Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Malam pertama



******* bersahutan di dalam kamar pengantin tersebut dengan beberapa kali ******* yang di rasakan baik Maya ataupun Aaron . Setelah beraktivitas panas di dalam kamar mandi tadi mereka melanjutkannya di dalam kamar tepatnya di atas kasur king sizenya yang kini sudah acak kadut oleh ulah mereka.


"Akhhh.." Pekikan Maya ketika sesuatu berharga yang selama ini di jaganya kini telah di rengut oleh sang suami. Darah merembes di sela- sela pejantan Aaron dan ia merasakannya. Hatinya lega ketika wanitanya masih bisa menjaga apa yang menjadi kodrat seorang perempuan.


Memejamkan mata menikmati rasa nikmat yang tak terhingga, Meskipun punggung kokohnya perih akibat cakaran dari sang istri tak membuat dirinya marah. Malah sebaliknya, Bahagia atas kenikmatan yang kini istrinya berikan.


" By sakittt.. gak bakalan muat itu." Rintih Maya air mata berlinang di sudut matanya merasakan perih yang luar biasa.


"Ssttt Rasakan nikmat sesungguhnya sayang." Ucap Aaron dengan suara beratnya, Memulai aksi secara perlahan agar istrinya bisa menyesuaikan benda asing di dalam tubuhnya.


Hingga beberapa menit, Maya mengeram ketika dirinya mencapai klimak kedua kalinya bersamaan dengan Aaron yang juga mencapai puncak kenikmatan.


Pengalaman pertama dan ia lakukan bersama isrti tercintanya. Meskipun pernah tinggal beberapa tahun di luar negeri Aaron sangat anti dengan yang namanya **** bebas apalagi disana semuanya bebas meskipun di depan umum.


Entah mengapa birahinya ikut mati ketika memutuskan untuk pergi dari kehidupan Maya dan berusaha melupakannya. Lalu ketika berada di sisi wanita yang kini telah menjadi istrinya dirinya selalu ingin menyentuhnya dalam tanda kutip mempermainkan tubuhnya.


Aaron ambruk di samping sang istri mengatur nafas yang terengah- engah akibat aktivitas tadi. Ingin bermain lagi tapi dirinya khawatir ketika tadi istrinya kesakitan hingga mengelurkan air mata. Menurutnya aktivitas oreoan bisa di lakukan esok atau nanti ketika sesuatu yang membuatnya hilang akal membaik.


"Sakit Hummy." Tanya Aaron memiringkan tubuhnya, Melihat istrinya memejamkan mata dengan air mata yang masih mengenang di sudut matanya.


Maya hanya mengangguk membenarkan ucapan Aaron, Merasakan sakit bercampur nikmat yang masih membuatnya terngiang- ngiang hingga.....


Kruukkkk.


Suara perut Maya berdentum, merasakan lapar yang sedari tadi di lupakan karena aktivitas panas mereka. Ia membuka matanya, Tersenyum dengan jailnya pada Aaron yang tengah melihatnya.


"Astaga ini mah waktunya makan siang Hummy, Maaf sayang aku ambilin dulu ya. Kamu disini saja gak perlu turun ke bawah." Ucap Aaron segera melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, membersihkan sisa- sisa percintaan mereka tadi.


"Tunggu sayang jangan kemana- mana." Peringat Aaron berlalu pergi.


"*Aduuhh apes, Perih banget lagi. Udah di bilangin gak muat juga masih aja maksa." Batin Maya menggerutu, ia berusaha mendudukkan dirinya bersandar di kepala ranjang.


"Ihh kan berdarah, mana sakit lagi tapi enak huwaaaa mau lagi tapi takut sakit." Batin Maya lagi. Menurunkan kakinya dengan susah payah, Berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Agak risih dengan cairan yang masih keluar dalam intinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


Aaron menuruni tangga dengan bersiul ria, Seperti memenangkan jackpot di siang bolong karena jam sudah menunjukkan jam 13:09 dan dirinya baru keluar dari kamarnya.


