
Aaron sangat bahagia ketika wanitanya menurut dengan perkataannya. Semoga apa yang di lakukannya akan mendapatkan kebahagiaan selalu atasNya.
"Aar Mmm Hubby, kita dimana sekarang?." Tanya Maya yang masih agak kaku dengan panggilannya untuk Aaron. Apalagi dirinya masih canggung di depan pria yang dengan mudahnya membuat dirinya nyaman.
"Sayang sini aku akan jelasin semuanya ke kamu." Aaron menggiring Maya untuk duduk di sofa.
"Aku sengaja kasih kamu minuman yang di dalamnya udah di kasih obat tidur." Ucap Aaron ia mengamati raut wajah Maya yang nampak terkejut.
"Aku memang sengaja karena kamu menolak ajakan aku sewaktu di toilet, kamu inget kan?." Ucap Aaron lagi dengan nada jailnya, hingga membuat Maya memalingkan wajahnya. Ia masih sangat mengingat jelas aktivitasnya bersama dengan Aaron di dalam toilet. Dan betapa bodohnya dirinya sangat menikmati sentuhan Aaron, Ingin lagi dan lagi.
"Hey.... Lihat aku." Aaron menarik dagu Maya agar melihat ke arahnya.
"Kamu tau, Aku sangat sakit hati ketika dapat penolakan dari kamu. Kalau seandainya kamu mau, bisa saja aku melawan Rangga tanpa melakukan hal licik seperti itu." Papar Aaron menggenggam tangan Maya, Menyalurkan rasa cintanya pada sang wanita terkasihnya.
"Tap...." Ucapan Maya terhenti ketika jari Aaron di letakkan di atas bibirnya.
"Sstttt... jangan potong dulu sayang. Dengerin dulu ya."
"Kamu mungkin menganggap aku pria pengecut yang tak mau mati konyol karena memperjuangkan cintaku. Aku melakukan hal itu semata- mata karena aku takut perjuangan ku sia- sia karena kamu menolak bersamaku. Aku merencanakan semua ini matang- matang, dan aku akan langsung menikahimu setelah tiba disini. Jadi bersiaplah kita akan menemui papa dan bunda, dan kita nikah hari ini juga." Papar Aaron mengecup lembut tangan Maya namun dengan gesit Maya menarik tangannya.
"Maaf aku gak bisa, Tolong anterin aku kembali." Timpal Maya memalingkan wajahnya, Keinginan hatinya tetap tinggal namun ucapan Rangga tempo lalu masih terngiang- ngiang di ingatannya.
Maya beranjak dari duduknya hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu namun dengan gesit Aaron mencekal tangannya dengan erat.
"Kenapa kamu menolak, Apa kamu tak merasakan tulusnya cintaku hah, Aku ngerti kamu lupa ingatan tapi apakah tak ada rasa yang tertinggal di hatimu untukku." Ujar Aaron menahan amarah, Maya berusaha melepaskan cekalan tangan Aaron yang begitu erat hingga membuat tangan putih itu nampak memerah.
"Aar sakitt... " Rintihan Maya namun Aaron tak melepas cekalan di tangan Maya ,ia hanya melonggarkan cekalannya.
"Jujur aku nyaman sama kamu Ar, tttapi aaku takutt ." Timpal Maya menundukkan wajahnya, Air matanya menetes dengan sendirinya. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada Aaron karena ucapan Rangga tempo lalu.
"Heyy liat aku? Apa yang kamu takutkan, coba terbukalah biar aku bisa membantumu." Ucap Aaron memegang dagu Maya agar bisa melihat betapa tulusnya cintanya.
"Aku pernah dengar waktu itu kalau Rangga akan membunuhmu." Netra Maya memandang lekat wajah tampan Aaron yang terlihat sedih.
Aaron yang mendengar ucapan Maya sontak tertawa lepas. Melangkahkan kakinya ke arah ranjang sembari berguling- guling ,Sungguh lucu menurutnya.
Hal itu membuat seorang Maya bingung dan bertanya- tanya, Adakah yang lucu pikirnya.
Ia juga melangkahkan kakinya ke arah Aaron yang masih tertawa lepas di atas ranjang.
