Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Rencana licik Aaron



Celine berjalan menghampiri Mayra yang baru saja keluar dari balik toilet. Ia tau jas yang tersampir di bahunya adalah milik sang kakak sepupunya sendiri.


"Kak dirimu sungguh memukau malam ini." Puji Celine ketika sudah berada di depan Mayra.


"Kamu bisa aja Cel, Kamu juga cantik kok."Sahut Mayra memegang dagu si gadis belia di hadapannya.


"Ihh masih cantikkan kak Mayalah, Kasih tipsnya dong kak biar nambah cakep plus plus gitu." Ujar Celine mengedipkan matanya.


"Hhahha kamu bisa aja. Gak perlu ada plus plusnya begini aja udah cantik, Cantik natural itu lebih menyenangkan." Papar Maya dengan senyuman tulusnya. Rasanya dirinya sangat cocok dengan gadis belia di hadapannya selain ceria ia juga konyol. Bisa menjadi temannya karena menurut Maya takkan kesepian jika ada Celine yang terlalu topcer bicaranya.


"Kak sharing- sharing di depan yuk disini telingaku kayak mau pecah, Pelayan." Panggil Celine ke arah waiters yang mengantarkan dua gelas minuman.


"Nih buat kakak dan ini buat aku, Yuk ke depan." Ajak Celine lagi ketika waiters menghampirinya.


"Bentar Cel." Sahut Mayra celingukan mencari Rangga, dirinya mau minta izin takutnya nanti Rangga kebingungan mencarinya.


"Udah ayok, Telingaku sakit kak." Celine menarik Mayra keluar dengan paksa, Dia tau Mayra tengah mencari seseorang yang ia yakini adalah Rangga Luxio.


Mayra melangkahkan kakinya mengikuti langkah pelan Celine sembari tangannya sama- sama memegang segelas minuman.


Ketika berada di luar nampak Celine menoleh ke kanan ke kiri memastikan bahwa semuanya aman terkendali. Hingga membuat Maya bingung dengan tingkah Celine yang menurutnya konyol padahal kursi ada di depannya namun Celine bertingkah seperti akan menyebrang, Membuat Mayra terkekeh geli dibuatnya.


"Cel mau apa sihh, duduk di situ juga bisa." Ujar Mayra ke arah tempat duduk di depannya, Ia heran yang melihat Celine kebingungan pasalnya ia seperti mencari seseorang.


"Oh iya kak, kok gak keliatan ya." Timpal Celine mengetok dahinya diselingi cengirannya.


Mereka akhirnya mendudukkan dirinya di bangku kosong depan gedung. Celine berusaha mencari topik agar Mayra nyaman bersamanya dan tak gelisah seperti sekarang ini.


Mungkin Celine berfikir jika Mayra gelisah karena Rangga bakalan bingung mencarinya.


"Pakai apasih kak? kasih tau dong.?" Pinta Celine mengguncang bahu Mayra.


"Gak ada Cel. Beneran deh, Aku gak suka makek produk di wajah soalnya takut rusak gitu. Mending ke salon perawatan aja." Timpal Mayra meminum minuman yang berada di tangannya.


Celine yang melihat itu tersenyum penuh arti, Tak lama lagi rencananya akan berhasil fikirnya.


"Iya sih kak lebih intensif gitu ya.?" Tanya Celine.


"Heem." Jawab Mayra meminum lagi minumanya hingga setengah.


Hingga beberapa menit, Mayra memijit pelipisnya yang tiba- tiba merasakan pening. Dirinya menaruh gelas yang berada di tangannya di sebelah kirinya.


"Kak, kenapan?." Ujar Celline mendapati Mayra memijit pelisnya sembari mengerjabkan matanya.


"Cel anteerin akhh." Pekikan Maya ketika rasa peningnya semakin kuat, Dirinya pingsan dan terjatuh di bahu Celine.


"Kak bangun kak." Celine menggoyangkan tubuh Mayra agar terbangun. Namun nihil Mayra tak membuka matanya, Karena ulah seseorang yang telah membubuhkan sesuartu di minumannya.


Seseorang yang sedari tadi mengintai ke dua wanita tersebut bergegas menghampiri.


Dengan langkah yang lebar, Pria tersebut mendekap Mayra ke pelukannya.


Ya, Aaron Addison memang sengaja memberikan sesuatu kepada sang wanita agar ia ikut bersamanya. Tak ada lagi kata bagi seorang Aaron untuk mengalah, Dirinya akan melakukan apapun agar wanitanya kembali padanya walau harus melakukan hal licik sekalipun.


