Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Aaron Emosi



Ketiga pria tampan dengan jas formalnya tengah menikmati alunan dj yang bisa menghanyutkan perasaan. Duduk di tengah- tengah ribuan manusia yang masuk dalam gedung hotel terbesar diLondon . Semua tamu undangan berasal dari kalangan atas , Sebab yang mengadakan acara adalah salah satu jajaran orang terpenting didunia.


Seketika pandangan para tamu undangan mengarah pada pintu masuk yang tengah disorot oleh lampu tak terkecuali ketiga pria tampan itu.


Aaron, Ben dan Noah berdiri ketika dirinya melihat seorang wanita dan pria yang nampak bergandengan tangan memasuki ballroom gedung. Tangan Aaron terkepal melihat wanitanya berpakaian seperti itu apalagi dirinya juga bergandengan tangan dengan mesra. Ia hendak melangkahkan kakinya namun cekalan tangan Noah membuatnya menoleh ke arahnya.


"Jangan gegabah, Dan jangan merusak acara ini. Ingat Ar rencana kita di awal." Ucap Noah memperingati. Ketika Aaron sudah merasa bisa menahan emosinya, Noah melepas cekalannya. Noah takut karena menurutnya Aaron sangat emosional jika menyangkut wanitanya.


"So beautifull, Amazing huhhhh. Bodynya bikin gua termehek- mehek Ar." Ucap Ben menyandarkan kepalanya dibahu Aaron, membuat Aaron dengan gesit mencekik lehernya dengan lengannya.


"Ar sakitt bego." Umpat Ben menahan tangan Aaron agar tak terlalu kuat mencekikinya.


"Berhenti membayangkannya bodoh." Ujar Aaron melepas cekikannya, Dirinya juga menyempatkan menonyor dahi Ben.


"Sadis amat sih Ar, Bagi- bagi napa." Timpal Ben setelah mereka duduk kembali namun Aaron tak sekalipun mengalihkan pandangannya pada sang wanita.


"Gak sudi." ketus Aaron.


Meskipun mereka berbicara selantang apapun jika suara musik dj menguak di dalam gedung itu, Takkan ada yang mendengar hanya saja seorang yang dekat dengan kita saja yang akan mendengar . Sama dengan yang dilakukan Celinne sedari tadi memanggil Aaron, jika dirinya tak menghampirinya maka percuma berteriakpun tak guna.


"Ih kakak. Suaraku sampai habis manggil kakak." Ujar Celine yang baru mendudukkan bokongnya disofa sebelah Aaron.


"Hay Celine anaknya om richard." Ujar Ben menyapa Celine.


"Nyebelin gak usah pakek anaknya om richard kenapa sih kak Ben, Gak perlu di kasih ekor juga." Timpal Celine kesal dengan ulah Ben. Ketika bertemu selalu saja sifat jail Ben muncul pada Celine. Karena Ben sangat suka melihat raut kekesalan dari gadis belia tersebut.


"Lhah kan memang anak om Richard Addison ,Gimana sih nih bocil." Sahut Ben lagi.


"Kakak Benjono yang tampan rupawan, Aku Celine Addison anaknya Papa Richard Addison bukan bocil lagi ya. Udah gede juga , Masak kuliah dikira masih bocil aja . Yang bener aja dong." Kesal Celine mencebikkan bibirnya dan bersedekap dada. Hal itu membuat Ben dan Noah tertawa lepas dengan tingkah gadis didepannya ini.


"Sudah diam, Jangan nambah bikin berisik." Sergah Aaron kala tak ada yang mau mengalah diantara Ben dan Celline.


" Kamu juga Cel, suruh siapa manggil di tempat kayak gini. Udah tau kondisinya berisik banget." Timpal Aaron tanpa melihat ke lawan bicaranya malah melihat ke arah lain yang lebih membuatnya tertarik.


Membuat Celine mengkuti arah pandangn Aaron. Dan benar saja, Wanita cantik sedang tersenyum bahagia bersama pria yang terus menempel seperti perangko.


"Ihh dia nempel kayak gitu apa gak malu." Gerutu Celine namun masih bisa di dengar jelas oleh Aaron.


Aaron menoleh ke arah Celline, Ia tau yang dimaksut Celline itu Rangga dan Maya. Netra mata Aaron kembali melihat pemandangan yang membuat hati panas bergemuruh. Apalagi banyak pria yang seperti sengaja menempelkan tubuhnya pada diri Maya. Ia tak suka dengan tingkah pria yang seperti itu, Meskipun Rangga berada disana dan melindungi wanitanya namun kesannya Rangga nampak bodo amat, Aaron ingin wanitanya dirinya yang melindungi bukannya pria lain


"Apasih kak jangan teriak- teriak. Wait kak dari tadi aku ngeliatin tuh cewek kayak kak Maya. Oh my god beneran dia kak Maya dan cowok itu pasti yang namanya Rangga. Dia yang udah bikin kak Maya gak ingat apapun." Ceplos Celinne membekap mulutnya ketika netra ketiga pria yang duduk dengannya melihatnya dengan tatapan penuh selidik.