Talia yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala bukannya tak tau aktivitas di malam pengantin, Dirinya juga pernah merasakannya sewaktu menjadi pengantin dulu.


Arkan, Talia dan Aryan telah selesai dengan makan siangnya namun belum juga pergi dari meja makan. mereka melihat Aaron turun dengan tampang sumringahnya. Membuat para orang tua berfikir bahwa Aaron sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kakak capek dek." Sahut Aaron mengacak rambut Aryan yang belum beranjak dari duduknya.


"Ngeselin banget kakak mahh, Aku sampai kelaparan tadi pagi untung hari minggu kalau enggak udah aku gedor tu pintu." Sergah Aryan yang masih kesal.


"Aryan jangan begitu nak, Kakaknya baru pulang dari luar negeri kan kemarin. Mungkin kakak capek karena perjalanannya jauh." Nasehat Talia agar Aaron tak terpojok dengan kekesalan Aryan. Masih kecil sih tapi jika berbicara seperti makan cabai satu kilo, pedes gila.


"Iya maafin kakak ya Aryan besok kalau kakak gak sarapan bareng , kakak telvon biar Aryan gak nungguin oke." Sahut Aaron.


"Nah gitu kan enak, Awas aja kalau bikin aku nunggu lagi." Timpal Aryan melangkahkan kakinya pergi dari meja makan.


"Hufhhh punya adek sadis amat." Gerutu Aaron mendunkdukkan bokongnya di kursi, Membuat Talia dan Arkan saling pandang dan tersenyum penur arti ketika netranya mendapati kecupan merah keungu- unguan di leher Aaron.


"Sudah Ar." Tanya Talia menjaili si sulung.


"Hahh, apanya.?" Tanya Aaron bingung.


"Kayaknya gak lama lagi kita bakal punya cucu ya pa, Si bujang lapuk kerjanya sat set banget." Ucap Talia membereskan piring kotor di atas meja.


"Maksutnya apa sih Bun." Tanya Aaron yang masih kebingungan.


"tolong ya Ar kalau bisa peredam suara di kamarmu di aktifin, Teriakan putri papa kedengar banget sampek bawah tadi." Arkan berucap dengan nada santainya, namun membuat Aaron menelan salivanya dengan berat. Sebrisik itukan istrinya tadi.


"Ihh papa mah gak ngerti kalau udah uhh pengen gitu gak kepikiran kesana." Ucap Aaron santai namun hatinya menahan rasa malu ketika aktivitasnya yang vulgar terdengar ke telinga orang tuanya.


"ihh kok malah bahas kesana sih. Maya mana Ar, gak ikut turun juga. Masak gak lapar." Tanya Talia.


"Makan di kamar aja mah." Timpal Aaron, ia baru sadar jika istrinya kelaparan.


Mengsmbil nasi dan lauk pauk yang akan menjadi menu ala sarapan mereka berdua. Dengan gerakan cepat Aaron melangkahkan kakinya ke arah atas menuju kamarnya.


"Biasa pengantin baru maunya di kamar terus gak mau keluar." Ucap Arkan membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Namanya juga masih pengantin baru pa." Sahut Talia membereskan sisa- sisa makanan.


"Kita juga gitu yuk bun, Bikin adik lagi untuk Aryan biar gak kesepian si Aryan." Ucap Arkan tanpa filter dan hal itu mendapat sabetan di bahunya , oleh siapa lagi kalau bukan ulah Talia si istri yang tengah melotot ke arahnya.


"Mikir dong pa, udah tua juga masih mikirin bikin anak. Kita tuh tinggal nunggu cucu aja gak perlu bikin lagi. enak sih kamu gak pernah mengandung dan melahirkan." Cecar Talia kesal, Namun hanya di tanggapi cengiran oleh Arkan.