"Kak kenapa kayaknya kak Maya kesakitan banget." Cecar Celine menysejajarkan langkah Aaron yang tengah menggendong Mayra.


"Itu memang efeknya Cel." Ujar Aaron datar , Ia mendudukkan dirinya di kursi penumpang bersebelahan dengan Noah sembari terus mendekap Mayra.


"Ben langsung ke lapangan." Titah Aaron mutlak, Dirinya enggan berlama- lama disini. Baginya London negara yang menyakitkan bagi dirinya.


"*Kita lanjutkan impian kita sayang." Batin Aaron mencium pelipis Mayra yang berada di dekapannya.


"Bukannya aku takut menghadipi dia, Tapi yang ku takutnya hanyalah kamu menolak untuk bersamaku. Maafkan aku yang terlalu pengecut sayang hingga menggunakan hal licik seperti ini." Batin Aaron memandang lekat wajah ayu yang masih setia terpejam*.


Ben dan Noah melihat sorot bahagia di mata Aaron, Mereka berdoa jika sahabatnya akan selalu bahagia setelah ini. Sedangkan Celine terlalu larut dalam lamunanya sehingga ia tak tau apa yang terjadi di antara kakaknya. Celine membayangankan akan terjadi sesuatu ketika sudah berada di indonesia. Entah mengapa semenjak pertemuannya dengan Maya di mall dan membahas seorang pria yang bernama Rangga. Dirinya mencari tau lewat situs yang membuatnya terbelalak kaget, Rangga Luxio seorang putra Mafia kelas kakap di London.


Celine begidik ngeri membayangkan semuanya hingga dirinya kelepasan menjerit di dalam mobil mengagetkan seisi mobil terkecuali Mayra yang masih setia memejamkan mata.


"Aaaa..." Teriak Celine menggelengkan kepala, Ia berdoa semoga apa yang di bayangkannya salah.


"Apasih bocil gak perlu teriak kali ,kayak orang kesambet aja." Seloroh Ben menggosok telinganya.


"Mmaaaf semuanya aku reflek kak." Ucap Celine nyengir dirinya melirik sekilas ke arah Aaron yang melotot padanya.


"Kak Aaron maafin soalnya kemarin aku lihat di artikel kalau si Rangga itu putra seorang mafia yah kak. Aku kok jadi takut banget kak ketika tau itu semua." Papar Maya memiringkan tubuhnya agar dirinya bisa leluasa melihat ke arah Aaron.


"Takut kenapa?" Jawab Aaron dengan nada datarnya.


"Ya secara kan kalau mafia itu kejam- kejam dan punya kekuatan di dunia bawah kak, Aku takut mereka akan mencelakai kalian." Timpal Celine mengeluarkan ketakutannya yang sedari tadi ia tahan.


"Dengar Celine Addison, Aku gak akan pernah tinggal diam ketika orang yang aku sayang di usik. Dan jangan salahkan aku jika aku mengambil sesuatu yang bukan haknya melainkan hakku. Memanfaatkan keadaan agar apa yang dia mau tercapai ,itu sangat menjijikkan bagi seorang mafia. Kau tau Cel dia terlalu pengecut mengklaim seseorang miliknya tapi dia tak berbuat apapun malah memanfaatkan keadaan." Papar Aaron yang emosinya sudah meninggi.


"Dan dengarkan aku baik- baik Celina Addison. Kamu menganggap aku pengecut, dan jawabanya memang iya kakakmu ini seorang pengecut. Karena apa, tadi kekasihku ini menolak ikut bersamaku, Apa yang kamu rasakan hah.? kamu pasti berfikir bahwa orang yang dirimu cintai berpaling darimu. Memang benar adanya bahwa dia lupa ingatan tapi dia akan merasakan getaran jika bersama orang yang dicintai. Aku melakukan hal licik ini semata- mata aku tak ingin kecewa, Aku berusaha mati- matian menyusulnya namun apa yang ku dapat. Dirinya tak mau kembali bersamaku." Terang Aaron menyampaikan ketakutan yang mendera di hati Celine. Tak perlu takut menghadapi seorang Mafia seperti Rangga yang dengan mudahnya mengklaim seseorang. Cukup percaya dengan apa yang sudah di rencanakanNYA.


"Tapi aku yakin kak, Kak Maya masih mencintaimu karena dia selalu bermimpi tentangmu kak. Mungkin kak Maya gak mau ikut denganmu karena ada yang di sembunyikannya tentang si Rangga." Papar Celine memberi tahu.