Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Menyangkal kekecewaan



Maya tergugu mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Aaron dengan bersusah payah dirinya memahami perasaan yang di rasakan sang suami saat ini. Namun kenapa baru mengucapkan sekarang setelah beberapa kali melakukannya tanpa pengaman pula.


Dirinya sangat bersalah jika sang suami mengatakan hal itu sebab dari kejujurannya tadi malam. Lalu jika nanti apa yang di lakukan barusan atau yang kemarin sudah membuahkan hasil apalagi dirinya selalu membuangnya di dalam.


Hati Maya teriris mendengarnya setelah baru saja memadu kasih dan mencari kenikmatan lalu setelahnya mengucapkan kata yang membuat hatinya sakit.


"Mau kemana kamu by." Ucap Aaron setelah selesai membersihkan dirinya melenggang begitu saja seperti Maya tak nampak di matanya.


"Oh sayang ,maaf aku mau ke kantor dulu ya. Kasian Ben udah seminggu lebih ngehendle perusahaan. Kamu gak keberatan kan." Sahut Aaron menghampiri Maya yang masih di depan wastafel.


"Kamu akan pergi." Ucap Maya tercekat dengan penuturan Aaron, Apa dia tak merasa bersalah setelah mengucapkan itu fikir Maya.


"Iya kamu gak apa- apakan sendirian disini kan ada pelayan juga. Aku pergi dulu ya." Ujar Aaron melangkahkan kakinya setelah mengacak rambut Maya, tanpa menunggu persetujuan Maya ia pergi hingga membuat hati Maya mencelos atas tindakan Aaron.


"Apa kamu masih kecewa by ketika barusan kita sudah memadu kasih aku fikir kamu udah maafin aku." Batin Maya meneteskan air matanya .


Maya bergegas membersihkan dirinya dengan fikiran yang melalang buana entah kemana, Beginikah cara Aaron membuatnya menyesal sedari dulu atas tindakannya.


Jika sudah memaafkan kesalahanya juga tak seharusnya dirinya mengucapkan kata yang tak pantas di dengar oleh Maya. Apalagi Aaron mengucapkan itu tepat setelah mereka bercinta, Hati istri mana yang tak sakit hati ketika suaminya berbicara seakan enggan mempunyai keturunan dengannya hanya karna kehadiran Rangga.


Maya paham jika memang Aaron takut jika nanti Maya melahirkan darah dagingnya akan dengan sangat mudah untuk seorang Rangga mencari celah untuk menyakiti keturunannya.


Dan mengapa juga Aaron harus mengucapkan sekarang ketika benih yang sudah di tanamnya akan tumbuh dengan sendirinya. Tanpa pengaman dirinya menabur benihnya di dalam rahim Maya, Jika seandainya nanti Maya hamil apakah Aaron menerima malaikat kecil yang sudah berkembang di rahimnya. Maya tak tau harus bagaimana lagi sekarang akal dan fikirannya nampak kacau dengan kehadiran Rangga semalam.


"Apa ini hanya fikiranku saja yang salah, Hubby gak mungkin kan ngebiarin malaikat kecil jika memang sudah hadir, Aku yakin Hubby masih sedikit kecewa denganku hingga mengucapkan kata itu." Batin Maya setelah selesai membersihkan tubuhnya sisa percintaannya antaranya dan Aaron suaminya.


Maya melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dengan balutan warddrope yang menutupi tubuhnya. Menelisik kamar pribadinya dan kamar ganti namun sesuatu yang di carinya tak nampak di matanya.


"***Hubbyy udah berangkat tanpa menungguku menyiapkan sarapannya dan menyalaminya Haahhhhhh.." Batin Maya bernafas kasar dengan sikap baru yang dimiliki Aaron.


"Ini semua salah kamu May , kalau saja kamu gak bersikap seperti itu mungkin Hubby gak bakal kecewa tapi apa maksutnya tadi. Kita bercinta tapi setelahnya Hubby seperti berubah sikapnya, Aku ngerasa kayak dia menghindar." Batin Maya dengan segala kegelisahaanya.


