
Talia memasuki ruang kamar tempat Maya dirias, Ketika membuka pintu menyembulkan kepalanya dan mendapati Maya yang tengah tersenyum bahagia dari pantulan cermin.
"Nak." Panggil Talia membuat Maya menoleh dan tersenyum padanya. Ia harus berusaha bersikap seperti Maya yang terdahulu ketika berkumpul dengan keluarga Addison, Ia tau jika keluarga Addison sangat menyayanginya terlihat jelas dari netra mata mereka ketika memandangnya dengan binar ketulusan.
"Iya tan ehh Bun... Maaf ya bun aku masih agak kaku dengan panggilannya." Maya berujur dengan menundukkan kepala. Talia pasti sangat kecewa pada dirinya ketika ia tak mengingatnya.
"Sayang jangan merasa bersalah, Wajar saja kamu masih kaku nak. Semoga dengan kejadian yang menimpa kalian, Tuhan memberi jalan kemudahan selanjutnya." Talia memegang bahu Maya, menunjukkan betapa kasih sayangnya pada putri tersayangnya.
"Makasi tan Mm Bun udah mengerti kondisiku." Ucap Maya menatap wanita yang menganggapnya seperti putrinya.
"Ayo semua sudah siap nak. Semoga acaranya berjalan lancar dan mendapat keberkahan dariNya." Ucap Talia menggandeng tangan Maya, menuntunnya menuju tempat dimana dirinya akan menjadi seorang istri Aaron Addison.
Membuka pintu dengan lebar, Tiara menununggu Maya di luar menurutnya Talia butuh ngobrol berdua dengan Maya .Ia juga menyambut Maya dengan mengapit lengannya, Maya menyambut dengan sangat antusias
"Hay kamu siapa." Tanya Maya mencoba lebih mengenal keluarga yang sangat baik padanya.
"Aaku Tiara May sahabat kamu dan kita juga saudara angkat." Ucap Tiara tergagap air mata sudah mengenang di pelupuk matanya.
"Heyy maaf ya aku gak inget jangan nangis dong." Timpal Maya mengusap bahu Tiara agar lebih tenang. Semenjak Tiara hamil dirinya memang sering sensitif dan gampang menangis. Mungkin bawaan jabang bayinya yang memasuki bulan ke 6 hingga membuat suaminya ektra bersabar dengan perubahan sikap drastis dari Tiara.
"Iya aku ngerti kok, Aku bersyukur kamu sudah kembali May." Timpal Tiara memeluk sahabatnya, Membuat Maya merasa tak nyaman dengan perut besar Tiara yang menempel terlalu erat padanya, ia takut akan melukai bayi yang masih dalam perut sang mama.
"Mmm Tiara jangan erat- erat takut baby gak bisa nafas." Ujar Maya membuat Tiara langsung melerai pelukannya.
"Maaf may, aku terbawa suasana." Timpal Tiara kembali mengapit lengan Maya.
Mereka bertiga berjalan bersama, Melangkahkan kakinya ke arah pak penghulu yang sudah duduk di depannya juga sudah ada Aaron yang mengenakan tuxedo putihnya menampakkan betapa maco dirinya saat ini.
Tak ada yang tau kehadiran mereka bertiga apalagi Aaron yang sepertinya sibuk menghafal entah apa yang di hafalnya terlihat jelas bibirnya seperti komat- kamit gak jelas.
"Wow So beautifull ." Ucap Ben ternganga ketika pandangannya mendongak dan di saat itu pula dirinya takjub dengan kecantikan Maya yang semakin terpancar dengan sentuhan make up yang tak terlalu mencolok.
Aaron yang mendengar ucapan Ben menolehkan wajahnya pada sesuatu yang membuat mata Ben tak berkedip.
Dirinya terbelalak, ketika netranya mendapati Maya dengan sangat anggunnya melangkah ke arahnya. Ia sampai tak sadar kakinya melangkah menghampiri calon istrinya.
"Hummy." Ujar Aaron yang sudah berada di depan Maya, Talia memberikan tangan Maya agar diapit di lengan Aaron, Ia menyambut lengan wanitanya dengan antusias.
