
'' Mending kita rujuk ke rumah sakit karna masalahnya Aaron kehilangan banyak darah.''
Ujar Revan. Dengan sigap mereka membawa Aaron ke rumah sakit dengan mobil Revan.
Maya hanya bisa meneteskan air mata melihat kondisi Aaron seperti ini. Sungguh membuat dirinya semakin merasa bersalah.
''Udah May gak perlu difikirkan kita doakan saja semoga Aaron bisa melewati semua ini.'' Pungkas Revan yang melihat Maya menangis dari kaca spion karna Maya berada di belakang sembari memangku kepala Aaron.
Ben sebenarnya sangat prihatin dengan kondisi sahabatnya dimana dia telah melabuhkan cintanya pada kekasih sahabatnya. Entah bagaimana nanti endingnya tapi Ben berharap Aaron akan mendapat kebahagiaan.
Setelah setengah jam dalam perjalanan kini mereka sampai di rumah sakit Rv medika.
Mereka membawa Aaron ke dalam ruangan UGD untuk mengecek kondisinya sebelum mentrafusi darah. Maya melihat di depan ruangan sebelah nampak security yang berjaga di apertementnya kelihatan bingung.
'' Bapak kenapa ada disini.???'' Tanya Maya menghampiri si security.
''Alhamdulillah mbak Maya ada disini. Itu mbak, Mbak Tiara pingsan tadi untung ada tetangga apertement yang ngelihat.'' Sahut security nampak lega.
''Tiiaara pingsan pak??'' Tanya Maya lagi memastikan. Ben yang mendengar interaksi mereka mencoba menghampiri.
''Terus gimana keadaannya pak'??'' Timpal Maya lagi. Ben berusaha menenangkan Maya karna Maya kembali menangis.
''Udah tenang dulu. Cuma pingsan May, Mungkin dia kecapekan.'' Timpal Aaron merangkul bahu Maya.
''Kalau begitu saya pamit dulu ya Mbak.'' Ujar security.
''Iya pak, Makasih udah nolongin Tiara.''
''Iya mbak sama- sama. Mari.''
Maya mengangguk, Ia Merutuki kebodohannya lagi. Kalau dia tak meninggalkan Tiara mungkin keadaannya gak akan seperti ini.
Ceklekkk.
''Gimana keadaannya dok.'' Tanya Maya ketika pintu ruangan Tiara terbuka.
Deggg
''Janin???? Maksut dokter apa??? Janin apa yang dokter maksut.'' Sarkas Maya.
''Tenang May jangan emosi.'' Ujar Ben.
''Nona Tiara sedang hamil.'' Ujar si dokter.
''Jangan ngarang dong dok, Tiara belum menikah dok mana bisa dia hamil.'' Sahut Maya berapi- api.
''Tapi itu sesuai dengan pemeriksaan kami nona. Hasil USG juga membuktikan kalau nona Tiara sedang hamil dua bulan.'' Terangnya lagi.
''Ddduuuaaa bul...''Maya jatuh pingsan dalam dekapan Ben.
''May bangun . May.'' Panggil Ben . Menepuk pipi Maya . Namun tak ada reaksi dari Maya, Capek dengan semua kejadian yang menimpa dirinya. Ingin istirahat dengan tenang namun sang pencipta masih menginginkannya untuk berbahagia.
...****************...
Maya mengerjapkan matanya, Menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya. Aaron, Matanya terpaku pada pria yang berdiri didekat brankarnya.
''A kamu udah sembuh'' Tanya Maya, Ia bangun dari tidurnya menangkup wajah pria yang dicintainya meskipun agak sedikit pucat tapi tak mengurangi ketampanannya.
''Aku sembuh karna kamu yang membuat aku khawatir jadi aku berusaha untuk sembuh.'' Sahut Aaron memegang tangan Maya yang masih menangkup wajahnya.
''Tiarrraa aku harus tau keadaan Tiara.'' Maya berusaha bangkit meskipun agak lemah namun dia harus tetap mengintrogasi Tiara.
Ceklekkk.
Pintu ruangan terbuka, Maya masuk bersama Aaron juga ikut masuk kedalam ruangan Tiara. Tiara nampak melamun sehingga tak tau siapa yang memasuki ruangannya.
''Ra..'' Maya mendekat.
''May.'' Tiara memeluk sahabatnya, Ia masih ragu menceritakan kehamilannya kepada siapapun apalagi statusnya belum menikah.