Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Pilihan final



Pov Maya...


Aku tak mengerti apa mau Rangga dengan gencarnya mempermainkan hidupku, apalagi yang baru saja kudengar jika yang telah membunuh suamiku adalah Luxio. Di indera pendengaranku nama Luxio itu sangatlah familiar , aku mengingatnya dan yah ternyata Luxio itu adalah ayah kandung dari Rangga.


Lalu apa tujuannya ayahnya Rangga membunuh Aaron, tanpa ditutupipun aku berkeyakinan bahwa Luxio membunuh Aaron atas perintah dari Rangga.


Gak mungkin jika Luxio tiba- tiba saja membunuh Aaron sedangkan dirinya tak mengenal Aaron sebelumnya.


"Licik banget kamu Ngga, baiklah sampai mana kamu berkeyakinan bahwa bangakimu takkan tercium juga." Batinku dengan mata masih terpejam.


"Kamu bermain licik, aku akan berusaha menjadi licik juga membalas kematian suamiku Rangga." Teriakku dalam hati, Istri mana yang tak merasa kehilangan kala suami yang begitu di cintainya di bunuh secara keji tepat di depan matanya.


"By, aku akan membalasnya by." Batinku lagi sembari mengerjabkan mata kala orang yang baru saja berbicara dengan Rangga membuka pintu untuk keluar runganannya.


"Euugghhh..." Aku melenguh agar Rangga melihat ke arahku jika aku sudah sadar dari pingsanku.


"Cantik kamu bangun.?" Tanya Rangga mendudukkan dirinya di samping brankarku.


"Waktunya bersandiwara." Batinku sembari menampilkan senyum manisku. Aku berfikir Rangga pria yang baik karena telah menolongku sewaktu kecelakaan dan merawatku hingga aku sembuh.


Namun kenyataannya Rangga ada maksut tersendiri padaku, entah apa yang membuatnya tergila- gila denganku. Aku merasa biasa saja dan masih banyak juga di luaran sana wanita yang lebih dari aku.


Lalu kenapa harus aku yang dipilih Rangga untuk tempat bersinggahnya padahal dia juga tau kalau aku sudah mempunyai kekasih bahkan suami meski kini suamiku sudah bahagia disana.


"Makasih ya Ngga udah nolongin aku, aku gak tau kalau gak ada kamu disana. Mungkin aku akan ikut dengan suamiku." Ujarku menekankan kata suami agar dia tau statusku yang sesungguhnya kalau dia lupa.


Ku melihat Rangga mengerutkan dahinya, mungkin dirinya bingung dengan perubahan sikapku yang awalnya terkesan benci melihatnya tapi kini senyumanku tak pernah kulunturkan dari wajahku.


"Cantik, bukankah kamu sangat membenciku ." Tanya Rangga seperti sangat penasaran dengan perubahan sikapku. Aku seperti ingin berlari meninggalkan Rangga kala tatapannya membuatku sangatlah risih.


"Awalnya sih iya, tapi aku mikir mungkin Tuhan sudah menggariskan takdir ini untukku ." Ujarku menatap lurus ke atas dengan tatapan kosong.


"Jangan bersedih cantik. Selama ada aku , kamu akan bahagia." Ujar Rangga dengan lancangnya mengecup dahiku.


Rasanya ingin sekaliku benturkan otaknya agar kembali ke dalam mode normal, Aku risih, dan muak dengan tingkah Rangga yang lancang itu.


Pov Maya end.


Rangga tersenyum menang kala wanita yang sedari tadi histeris setiap melihatnya, kini sudah tidak lagi.


Rangga bahagia apalagi Maya menerima ciumannya dengan senyuman mempesonanya. Membuat Rangga seperti mendapat lampu hijau dari Maya apalagi dirinya baru saja menyandang status janda apalagi dirinya tengah hamil muda.


"Mmm Ngga bolehkah aku minta sesuatu sama kamu Mmm aku lagi nyidam Ngga." Seru Maya memelas, agar Rangga mau mengabulkan kemauannya.


Rangga hanya mengangguk sembari senyumannya tak lepas dari wajahnya, Dirinya senang jika Maya mau bergantung padanya.


"Aku ingin jaleby dan ladu dari negeri asalnya, Bayiku mau kamu yang beliin Ngga. apakah boleh." Tanya Maya dengan tampang yang tak terbaca, Sontak saja perkataan Maya membuat mata sipit Rangga membulat.


"Tap...." Belum selesai ucapan Rangga, Aren menyelanya dengan wajah tertekuk.


