Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Rapuh



Maya bersamaan dengan Nina mengunjungi makam Aaron yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Mengapa mereka bisa keluar dari rumah sederhana itu jawabannya hanya singkat yaitu Nina telah memberi tahu Ben jika sang nona berencana mengunjungi makan Aaron.


Walau Ben awalnya melarang, namun Nina berupaya membujuk tuannya agar sang nona bisa pergi dengannya dengan penyamaran tentunya.


Nina tau jika tuannya khawatir dengan kondisi luar dan itu jelas akan membahayakan nonanya. Tapi Ben juga harus tau, jika sang nona sekarang dalam tak baik- baik saja walaupun Maya enggan bercerita namun dirinya tau jika ada yang di fikirkan olehnya.


Hingga membuagnya yang semula ceria kini sering melamun dan menitikan air matanya. Nina yakin jika Maya merindukan sosok Aaron, hingga dirinya berinisiatif mengajaknya ke tempat perinstirahatan Aaron Addison.


Nina melirik disampingnya, kini mereka berada di dalam taxi yang sudah di pesankan Ben untuk mengantarkan mereka ke ibukota tempat dimana makam Aaron.


Masih dengan keadaan yang sama, melamun sembari meneteskan air mata. Entah apa yang dirasakan Maya setelah tiga hari yang lalu tiba-tiba saja sehabis bangun tidur sifatnya berubah pendiam dan sering melamun.


Nina mencoba bertanya namun hanya mendapatkan gelengan kepala dari Maya sebagai jawabannya.


"Non, Apa nona lapar.?" Tanya Nina bertanya pada Maya yang masih setia memandang kosong ke arah depan.


Maya menggelengka kepalanya sebagai jawaban, hanya itu yang selalu dilakukannya. Selalu bungkam jika di tanyai ini dan itu, Nina sendiri jadi bingung di buatnya.


Awan kini sudah menampakkan warna jingganya pertanda hari mamasuki sore menjelang. Taxi yang mereka kendarai telah tiba di tempat pemakaman umun, dengan memakai hijab dan masker tak mampu membuat mereka di kenali oleh orang sekitar.


Dengan langkah lesuhnya, Maya berjalan dengan mata yang lurus ke depan membuat Nina harus ektra sabar menemani nonanya. Mungkin dengan membawa Maya ke tempat peristirahatan terakhir suaminya sifatnya kembali ceria.


Tubuh Maya meluruh ke tanah kala netranya menatap nisan yang bertuliskan nama Aaron Addison sang suami tercinta.


Dengan punggung gemetar dan memeluk nisan sang suami, Nina sangat yakin jika Maya tengah menangis dalam diamnya.


Apalagi curhatan Maya membuat hati Nina ikut merasakan kepedihannya.


"By, Kenapa aku ditinggal by. Aku merasa hancur ketika kamu memilih pergi meninggalkan aku yang masih membutuhkanmu. " Ujar Maya dengan tangisan pilunya. Pertama kalinya dalam tiga hari belakangan ini Maya mau membuka suaranya.


Apalagi makannya tak teratur hanya beberapa suap saja dalam sehari dan itupun harus dipaksakan oleh Nina.


"Non, Tuan sudah tenang di alam sana non. Ikhlaskanlah non, sudah berbulan-berbulan kepergian tuan tapi nona tak mengiklaskannya. Kasian tuan non. " Timpal Nina ikut terduduk di samping Maya. Bukannya berheti menangis, Maya seakan tersayat hatinya kala ucapan Nina seakan menembus ulu hatinya.


"Mbak, aku merasa sudah mengkhianati cinta suamiku mbak. " Sahut Maya di sela tangisannya, Dengan pandangan masih setia menatap nisan sang suami.


"M-aksutnya mengkhianati bagaimana non. " Tanya Nina yang merasa kebingungan dengan ucapan Maya yang sepertinya ingin mencurahkan isi hatinya padanya.


Degggg...


Hati Nina mencelos mendengar penuturan Maya yang seakan mencabik- cabik hatinya. Bagaimana bisa nonanya yang selalu di jaganya bisa di lecehkan oleh pria yang tak di ketahui asal- usulnya.


