
" Lihatlah dirimu sendiri cantik, Aku rasa kamu tak bahagia dengan bajingan itu." Ucap pria tersebut memutari tubuh Maya dengan jari yang bertengger di dagunya.
Rangga Luxio menatap sinis pada tubuh Maya yang nampak lebih kurus dan dengan wajah pucat namun masih ayu di pandangan matanya.
Bukannya marah, Maya hanya berdiam menanti ucapan Rangga selanjutnya. Tangan mungilnya terkepal menunjukkan ketidakterimaan dirinya dengan panggilan Rangga untuk suaminya.
"Dulu sebelum bajingan itu membawamu kesini, Kamu sangat fres, Ceria dan tak kekurangan kasih sayang dariku cantik. Tapi lihatlah sekarang dirimu, Sungguh menggelikan bukan." Papar Rangga tepat di hadapan Maya dengan tatapan kerinduan terbalut kebencian.
Plakkkkk....
Kecupan mesrah mendarat sempurna dipipi Rangga dari tangan mungil seorang Maya. Tamparannya memang keras hingga membuat Rangga memalingkan wajahnya akibat dari tangan mungil tersebut.
"Yang kamu panggil bajingan itu suamiku Ngga, Tolong jangan campuri urusanku brengsek." Kesal Maya hendak melayangkan lagi sebuah tamparan namun dengan sigap Rangga menangkisnya dan membawa wanita mungil itu kedalam dekapannya.
"Lepas Ngga." Pekik Maya memukul punggung Rangga dengan kencangnya namun tak mampu membuat Rangga jera.
Bukannya melepas pelukannya, Rangga semakin erat memeluknya hingga membuat Maya sulit menggerakkan tubuhnya.
"Kamu gila Ngga." Ujar Maya berusaha mendorong bahu kekar yang sangat keras menurutnya.
Rangga menghirup dalam- dalam aroma yang begitu menenangkan pada tubuh wanita yang teramat di rindukannya.
Meskipun dirinya selalu mengikuti setiap gerak- gerik Maya namun tak mampu membuat rasa rindunya terobati.
Maya pasrah dengan perlakuan Rangga apalagi dengan kondisinya yang masih lemah. Bukannya senang menerima perlakuannya namun dengan keadaan seperti ini membuat Maya sangat sulit untuk melawan.
"Lepas aku mohon." Bisik Maya dengan suara lemahnya, Membuat Rangga sedikit memberi jarak beberapa centi ketika suara wanita cantiknya seperti tengah tersakiti.
"Menikahlah denganku dan ceraikan si brengsek itu." Tanpa basa- basi Rangga mengucapkan kata yang membuat Maya Enggan memikirkan kata cerai di dalam fikirannya.
"Jangan harap." Sergah Maya menghempaskan tangan Rangga yang masih setia memegang pinggangnya.
Ia berjalan keluar musholla untuk menghindari hasutan Rangga yang akan membuat Tuhannya sangat membeci hal itu.
Tetapi siapa sangka, Rangga malah menyusulnya dan tanpa basa- basi mencekal tangan kanan Maya.
Mencoba menarik tangan wanita cantiknya dengan kehati- hatian karena takut akan membuatnya kesakitan nantinya.
Sadarkah Rangga bahwa kelakuannya saat ini yang memaksa Maya membuatnya sangatlah tersakiti. Apalagi tanpa izin dirinya menyuruh Maya meneceraikan sang suami yang sudah sangat mengecewakanya. Namun apakah pantas Rangga mengucapkan kata- kata seperti itu, Lalu apakah dirinya tau jika dirinya dan Aaron dalam keadaan baik- baik saja pikir Maya yang enggan membahasnya dengan Noah.
"Jangan paksa aku Ngga, Aku sudah bersuami. Tolong mengertilah." Cecar Maya ketika Rangga terus saja menariknya hingga hampir dekat dengan kendaraanya.
***Buugghhhh
Dughhh***.
Seseorang pria mengenakan jas formalnya tiba- tiba datang menendang dan meninju Rangga hingga membuatnya terpelanting ke tanah. Dan sukses juga membuat Maya memundurkan badannya beberapa langkah namun tangan kekar seseorang menahan tubuhnya yang akan jatuh ke bawah.
"Noahh.." Ujar Maya ketika tangan kekar Noah membantunya kembali dengan posisi semula.