"Yaudah kalau gak mau, Jangan harap kamu bisa ketemu aku lagi." Ancam Maya membelakangi Rangga yang masih dilanda kebingungannya.


Perkataan yang terlontar dari mulut Maya membuat Rangga terjingkat kaget. Dirinya berusaha menutupi kedoknya dengan apik malah kini hanya masalah jaleby dan ladu membuat Maya tak mau melihatnya lagi.


Dengan gerakan cepat Rangga menyanghupi permintaan Maya walau itu nyawa taruhannya pikir Rangga.


"Baiklah cantik nanti aku akan berangkat ke india dan akan segera pulang membawa keinginanmu." Ujar Rangga pasrah padahal baru tadi dirinya bahagia kala Maya tak melihatnya dengan tatapan bencinya. Dan kini dirinya harus berpisah jauh dari Maya, walau dengan berat hati dirinya akan tetap memenuhi keinginan Maya.


"Siapa tau nanti dia merasa nyaman denganku dan menjadikanku ayah sambung dari anak si brengsek itu. Usahamu membuahkan hasil tua bangka." Batin Rangga tersenyum miring dan bisa dilihat dengan jelas oleh netra Maya. Ia mengira Rangga akan melakukan hal gila lainya yang dirinyapun tak tau.


"Jangan salahkan aku Ngga, kalau aku menjelma menjadi wanita jahat untukmu." Batin Maya membalikkan tubuhnya secara sempurna agar Rangga tak curiga apalagi dengan tatapan popoy eyesnya yang menggemaskan.


"Sekarang ngga." Pinta Maya lagi.


"Baiklah- baiklah aku pergi sekarang. Jangan kemana- mana karna ada bodyguard yang akan menjagamu disini cantik." Timpal Rangga membuat Maya tercengang namun dengan cepat dirinya menetralisir perasaannya yang campur aduk tersebut.


"Aku gak mau, kamu pikir aku anak kecil hah .? pokoknya aku gak mau Ngga." Ujar Maya berusaha mendudukkan dirinya di kepala ranjang.


"Tapi...."


"Kalau gak ikhlas ya udah gak masalah kok." Sahut Maya menyela ucapan Rangga yang akan bersuara.


"Aku ikhlas kok, baiklah tak ada bodyguar untukmu tapi kamu janganbpergi dari sini sebelum keadaanmu pulih, apa kamu mengerti?" tanya Rangga memegang bahu Maya namun dengan cepat Maya menyingkirkan tangan itu di bahunya. Ia takut Aaron akan cemburu kala melihatnya apalagi mengingat sang suami yang posesive yang berlebih walau dunianya sekarang berlainan.


Rangga berpamitan pada Maya karna tepat di hari ini juga, dirinya akan pergi ke tanah india hanya untuk membeli jajanan pasar khas india. Sungguh membuatnya terkikik geli apalagi dirinya membayangkan bahwa anak yang dikandung Maya adalah anaknya, Mungkin Rangga salah satu manusia terbahagia sedunia.


Tak apalah dirinya berhayal saat ini, tapi dirinya masih berusaha meluluhkan hati Maya yang di tinggal mati oleh Aaron.


"Maya kamu membuatku selalu gila ketika mengingat wajahmu ." Batin Rangga melangkah sembari tersenyum hingga membuat sang bodyguard yang mengikutinya terheran- heran dengan sikap Rangga yang tak biasanya.


Setelah kepergian Rangga, Maya mulai beranjak dari kasurnya. Dirinya mengambil handpone yang berada dalam tas yang sudah basah, untung saja Rangga tak melupakan tasnya.


Maya mengetik sesuatu pada semua keluarganya agar tak menghawatirkannya. Tekadnya sudah bulat untuk pergi meninggalkan kota penuh kenangan manis ini bersama Aaron, meninggalkan semuanya.


Maya berusaha meyakinkan hatinya bahwa dirinya bisa melewati semua cobaan bersama buah hatinya kelak.


Tak ada seorangpun yang tau dimana nantinya Maya akan tinggal karena Maya enggan menghadapi cobaan yang tak kunjung berhenti padanya.


Capek dan muak , dirinya hanya akan membawa kenangan yang mengisi rahimnya saat ini. Kenangan yang tak pernah terlupakan selama hidupnya. Hidup sendiri pilihannya, tanpa merepotkan keluarganya yang sangat baik kepadanya.


"By , aku pergi by membawa anak kita. Aku janji akan merawatnya dengan baik." Batin Maya meneteskan air mat.