Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Keserakahan Amanda



"Sayang kamu kenapa kamu mendorongku Ar.?" Tanya Amanda bersedih, ia berusaha bangkit dari tempatnya.


"Kamu gila Amanda, Bener- bener gak waras. Aku sudah beberapa kali tekankan kalau aku gak akan pernah sudi mencintaimu. Kamu gak malu hahh... Di lihat banyak orang yang ada disini." Tanya Aaron penuh emosi, ia juga berdiri di depan Amanda dengan api kemarahan yang menyala. Menjadi pusat perhatian di Restoran tak mampu membuat seorang Amanda malu apalagi dirinya tak di hargai sama sekali oleh Aaron.


"Aku gak malu Aaron, Karna aku memang cinta mati sama kamu." Sergah Amanda berlinang air mata, Hatinya sakit namun dirinya masih berusaha mengambil hati pria yang sangat ia puja.


"Gila. ayo sayang kita pergi dari sini." Ucap Aaron menarik tangan Maya, Hal itu membuat Amanda menoleh ke arah Maya yang sedari tadi membisu tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Kamu...." Ujar Amanda tergagap, Syok tentu saja karena menurutnya Maya telah mati di tangannya sebab wanita yang begitu di puja prianya menghilang bak di telan bumi sampai berbulan- bulan. Hingga kini ia syok berat dengan kenyataan yang ada, ia fikir Aaron dengan mudahnya mengalihkan hatinya pada wanita setelah sosok Maya pergi dari kehidupannya. Ternyata ia salah besar, Wanita yang sangat di bencinya kembali lagi ke dalam pelukan pria yang selalu di pujanya.


Baik Amanda dan Rangga setelah perdebatan bulan lalu, Mereka sama- sama tak berkomunikasi apalagi Amanda terlalu geram dengan sikap Rangga yang kurang cepat dalam mengatasi sesuatu. Sehingga dirinya mengambil jalan pintas lain untuk menghambat hubungan Aaron dan Maya. Jadi Amanda tak tau menau jika Ranggalah yang telah menyelamatkan rivalnya.


"Bukannya kamu sudah mat.."


"Tutup mulutmu Amanda, Jangan berani kamu menyentuh istriku". Sergah Aaron ketika Amanda ingin menggapai wajah sang istri untuk memastikan bahwa dugaannya salah.


"I-istri, Maksut kamu?" Tanya Amanda tergagap ,ia merasa bingung dengan keadaan. Bukannya Maya menghilang dan kini Aaron mengucapkan bahwa Maya adalah istrinya.


"Maya Afriaresa adalah istriku Amanda, Istri sah Aaron Addison." Ucap Aaron datar, Ia melangkahkan kembali kakinya pergi dari hadapan Amanda. Terlalu muak menghadapi wanita yang tak punya urat malu seperti Amanda.


"Tapi Ar Maya udah aku tabrak dan mati Ar, Dia bukan Maya....." Ucapan Amanda terhenti ketika tatapan Aaron begitu mengerikan ke arahnya. Ia bingung mengapa tatapan Aaron seperti mengintimidasi ke padanya. Apalagi Aaron menghampirinya dan langsung mencekik leher Amanda. Membuat yang di cekik merintih kesakitan, Hingga nafasnyapun tersenggal- senggal.


"Tak sadar kah kamu dengan ucapanmu Amanda." Ucap Aaron seperti akan mamangsa Amanda. Semua yang berada di Restoran nampak tercengan namun tak ada satupun yang berani membantu Amanda. Siapa yang tak mengenal Aaron yang terkenal sifat kejinya.


"A-ku gak tau Ar. T-olong lepass, Sakkit Aar." Ucap Amanda dengan nafas tersenggal- senggal, Ia memegang menahan lengan Aaron agar melepas cekikannya.


"Kamu yang membuat wanitaku hilang dan kesakitan Amanda .Kamu biang dari masalah yang menimpa wanitaku, Hingga dia hampir mati karena kamu tabrak hah jawab aku Amanda ." Bentak Aaron dengan amarah yang memuncak, Ia tak habis pikir dengan tingkah Amanda. Aaron memang sempat curiga dengan Amanda dan Rangga yang menyebabkan wanitanya kecelakaan dan menghilang bak di telan bumi , titik terangnya pun sangat sulit terkuak.


Degggg.


