
Matahari sudah meninggi menampakkan kilau cahaya yang menyilaukan menerpa kulit wajah wanita ayu yang tengah terlelap dalam pelukan suaminya. Mengerjabkan matanya sembari mengumpulkan kesadarannya, Ketika matanya terbuka sempurna bibirnya mengembangkan senyumannya mendapati suaminya masih berada dalam mimpi dengan satu tangannya ia gunakan sebagai bantal Maya dan tangan satunya ia pergunakan memeluk erat sang istri.
Tangan Maya terulur membelai rahang dengan jambang tipis di wajah sang suami, Ia memang sengaja tak mencukur jambang ataupun rambutnya karena menurut Maya. Sang suami lebih terlihat dewasa dengan gayanya yang seperti ini dari pada gaya yang terdahulu sebelum menghilangnya Maya selama dua bulan lamanya.
"Jangan pernah menyerah ya mempertahankan aku ada disisimu, Entah mengapa aku sangat takut jika kamu meninggalkanku By. Mungkin cintaku padamu sudah mulai tumbuh seperti apa yang di harapkan by, Sungguh aku takut kehilangan kamu." Ucap Maya pelan dengan tangan yang tak henti- hentinya membelai wajah tegas Aaron.
Gerakan tangan Maya terbaca hingga Aaron semakin mengeratkan pelukannya pada Maya membuat Maya yang merasakan eratnya pelukan Aaron memekik kaget.
"By.. Udah bangun kah.?" Tanya Maya karena Aaron seertinya tengah merespon ucapan Maya.
Maya berusha melepaskan pelukan Aaron, Karna hari sudah semakin pagi ia ingin cepat- cepat membersihkan tubuhnya. Bukannya terlepas malah membuat Maya semakin sangat menempel pada Aaron hingga dirinya tak bisa berkutik.
"By, Aku tau ya kamu udah bangun. Jangan gini dong aku mau bangun terus mandi Awwww." Ucap Maya terpotong ketika tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Aaron, Entah bagaimana ceritanya sehingga Aaron membawanya ke dalam gendongannya.
"By bikin kaget aja." Ucap Maya mengelus dadanya.
"Mandi bareng , no coment pokok harus iya." Sahut Aaron memaksa dan tak mau dapat penolakan.
"Ihh by bukanya mandi nanti malahmpptt."
"Kamu tau aja Sayang, aku menginginkanmu tapi maunya oreoan di kamar mandi." Ucap Aaron dengan langkah lebarnya mengarah keluar ruang kerjanya dan berjalan ke arah kamarnya tepatnya ke kamar mandi. Dengan langkah yang tergesa- gesa karena si piton sudah turn on sejak Maya terus meronta dalam pelukannya sewaktu tidur apalagi dengan tubuh saling menempel.
"By jangan aneh- aneh deh." Ucap Maya ketika tubuhnya sudah berada di bawah guyuran shower bersamaan dengan tubuh Aaron yang sudah basah kuyub.
Aaron dengan gerakan cepatnya membuka benang yang sudah basah itu dan melemparkannya ke sembarang arah. Dengan gerakan cepat juga Aaron memeluk dan menyambar benda lunak milik sang istri dengan gemasnya, Entah saking gesitnya tangan Aaron hingga Maya tanpa sadar sudah tak berbusana seperti Aaron ynang kini sudah telanjang bulat tak ada satupun pakaian yang melekat di tubuhnya.
Aaron menggendong Maya ala koala dengan punggung istrinya yang menyandar di dinding kamar mandi tersebut. Dengan sedikit pemanasan Aaron sudah tak tahan dengan tiga kali hentakan tubuh sang istri menggelinjang dengan kedatanangan piton yang tanpa pemisi memasuki inti tubuhnya.
"Akhhh." Pekik Maya ketika benda tumpul tersebut nyelonong masuk ke intinya.
Biarlah air shower menjadi saksi dengan panasnya percintaan mereka, ******* demi ******* menggema di dalam kamar mandi tersebut apalagi ketika Aaron semakin mempercepat temponya membuat sang istri meracau tak karuan.