"Ar udah jangan mangap aja lanjut kagak nih ceritanya." Pekik Ben membuat semuanya tertawa, Aaron dengan segera membawa wanitanya duduk di depan penghulu yang sedari tadi menunggunya.
"Bagaimana, Apa bisa di mulai." Ucap penghulu ketika Aaron dan Maya sudah duduk di hadapannya.
"Langsung saja pak." Timpal Aaron yang membuat Ben memijit pelipisnya, Menurutnya Aaron sudah tak sabaran menikahi Maya.
"Bismillahirohmannirohim saudara Aaron Addison binti Arkan Addison saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Maya Afriaresa binti Hendra Afriaresa dengan mas kawin dengan seprangkat alat sholat dan emas 75 karat di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Maya Afriaresa binti Hendra Afriaresa dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Aaron dengan lantang membuat Ben spontan berdiri dan berucap....
Sahhhhhhhh
"Bagaimana saksi sahh." Ujar Penghulu yang menggelengkan kepala melihat tingkah Ben yang menurutnya agak aneh.
***sahhh
sahhhhh
sahhhh***.
"Alhamdulilah, Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, Monggo nak Maya mencium tangan suaminya dan nak Aaron mencium kening istrinya." Ucap penghulu memberi arahan.
Maya mengikuti apa yang diucapkan oleh penghulu, Mencium dengan khidmat tangan pria yang kini sudah menjadi suaminya. Tak lupa Aaron juga mencium kening Maya lama, ia juga dengan gerak cepat menyambar bibir ranum wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Maya di buat terbelalak dengan serangan dadakan dari Aaron, ia berusaha mendorong dada Aaron agar menghentikan aksi gilanya. Namun Aaron tak menggubris malahan ia menggenggam erat tangan Maya yang sedari tadi memukulinya.
Membuat para undangan yang melihat tingkah Aaron bersorak bahagia apalagi Ben yang terkenal dengan kejailannya.
"Wowooo langsung gas Bray." Ucap Ben menggepak bahu Aaron, membuat Aaron menghentikan ativitasnya dan memelototkan matanya ke arah Ben dengan menampakkan wajah bodohnya.
"Ini anak ngerti tempat napa sih, Udah tau masih banyak bocil." Talia menghampiri Aaron dan menjewer telingan dengan keras, ia tak habis pikir kenapa dirinya memiliki anak semesum Aaron pikirnya.
"Iya ampun Bun gak bakal di ulangi lagi sweaar dehhh, Lepas bun sakit." Pekik Aaron merasakan betapa panasnya jeweran sang bunda.
"Biarin, Biar tau rasa."
"Hummy tolongin." Ucap Aaron mengiba, Maya meringis melihat telinga Aaron yang di jewer bunda terlihat sangat sakit tapi dirinya enggan menolong, ia juga sangat kesal dengan sikap Aaron yang terlalu berlebihan.
Maya berdiri melangkahkan kakinya ke arah Tio, ia sedari tadi melihat Tio yang tak lepas melihat dirinya dengan air mata yang menetes di pelupuk matanya. Hatinya teriris melihat pria tersebut menangis di depannya seperti ada rasa yang menggelitik pada dirinya agar mendekat ke arahnya.
"Ayah." Maya menyapa, tak lupa menyalimi seseorang yang menurutnya sudah mengangkat dirinya menjadi seperti anak kandungnya. Ia tentu tau semua itu berkat Aaron yang telah menunjukkan satu persatu keluarga menggunakan foto mereka masing- masing.
"Kamu mengenal Ayah nak.?" Ucap Tio memastikan.
"Mmm masih belum yah hanya saja Hubby udah ngasih tau foto keluarga disini. Biar aku sedikit paham meskipun ingatanku masih belum kembali." Papar Maya yang membuat Tio , Tiara dan Noah manggut- manggut. Ya, disebelah Tio terdapat Tiara dan Noah yang mendengar semua ucapan Maya.
"Jadilah istri yang sholehah ya, Nurut sama perkataan suami kalau itu menurut kamu benar." Ucap Tio merengkuh tubuh Maya mengungkapkan kerinduan dengan cara memeluknya, Begitu juga dengan Maya membelas pelukan dari sang Ayah walaupun Ayah angkat namun sepertinya insting mereka bersama.