
Setelah dirasa semuanya sudah selesai baik Aaron dan Maya bergegas pulang, Lelah sudah pasti. Meskipun hanya mencoba gaun, Namun lelahnya sungguh terasa.
Namun ketika keluar dari Elisa butick, Maya melihat gerobak es buah. Dirinya sudah lama tak menikmati es buah pinggir jalan , Mungkin terakhir waktu masih SMA pikirnya. Dirinya berinisiatif membeli es itu tak lupa juga Maya meminta izin ke Aaron.
"A aku beli itu dulu ya A.?" Tanya Maya ketika Aaron memasuki mobilnya.
"Apa sayang." Aaron mengikuti tunjukkan tangan wanitanya.
"Biar aku yang beliin sayang." Saran Aaron. Karena jarak antara gerobak dan mobilnya lumayan jauh.
"Udah A gak usah, Aku bisa sendiri bentar doang kok." Sahut Maya.
"Iya hati- hati, Aku tunggu dimobil ya." Jawab Aaron tersenyum.
Maya mengangguk mengiyakan ucapan Aaron. Aaron memasang airport ditelinganya sembari menunggu Maya dirinya menghubungi Ben untuk menanyakan pekerjaannya.
Sesampai dipinggiran jalan Maya menengok kanan dan kiri memastikan takkan ada kendaraan yang melintas ketika dirinya menyebrang. Ketika tak ada kendaraan yang berlalu lalang, Maya melangkahkan kakinya menyebrang jalan . Hingga dipertengahan jalan, Sebuah mobil dari arah selatan melaju dengan kecepatan tinggi. Maya tak bisa menghindar karna dirinya kalah cepat dengan mobil yang melaju kencang itu.
Bruuukkkkk...
Tubuh Maya terpental sejauh satu meter dari tempat kejadian. Semua orang yang berada disana berteriak histeris menyaksikan kecelakaan naas itu. Maya terkapar dipinggir jalan, darah bercucuran dari kepala dan tubuhnya. Mobil yang menabraknya melarikan diri secepat kilat agar dirinya tak dimintai pertanggung jawaban ataupun diamuk masa.
Pria tampan kebule- bulean berlari ke arah segrombolan orang dimana Maya sudah tak sadarkan diri. Pria itu memeluk tubuh lemah Maya membawanya kepelukannya. Dirinya terlambat menyelamatkan wanita yang secara diam- diam ia intai.
Pria bule itu memang sengaja mematai Maya sendiri tanpa menyuruh pengawalnya karena dia tak ingin wanita yang sudah mengusik hatinya dicelakai oleh sepupunya yang sangat membenci Maya.
"May bangun gua mohon." Teriak pria itu menepuk pipi Maya dengan pelan.
Tak ada reaksi dari Maya tanpa membuang waktu pria itu menggendong ala bride style, Membawanya kerumah sakit terdekat agar cepat ditangani oleh dokter.
Membawa mobilnya secepat mungkin agar wanita yang dengan mudahnya meluluhkan hatinya terselamatkan.
Aaron membuka pintu mobil, Dirinya melihat segerombolan orang sedang dipinggir jalan. Aaron juga melihat banyak darah berceceran di sepanjang jalan itu. Aaron juga melihat ke arah gerobak tukang es buah yang diminati Maya, Namun dirinya tak mendapati Maya disana. Berjalan kesegrombolan orang ditepi jalan, Siapa tau Maya ikut bergerombol disana pikirnya.
"Mungkin dia lagi beli yang lainnya." Batinnya
"Maaf buk ada apa ya.?" Tanya Aaron. Segrombolan orang menoleh ke arahnya.
"Itu tadi ada kecelakaan ." Sahut ibu- ibu disamping Aaron.
" Cewek apa cowok buk?" Tanya Aaron lagi, Matanya juga mencari- cari keberadaan Maya namun sampai saat ini belum ketemu dipenglihatannya.
Degggg.
"***Ciri- cirinya bagaiman ya buk." Tanya Aaron penasaran. Semoga fikirannya salah.
"Putih, tinggi pakek baju levis kalau gak salah ya." Sahut Teman yang satunya***.
"Kenapa ciri- cirinya mirip Maya. Enggak mungkin Maya kecelakaan mungkin dia masih beli sesuatu." Batin Aaron meyakinkan.
Namun dirinya ragu hingga dirinya berinisiatif menunjukkan foto wanitanya. Dan benar saja mereka serempak menganggukkan kepala. Tubuh Aaron melemah hingga tanpa sadar handpone yang berada digenggaman tangannya jatuh.
"Lalu dimana sekarang dia." Sergah Aaron ketika mengetahui sang wanita tak ada di tempat kecelakaan.
"Tadi ada yang bawa dia kerumah sakit tuan." Sahut salah satu dari mereka tergagap ketika melihat wajah Aaron tak bersahabat.
Tanpa buang waktu Aaron mengambil handponenya, Berlari ke arah Mobil. Sebelum mobilnya berjalan Aaron mencoba menelvon Maya. Namun sialnya tas dan handpone wanitanya ada disamping kemudi. Maya hanya membawa uang yang menurutnya cukup membeli es buah.
Aaron membawa mobilnya ke rumah sakit terdekat siapa tau yang membawa Maya, Membawanya ke sana.
Tak butuh waktu lama, Aaron berlari ke arah resepsionis. Bertanya tanpa sabar dirinya sudah sangat teledor membiarkan wanitanya menyebrang sendiri tanpa dirinya.
" Mbak tolong cek wanita yang barusan tabrak lari barusan cepett." Bentak Aaron dirinya tak sabar menunggunya.
"Maaf mas wanita yang kecelakaan tabrak lari sudah di bawa ke rumah sakit luar negeri bersama suaminya." Timpal Perawat sesudah memeriksa daftar pasien.
"maksut kamu apa hah.? Aku calon suaminya." Bentak Aaron dirinya tak peduli ketika semua pandangan melihat ke arahnya.
" Lihat apa ini wanitanya." Aaron menyodorkan foto wanitanya.
"Iiiyaa bener pak dia sudah dirujuk ke rumah sakit luar negeri dan pria yang mengantarkannya mengaku suaminya." Sahut perawat itu gugup.
" Rumah sakit macam apa ini kenapa kalian begitu bodoh hahh... Tanpa mencari tau identitasnya kalian mempercayainya." Teriak Aaron emosi bagaimana bisa ada rumah sakit yang langsung mempercayai tanpa adanya identitas.
"Maaf tuan kami terlalu panik . Pria yang bersama korban menodongkan pistol ke arah kami kalau kami tak menurutinya." Ucap Perawat tertunduk.
"Bodoohh kalian bodohh." Bentak Aaron, Dirinya berlari ke arah mobilnya. Mengapa dirinya membiarkan Maya menyebrang sendiri.
Aaron menghubungi para sahabatnya meminta bantuan pada mereka agar wanitanya cepet ditemukan.
Aaron kembali membawa kuda besinya menuju bandara siapa tau bisa dapat titik terang dari wanitanya.