"Kamu gak apa- apa?." Tanya Noah ketika Maya sudah berada di hadapannya. Maya membaasnya dengan menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Noah bahwa dirinya tak apa.
Spontan saja kedua netra Maya dan Noah melihat ke arah Rangga yang berusaha berdiri dengan bantuan security yang mendengar kegaduhan.
"Tuan tolong jangan membuat kegaduhan dsini, ini rumah sakit." Ucap Security mewanti- wanti kedua pria di hadapannya.
"Ciihh, yang bilang ini Cafe siapa bego." Ujar Rangga mengambil sesuatu dalam sakunya hingga membuat yang melihatnya membelalakkan mata.
"Pergi atau ku lubangi kepalamu ini." Ucap Rangga datar namun sukses membuat sang security menurut dengan meninggalkan tempat dengan jalan yang gemetaran.
Setelah kepergian securtity tersebut kini senyuman sinis mengarah pada Noah yang berada di samping Maya. Tak lupa pistol yang di arahkan padanya, Maya menggeleng mencoba memberi kode pada Rangga agar tak melakukannya.
"Apa kau ingin mati di tanganku Tuan Abimanyu." Ujar Rangga dengan senyuman sinisnya, dirinya tak menggubris tatapan memohon dari mata Maya.
"Dasar iblis." Umpat Noah ,namun Rangga hanya berdecih mendengarnya.
Bukannya tanpa di sengaja Noah datang ke rumah sakit Revan, Karena sang pemilik rumah sakit sendirilah yang menghubunginya jika sahabatnya tengah kebingungan mencari istrinya.
Walau tak bercerita secara detail namun Noah sangat mampu memahami yang ada. Hingga dirinya segera meluncur ke rumah sakit sahabatnya dan hal yang tak terduga menghentikannya.
Mantan terindahnya yang sekarang sudah menjadi kelurganya tengah di tarik paksa oleh pria tak berhati seperti Rangga. Tanpa berfikir apapun dirinya menolong wanita yang sempat mengisi hatinya tersebut.
"Jangan lakukan Ngga, aku mohon." Ujar Maya ketika Rangga semakin mendekat ke arahnya ehh ralat ke arah Noah.
"Kau mencintai Cantikku Tuan, Hingga mau membantunya walau mati resikonya." Papar Rangga yang sudah berada di depan Noah dengan pistol miliknya bertengger di dahi Noah. Tak menggubris ucapan Maya sekalipun walau tatapannya sesekali mengarah padanya.
"Jangan lakukan hal gila Rangga, Bawa aku dan jangan sakiti Noah." Bentak Maya yang sudah muak dengan tingkah Rangga .
"Ow kamu membelanya cantik, Oh ya aku baru ingat jika pria di hadapanku ini adalah mantanmu bukan. Tapi mantan yang tercampakkan." Terang Rangga membuat Noah naik pitan. Tak peduli dengan pistol yng tengah bertengger di dahinya yang penting Noah bisa menghajar mulut si iblis.
Ctakkkk
Bughhhh
Bughhhh
Noah memutar pergelangan tangan Rangga hingga beralihlah pistol tersebut ke tangannya, Tak lupa tubuh yang dari tadi menindasnya ia pukul secara membabi buta.
Tak memberi kesempatan Rangga untuk melalwan, Noah kembali memukul Rangga tanpa ampun.
Hingga di beberapa menit kemudian beberapa security berbondong- bondong menghampiri tempat kejadian. Termasuk security yang tadi sempat di ancam oleh Rangga.
Ada yang memegang Noah agar berhenti memukili si lawan dan adapula yang membantu Rangga dengan bersimbah darah di sekitar wajahnya.
"Tolong pak jangan buat keributan, Tinggalkan tempat ini atau kalian akan saya laporkan ke pihak yang berwajib." Ancam kepala securty dengan tegas, Dirinya tak mau hidupnya terancam karena tak bisa tegas pada pria- pria di hadapannya ini.
Tanpa berbicara sepatah katapun, Rangga masuk ke dalam mobilnya dengan tatapan kecewa yang gagal membawa wanita cantiknya bersamanya.
"Jangan pikir aku kalah Cantik, Aku takkan mengalah dengan lapang dada sebelum kamu belum berada di genggamanku." Batin Rangga tertawa sinis dan mampu membuat Maya meneteskan air matanya.