucap Aaron tak lupa air mata yang masih mengalir di pipinya. Tangannya mengusap rambut snag istri yang sudah basah karena keringat tak lupa sesekali kecupan hangat mendarat sempurna dikeningnya.
Maya melihat ke arah Aaron dengan mata berbinar, dengan bibir mengembang membuat Aaron nampak lega melihatnya.
"I-ya By, S-ama persis dengan du-gaanmu." Ujsr Maya terbata- bata. Tenaganya sangat terkuras habis melahirkan sang putra tercinta. Memang sudah 5 harian Maya tak nafsu makan hingga menjelang hari bersalinnya membuatnya kekuarang cairan dan tenaga.
***Cupppp...
Cupppp
Cupppl***
" Kamu wanita sempurnaku sayang , Terima kasih sudah mau bertaruh nyawa melahirkan keturunanku. Aku sangat mencintaimu sayang." papar Aaron memeluk tubuh lemah yang masih berbaring di atas brankar.
"Sudah kodrat seorang wanita melahirkan by, aku malah bersukur bisa melahirkan keturunanmu dengan selamat by. Aku juga sangat mencuntaimu." Sahut Maya membalas pelukan Aaron walau dengan tangan yang terdapat infusnya.
Setelah beberapa menit berpelukan tiba- tiba saja tangan lemah yang sedari tadi merangkulnya terjatuh. Aaron memandang lekat wajah Maya yang nampak pucat dengan rasa paniknya. Apalagi Maya tak juga merespon panggilannya walau sudah menepuk pipinya sekaligus.
"Dok... Istri saya kenapa?" Teriak Aaron hingga membuat dokter yang baru saja memandikan bayi laki- laki dengan berat badan normal itu bergegas menghampirinya.
Dokter memberikan alih menggendongnya pada Aaron, agar dirinya bisa leluasa mengecek kondisi pasiennya .