"Pliss jangan mikir yang aneh- aneh aku yakin Hubby gak kayak gitu." Maya mencoba berfikir positif dengan sikap yang baru saja di tunjukkan suaminya***.


Maya melangkahkan kakinya menuruni tangga setelah selesai berganti pakaian dan berdandan dengan bedak natural di padu menggunakan liptint agar bibirnya tetap lembab.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setibanya di kantor Aa corp Aaron di sambut oleh sahabatnya sekaligus tangan kanannya yang sudah seminggu lebih menghandle pekerjaannya. Ya, memang semenjak menikah baru pertama kalinya Aaron menginjakkan kakinya ke perusahaannya dalam keadaan gelisah.


Bukan untuk menghindari istrinya namun ada hal yang harus ia diskusikan dengan para sahabatnya sebab Aaron seorang yang emosional jika bertindak hingga tak menggubris resiko di kemudian hari.


Noah, Revan, Ben yang sudah berada dalam ruangan meeting nampak bertanya- tanya dengan sikap Aaron yang tumbenan menyuruh menemuinya sepagi ini di kantornya dengan alasan ada hal penting yang perlu di sampaikan. Hingga mau tak mau para sahabat harus memundurkan pekerjaan demi sang sahabat yang sudah di anggapnya sebagi saudara walau tak sedarah.


***Ceklek...


"Pagi brother." Sapa Aaron yang baru saja membuka pintu dan diikuti Ben di belakan Aaron.


"Ada apa sih Ar, Gua sampek ngebatalin meeting gua." Cecar Noah kesal bukannya membalas sapaan Aaron ia malah terlihat sangat kesal karena harus membatalkan meetingnya dengan koleganya.


"Pliss brother dengerin Aaron dulu, Dia dalam keadaan yang tak baik- baik saja." Ucap Ben menengahi, Ia tau apa yang membuat Aaron mengumpulkan para sahabatnya namun tidak dengan cerita yang Aaron sampaikan pada Maya.


"Rangga kembali ke indonesia." Ucap Aaron datar sembari mendudukkan dirinya dengan jari saling terpaut di atas meja menggambarkan betapa gelisahnya dirinya saat ini.


Ben, Noah dan Revan membulatkan matanya secara bersamaan bagaimana tak terkejut ketika musuh terbesar sahabatnya akan membuat ulah pada rumah tangganya.


"Bagaimana bisa Ar, dari mana mereka tau kalau Maya ada di Indonesia. Apa Rangga kesini dengan tujuan yang aku fikirkan Ar." Tanya Noah penasaran tak mungkin seorang Rangga kesini tanpa ada tujuannya.


"Gua ngumpulin kalian disini karena gua butuh bantuan kalian, Gua gak mungkin bertindak sendiri sedangkan gua orangnya sangat gegabah. Gua gak mau melakukan hal fatal lagi ke depannya." Terang Aaron menyampaikan kegelisahaannya.


"Dan yang lu ucapain bener adanya Noah, kalau Rangga kesini mungkin akan mengambil sesuatu yang sudah gua ambil darinya." timlpalnya lagi.


"Ya gak gitu dong Ar, lu gak boleh ngalah gitu aja. Dia itu milik lu mulai dulu sampek sekarang, Ranggalah disini yang udah ngambil dia dari lu. Hingga Dia sampek lupa ingatan membuat Rangga ada kesempatan buat menggeser lu dari sisinya." Cecar Noah mengepalkan tangannya.


"Bentar Ar, lu tau dari mana kalau Rangga ada disini." Tanya Revan penuh dengan rasa penasarannya.


"Kemarin sewaktu habis dari rumah sakit gua sama Dia di hadang lima preman dan salah satunya Rangga. Dia berusaha membawa Istri gua, Untung gua datang tepat waktu kalau enggak mungkin Maya udah di bawa kabur lagi sama Rangga." Ucap Aaron menatap lurus ke depan lebih tepatnya tatapan kosong.


"Mulai sekarang perketat penjagaan Maya jangan sampai lengah, aku yakin Rangga takkan berhenti berusaha mengambil apa yang dia mau walaupun dia sudah berstatus istri lu." Ucap Noah memberi saran***.