Rintikan pada wajah masing- masing membuat mereka semakin mempesona, Tiada kata yang terucap jika pasangannya menerima dengan pasrah sentuhan yang di berikannya. Aaron berusaha memuaskan sang istri dengan caranya sendiri, ia tau Maya takkan berucap apapun ketika sentuhanya berasa hambar namun Aaron tetap berusaha semaksimal mungkin hingga membuat sang istri mencapai kenikmatan yang luar biasa bersama dirinya.
Ia tak mau membuat istrinya kecewa dengannya, Tak mau istrinya mencari pelampiasan lain di luar sana walau itu sangat mustahil bagi seorang Maya.
Aaron yakin 100% jika cintanya takkan terhianati oleh sang istri terbukti sejak semasa kuliah cintanya tak pernah luntur untuk Aaron Addison.
Kini posisi mereka berganti dengan Maya yang di dudukkannya di depan kaca westafel tanpa melepaskan benda yang masih asik mencari kenikmatannya di dalam sana.
"Lihatlah dirimu di cermin sayang, Kamu sangat mempesona." Ucap Aaron lagi kembali mempermainkan inti sang istri dengan gerakan cepat.
"Ahhh by...." Racau Maya tak terkendali, Ia memegang erat pergelangan tangan Aaron yang berada di pinggangnya.
"Panggil namaku sayang." Bisik Aaron dengan nafas kasar yang menerpa kulit leher Maya.
"Aaroonn ahhhh.... aku mauu mpptt." Ucap Maya terhenti ketika bibirnya terbukam oleh bibir tebal Aaron.
Aaron bisa merasakan jika Maya telah mencapai klimaknya yang beberapa kalinya , Ia bisa merasakan cairan hangat menerpa pitonnya yang masih asik memompa inti sang wanita.
"Ahhh by,,... ." Racau Maya meremas rambut Aaron ketika wajah Aaron berada di tenga- tengah dadanya, Bukannya melarang malahan ia semakin menenggelamkan wajah sang suaminya.
"Akkhhhh..." Pekikan Aaron ketika mencapai klimaksnya. Dirinya memeluk erat tubuh sang wanita yang masih bertumpu di westafel dengan alat perangnya yang masih menancap di diri sang istri.
"Jangan berfikir yang tidak- tidak sayang, Sampai kapanpun aku akan selalu ada sisimu." Ucap Aaron mengecup kening Maya lama menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar pada istrinya.
"By, kamu mendengarku." Tanya Maya melihat garis wajah sang suami dengan senyuman tampannya.
"Semuanya." Ucap Aaron kembali memeluk sang istri.
"Maaf." Timpal Maya membalas pelukannya pada suaminya, Dia tau tak seharusnya mengucapkan kata- kata seperti itu namun entah mengapa bibirnya seperti tengah memaksanya berucap.
"Ingat ucapanku baik- baik. Jangan pernah meremehkan cintaku padamu sayang, Bertahun- tahun cintaku padamu tumbuh dengan indahnya. Aku gak mau denger lagi ucapan yang menurutku konyol itu." Ucap Aaron memegang dagu sang istri agar melihat binar matanya yang menunjukkan ketulusan dan kesungguhan di dalamnya.
"Iya by maaf ya aku gak ada maksut bicara seperti itu, aku hanya takut jika suatu hari nanti kamu menyerah berada di sisiku." terang Maya menunduk, ia tau jika cinta Aaron padanya sangat besar tapi siapa tau jika nanti rasa cintanya memudar sebab ada seseorang yang selalu mengganggu rumah tanggannya apalagi karenanya.
"Takkan terjadi Hummy, Nak tolong bilang ke mama ya. Papamu ini takkan bisa berpaling dari mamamu sampai kapanpun." Ucap Aaron mengelus perut rata Maya, hingga seperti berbicara pada sang calon bayi walau kenyataannya sang istri belum ada tanda- tanda kehamilannya.
"By hamil aja belum." sergah Maya kesal dengan tingkah Aaron.
"Iya aku tahu dan aku harap sebelum masalah kita selesai dia belum hadir,." Ucap Aaron melerai pelukannya, Bukannya tak mau mempunyai keturunan dari istri tercintanya tapi yang ia takutkan hanyalah keselamatan calon sang jabang bayi ketika musuhnya masih terus mengintainya walau masih dalan penjagaan yang ketat sekalipun.