
Disebuah taman yang rindang, dihiasi bunga warna- warni yang bermekaran. Sesosok wanita cantik dengan rambut tergerai indah bernyanyi diselingi jogetan ala kadarnya di tengah- tengah taman bunga tersebut.
Tiba- tiba sebuah tangan kekar memeluk dirinya dari belakang membuat si wanita terjingkat saking terkejutnya. Dirinya membalikkan tubuhnya dan netranya mendapati pria tampan tengah tersenyum manis padanya. Ya, Aaron Addison yang memeluknya dari belakang dengan sejuta kerinduan yang mendalam.
"Sayang aku merindukanmu." Ujar Aaron menyelipkan rambut Maya dibelakang telinga. Sebab rambut wanitanya terombang- ambing mengikuti arah angin.
"Benarkah?" Tanya Maya. Dengan raut wajah tak terbaca.
"Iya, Aku mencarimu kemana- mana. Tapi aku tak menemukanmu sayang, Aku rindu." Sahut Aaron memeluk mesra Maya tak lupa dikecupnya pelipis sang wanita dengan lembut nan mesrah.
Maya juga membalas pelukan Aaron, Pria yang dicintainya. Namun belum tuntas kerinduan mereka yang menjadi, Suara seorang pria membuat Aaron melepaskan pelukannya.
"Honey kamu disini?" Tanya pria itu. Aaron menoleh, dan dirinya mendapati pria yang telah memisahkan dirinya dan Maya. Pria yang dengan tega memutuskan hubungannya dengan wanita yang teramat dicintainya.
"Iya honey aku disini." Sahut Maya, Dirinya berjalan kearah pria itu dan memeluknya.
Degggg.
Bagai tersambar petir di siang bolong dengan pemandangan yang membuat hati Aaron hancur sehancur- hancurnya. Dirinya tak menyangka semudah itukah Maya berpaling darinya.
"Sayang apa maksutnya ini?." Tanya Aaron mengepalkan tangannya. Dirinya sangat emosi ketika wanitanya bermanja dilengan rivalnya. Apalagi panggilan yang di sematkan untuk pria tersebut, semakin membuat hati yang tadi bahagia kini harus terluka kembali.
"A dia tunanganku." Sahut Maya tersenyum bahagia membuat hati Aaron malah semakin tercabik.
"Sayang, Aku calon suami kamu. Bukan dia." Timpal Aaron menarik lengan Maya.
"A itu dulu, Tapi sekarang aku tunangannya dan aku sangat mencintainya." Sahut Maya melepas cekalan tangannya, Dirinya memeluk lengan pria itu.
"Enggak sayang, Kamu cintanya sama aku bukan sama dia." Tunjuk Aaron.
"Ayo honey, kita pergi dari sini." Ujar pria itu memegang bahu Maya. Maya menurut dan mengikuti langkah si pria membuat Aaron semakin emosi. Dirinya memanggil- manggil nama Maya namun tak digubris oleh si wanita.
"Sayannggg."
"Sayangg jangan pergii."
"Sayang...."
Aaron terbangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran di tubunhnya. Air matanya menetes mengingat mimpi buruk yang baru saja ia alami, Sungguh dunianya hancur jika mimpi itu nyata.
"Rangga siallannn." Teriak Aaron melempar vas bunga yang ada di atas nakas dengan geramnya. Mengerahkan semua orang suruhannya masih belum ada hasilnya. Ia hanya merenungi hatinya yang membeku ketika wanita tercintanya pergi entah kemana.
Ben dan Ravan yang mendengar teriakan Aaron segera berlari kekamar sebelah. Mereka takut Aaron akan menggila lagi seperti semalam.
"Ar lu kenapa.?" Tanya Revan ketika mendapati Aaron melamun di atas ranjangnya namun air matanya terus menetes.
"Ar..?" Panggil Revan lagi ketika Aaron tak menggubrisnya.
Ben dan Revan saling pandang, mereka bingung dengan kondisi Aaron seperti kehilangan semangat hidupnya. Mereka mengira tadi Aaron mengamuk lagi, Emosinya tak terkendali ketika mereka mendapati pecahan Vas berserakan di lantai.
"Van gimana nih.?"
"Gua coba hubungi Psikiatri dulu ya,? kebutulan gua punya kenalan."
Ben mengangguk membenarkan ucapan Revan semoga saja dengan begini Aaron bisa kembali seperti semula. Bukannya diam saja melihat sahabatnya seperti itu, mereka juga mengerahkan pengawal handalnya untuk mencari obat agar Aaron sembuh yaitu Maya Afriaresa.
Revan berlalu dari kamar Aaron, mencoba menghubungi psikiatri kenalannya. Semoga bisa membantu Aaron dalam menghadapi emosionalnya yang berlebihan.
"Ar lu denger gua kan?" Tanya Ben memegang bahu Aaron. Aaron masih sama diam dan tak menjawab, Hatinya di landa kecemasan yang mendalam.
"Mmm gua tadi malam dapat titik terang tentang Maya." Pancing Ben. Dan benar saja, Aaron merespon. Dirinya menoleh ke arah Ben meski terlihat jelas bahwa tatapannya masih kosong.
"Maya keluar negeri memakai jet pribadi bukan pesawat umum." Terang Ben, Aaron hanya menyimak walau tak seperti biasanya.
"Lalu apa yang kau temukan lagi." Sahut Aaron setelah dirinya menyimak ucapan Ben dengan jeli.
Ben menggeleng, Hanya itu saja informasi yang pengawalnya dapatkan. Aaron kembali memandang kosong kedepan.
"Hanya itu." Ucap Aaron datar.
"Maaf Ar , Hanya itu saja." Sahut Ben menunduk. Niat hati hanya ingin membuat Aaron kembali seperti dulu agar dirinya tak terus tertekan dengan hilangnya kekasihnya. Namun seepertinya usahanya nihil.
"Come on Ar. Gimana nanti kalau Maya kembali dan melihat lu kayak orang begok kayak gini." Noah nyelonong masuk ke kamar Aaron, Dirinya di beri tahu Revan jika Aaron menggila lagi seperti semalam ia sangat geram melihat seorang Aaron seperti itu.
" Gua yakin Maya pasti akan berpindah haluan secara dia cantik gak akan ada yang nolak juga, Dari pada harus hidup sama orang begok kayak gini." Cecar Noah lagi, Namun Aaron hanya meliriknya sekilas meresapi ucapan Noah yang memang tak berfilter namun mampu menggetarkan hati kecilnya.