"Hehehe keceplosan" ujar Celine dengan cengirannya namun ketiga pria tersebut menanti kejelasan selanjutnya dari Celline. Pasalnya tak ada yang tau jika Maya dibawa kabur oleh Rangga dan Celine juga mengatakan jika Rangga yang membuat Maya hilang ingatan.


"Begini kakakku, Sebenarnya ini rahasia ya antara aku dan kak cantikku. Mmm kemarin aku ketemu sama tuh." Tunjuk Celine ke arah Maya. Membuat Aaron, Ben dan Noah menoleh.


"Lalu." Sergah Aaron, Dirinya kembali melihat Celine. Agar Celine berterus terang semuanya.


"Mmm katanya kak Maya selalu mimpiin kak Aaron setelah pulih dari komanya." Timpal celine lagi.


"Maya koma?" Tanya Aaron dengan nada meninggi. Kaget tentu saja sebab setelah kecelakaan Maya hilang seperti di telan bumi.


"Heem kak. Kalau menurutku sih dia lupa ingatan, Soalnya dia pengen tau foto Aaron Addison ketika aku kasih tau dia bilang kayak gitu, kalau kak Aaron selalu hadir dimimpinya. Dan ketika bangun dari koma si Rangga itu ngaku jadi tunangannya kak Maya katanya." Ucap Celine antusias. Membuat Aaron menahan deru nafas yang tertahan, emosi tentu saja. Ketika mendapati fakta yang sesungguhnya.


"Kenapa dia kemaren gak berterus terang Ben sama gua, kenapa dia malah seakan- akan tak mengenali gua padahal dia bercerita kalau dia terus mimpiin gua." Aaro frustasi, ia mengacak rambut godrongnya yang semula terkuncir rapi kini acak- acakan.


"Apa kak Maya waktu ketemu kakak ada yang ngawal." Tanya Celine.


Aaron mengangguk, Memang kemarin bersa dengan asistenya.


"Dengarin aku dulu kak. Kayaknya kak Maya takut kalau assistentnya itu ngadu sama Rangga kak. Soalnya waktu kita lagi asik ngobrol pas tiba- tiba si Art itu datang, kak Maya kayak kaget gitu." Terang Celine lagi.


"Ben kita jalankan rencana kita secepatnya, Aku mau menemuinya dulu." Aaron beranjak ketika penglihatannya melihat Maya melangkahkan kakinya ke arah toilet.


"Wait, Rapiin dulu jangan bikin dirimu jelek didepan kak Maya kak. Takutnya dia ilfiel." Sergah Celine merapikan rambut kakak sepupunya yang berantakan.


"Semangat kakak, Aku yakin princesmu akan kembali kepelukanmu." Bisik Celine sebelum Aaron beranjak dari tempatnya.


Mayra melangkahkan kakinya ke arah toilet, ia terlalu risih berada di tengah- tengah pria yang ingin menempel pada dirinya. Ia lebih memilih toilet sebab disana sepi tak seperti di luar sana. Mayra membenahi rambut dan gaunya yang lumayan kusut didepan cermin.


Dirasa sudah cukup ia melangkahkan kakinya keluar setelah menarik nafas dalam- dalam. Ketika dirinya membuka pintu seseorang mendorong pintu dari luar. Hingga membiat Mayra memundurkan tubuhnya agar tak terkena pintu, Mayra terkejut ketika mendapati seorang pria masuk dan langsung mengukungnya di depan wastafel.


Membuat Mayra terjingkat kaget atas prilaku pria tersebut, Mayra mendongak namun matanya membulat ketika tau siapa pria yang telah kurang ajar padanya.


Mayra bingung menetralisir perasaannya, ia merasakan bahagia ketika melihat pria tersebut di depan matanya tanpa jarak sedikitpun.


"Aku gak pernah ragu jika ada orang yang bercerita jika dia calon suamiku. Aku sangat yakin jika dialah calon suamiku bukan Rangga. Karena ntah mengapa hatiku bahagia saat melihatnya, Aku nyaman berada di dekatnya lain jika aku bersama Rangga. Padahal aku cuma dua kali bertemu selama aku gak inget apapun." Batin Mayra menatap lamat wajah yang di tumbuhi bulu halus itu.