*Amanda tertegun dengan ucapan Aaron, Ia tak sadar ketika ucapannya yang membuat Aaron marah besar padanya. Dia keceplosan tentang fakta sebenarnya yang menimpa Maya.


"By.. jangan* dia bisa mati by, Aku mohon hentikan." Ucap Maya memegang lengan Aaron yang masih setia bertengger di leher Amanda.


"Gak akan aku biarkan seseorang yang melukaimu tenang sayang." Sergah Aaron masih dengan emosi yang meluap.


Dengan perlahan, cekikan di leher Amanda melonggar. Membuat Amanda merosot ke bawah dengan lemah, ia hampir saja kehilangan nyawanya di tangan Aaron.


"Jangan lakukan lagi by aku gak mau kamu masuk penjara dan ninggalin aku sendiri." Maya memeluk Aaron dengan erat, menyalurkan ketenangan kepada sang suami.


"Aku gak mau hal buruk terjadi lagi sama kamu sayang, Aku mau membunuh orang- orang yang berusaha melukaimu." Ucap Aaron mengecup sekilas dahi istrinya. Mendengar ucapan Aaron membuat Maya menggelengkan kepala, ia tak membenarkan tingkah Aaron yang sangat tak manusiawi tersebut.


"Jangan lakukan itu by, Apa bedanya kamu dengan dia kalau sampai itu terjadi. Biarlah Tuhan yang membalasnya dan hukum yang akan menjeratnya. Pliss jangan bikin aku ketakutan dengan hidup dengan seorang pembunuh." Ucap Maya melerai pelukannya, memandang wajah suami yang nampak bersedih di hadapannya.


Mendengar interaksi antara Maya dan pria yang di pujanya membuat Amanda berusaha bangkit meskipun nafasnya agak tercekat. Hatinya sangat teriris ketika prianya lembut sekali menanggapi setiap ucapan Maya.


"Ar aku hanya ingin kamu, hingga aku berusaha menyingkirkan benalu di hubungan kita. Sebelum kehadiran dia, Hubungan kita baik- baik aja Ar. Buka mata kamu Ar, Aku yang tulus sama kamu." Sergah Amanda dengan suara lemahnya namun mampu membuat emosi Aaron kembali menyala.


"Jaga ucapanmu Amanda, hubungan kita hanya sebatas teman dan itupun dulu sekarang aku tak sudi mempunyai teman iblis seperti kamu, Dasar tak punya hati. Jika bukan istriku yang meminta, sudah mati kamu di tanganku Manda." Ucap Aaron merangkul bahu isrtrinya agar pergi meninggalkan tempat tersebut.


Belum juga Aaron dan Maya melangkahkan kakinya, Amanda dengan gesit mencekal tangan Maya dan menamparnya hingga ia tersungkur ke lantai.


Plaakkkk....


"Dasar ******." Teriak Amanda dengan sisa kekuatannya, Ia menindih Maya dan mencekiknya dengan kekuatan seadanya.


"Sialann Amanda. Lepas jalangg." Bentak Aaron berusaha menarik Amanda agar melepas cengkraman tangannya di leher Maya.


Para security yang sedari tadi melihat pemandangan sang atasan yang emosi berusaha diam, Namun kini mereka berlari tergopoh- gopoh ketika istri dari atasannya telah di aniaya.


Memegang kedua tangan Amanda yang sudah di tarik paksa oleh sang atasan kini mereka hanya menungguh titah selanjutnya.


"Sayang, kamu gak apa- apa.?" Tanya Aaron membantu istrinnya berdiri.


"Bawa dia pergi dari sini, dan Laporkan semuanya pada pihak yang berwajib. Aku Aaron Addison akan membuat siapapun akan menyesal setelah menyakiti isriku." kecam Aaron , ia menggendong istrinya ala bride style pergi dari tempat tersebut. Siapa yang tak sakit hati ketika istri yang begitu di jaganya kini memejamkan matanya, entah apa yang di rasakannya,namun sukses membuat seorang Aaron kalang kabut.


"Sayang, hey buka matamu." Ucap Aaron menepuk pelan pipi Maya yang memejamkan matanya. Kini mereka tengah berada di dalam mobil setelah Aaron berusaha berlari agar cepat keluar dari tempat yang menyakiti istrinya.


"By jangan ganggu aku, Aku pusing . Tolong izinin aku tidur sebentar." Ucap Maya masih memejamkan matanya, membuat Aaron yang sedari tadi khawatir sekarang bernafas lega.