Nina mengusap bahu Maya, menenangkan keresahan yang menimpa hatinya saat ini. Nina juga bingung harus melakukan apa, namun di satu sisi dirinya harus menceritakan masalah itu pada sang tuan. Walau nanti dirinya akan mendapat makian dan umpatan dari tuannya tak apa , karna memang dirinyalah yang salah. Terlalu ceroboh menjaga sang nona dari pria tersebut.


"T-api mengapa bisa.. " Belum selesai ucapan Nina, Maya menyela dan menoleh ke arah Nina dengan mata sembabnya.


"Aku juga gak tau mbak, aku pikir dia hanya omong kosong saja setelah mengirim surat itu. Hingga aku tak waspada malam itu mbak. " papar Maya dengan air mata yang tak berhenti berderai melintasi pipinya.


"Aku bodoh mbak, aku sangat menikmati sentuhannya sehingga aku seakan pasrah dengan apa yang dilakukannya padaku. " Terang Maya lagi kala Nina membawanya ke dalam pelukannya.


Wanita yang sudah dianggapnya adik harus menerima cobaan yang bertubi- tubi. Nina tak bisa menahan air matanya yang sudah mengenang di pelupuk matanya.


Hatinya ikut sakit mendengar penderitaan Maya yang tiada hentinya.


"Udah gak perlu nangis lagi non, Jangan buat adeknya juga ikut bersedih. " Ujar Nina mengelus punggung bergetar Maya. Bisa dirasakan jika baju yang dikenakannya basah akibat air mata Maya. Namun tak apalah, semua dia lakukan agar Maya bisa melegakan hatinya yang sempat tercabik- cabik oleh kenyataan.


Maya berusaha tegar kembali kala ucapan Nina membuatnya tersadar jika bukan dirinya saja yang perlu di perhatikan. Ada bayinya yang patut di ingat, karena hanya itu kenang- kenangan yang di berikan Aaron untuknya. Walau semua harta yang di miliki Aaron sudah atas nama Maya, namun Maya tak menghiraukannya.


"Mbak bener, ada baby yang harus aku ingat. Serapuh apapun aku, aku gak mau dia juga merasaknnya. " Ujar Maya mengusap kasar pipj yang basah dengan air matanya.


"Nah, gitu dong non. kalau ada masalah apa- apa cerita non. Biar mbak gak kebingungan dengan sikap nona yang tiba-tiba berubah drastis. " Ujar Nina membenahi masker dan hijab Maya dengan penuh kasih sayangnya.


"Makasih banyak ya mbak, Aku serasa punya kakak yang bisa memahami perasaanku. Aku bersyukur Ben, mengirim mbak menemaniku selama disana. Aku janji setelah anak ini lahir, kita akan pergi sejauh mungkin dsri sini. Aku tau Ben menjagaku karna merasa tak enak dengan Almarhum Hubby. " Ujar Maya menggenggam teman sekaligus wanita yang sudah dianggapnya kakak tersebut.


"Gak perlu pergi non, Mereka sangat menyayangimu non. Jangan pernah berfikir begitu, Mbak bisa merasakannya jika mereka semua tulus padamu. " Ucap Nina menghalangi niat Maya yang akan menjauh dari keluarga Tio maupun Addison.


"Iya aku tau mbak. Tapi aku gak mau hidup mereka selalu di lingkupi rasa was- was karena adanya aku. " Sahut Maya.


"Tidak akan terjadi itu non, percayalah. Semua orang akan kecewa ketika kamu tak mengurungkan niatmu. Mereka sangat menyayangimu, jadi sudah sepantasnya mereka menjaga kamu. " Papar Nina memberi pengertiannya.


"Dan lagi pula suamimu nanti akan kecewa dengan tindakanmu ini. Sama saja kamu memisahkan nenek dan cucunya. Mbak saranin jangan pergi kemanapun, paham. " Papar Nina lagi tak lupa menggenggam tangan Maya.


Maya hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapan Nina yang ada benarnya.