"Ar kok kamu ketawa, Emang ada yang lucu.?" Tanya Maya mengerutkan keningnya, Bingung sudah pasti.
"No..no.. Panggilan itu hanya untuk umum, Khusus kamu Hubby." Timpal Aaron mengusap air mata di ujung matanya akibat dari tertawa lepasnya.
"Hubby ada yang lucu." Ujar Maya kesal, Bukannya menjawab Aaron malah memberi perintah padanya.
"Sayang sini." Aaron menarik tangan Maya agar ia duduk bersamanya di tepi ranjang.
Maya mengangguk, Dirinya bernafas lega ketika Aaron tetap memperjuangkanya demi apapun meski nyawa taruhannya. Namun di satu sisi dia masih khawatir dengan ucapan Rangga namun demi Aaron dirinya berusaha berfikir positif.
"Mau kan menikah denganku.?" Tanya Aaron mendongakkan kepala. Melihat ke arah sang wanita yang nampak memikirkan sesuatu.
"Tapi Ar mm By bukannya terlalu cepat, Lagi pula kenapa kamu percaya aja kalau aku Maya, Soalnya namaku di sana itu Mayra." Tanya Maya menarik turunkan alisnya.
"Kamu tau kekuatan cinta, Begitulah yang ku rasakan sayang. Cintaku terlalu besar padamu." Ujar Aaron menegakkan badannya, Memegang dagu Maya kembali agar melihatnya.
"Hubby Mmm itu kamu bangun." Tunjuk Maya ke arah pejntannya membuat Aaron menoleh dan membulatkan matanya. Sumpah dirinya tak merasakannya, Karena ia masih sibuk bermanja dengan wanitanya.
"Pliss Sayang kita nikah ya, Si jono udah kebiasaan kalau deket kamu on fire mulu." Timpal Aaron Ia spontan duduk di bawah ,Merayu dengan rayuan maut yang keluar dari bibirnya.
"Kalau kamu gak mau ya sudah." timpal Aaron lagi dengan wajah memelas, Ia hendak berdiri namun tangan yang berada di atas paha Maya dicekal oleh wanitanya.
"Mmm hubby , Aaku mau menikah denganmu." Ungkap Maya tersipu malu, Ia sudah memantapkan hatinya pada pria yang dengan gampangnya membuatnya nyaman. Meskipun belum mengingat memory yang telah hilang namun hatinya sangat yakin ketika melihat ketulusan cinta yang sangat besar di netra Aaron.
"Sayang, beneran kan kita nikah sekarang.?" Tanya Aaron memastikan.
Maya hanya mengangguk, membenarkan ucapan Aaron. Mungkin dengan mereka menikah membuat Rangga tak akan mengusiknya kembali.
"Ayo kita sarapan dan langsung ke rumah bunda, kita nikah di sana sekarang." Aaron menarik tangan Maya keluar kamar, Mereka beriringan menuju ruang makan yang sudah terdapat beberbagai macam hidangan disana, tapi entah bagaimana rasanya?
"By kamu yang nyiapin ini.?" Tanya Maya kaget, Karena ia tak melihat orang lain selain dirinya dan Aaron .
"Tentu hummy." Jawab Aaron menarik kursi Maya.
"Terima kasih by."
"You're welcome hummy." Sahut Aaron mencium pucuk kepala Maya.
Maya sangat bahagia dengan cara Aaron memperlakukannya, Serasa jadi ratu ketika menemukan pria yang tepat dimana dirinya melabuhkan hatinya.
Mereka memakan dengan khidmat meskipun ada beberapa masakan yang menurut Maya keasinan, Namun dirinya tetap memakannya tanpa ekpresi. Ia takut membuat Aaron minder ketika tau rasanya kurang pas di lidahnya.
"Bagaimana masakannya sayang .?" Tanya Aaron ketika keduanya sudah menyelesaikan sarapannya.
"Enak kok, enak banget malahan." Ujar Maya semabari tersenyum tak menampakkan ketiksukaannya.
"Kalau begitu nanti setelah menikah biar aku saja yang masak kamu duduk manis saja melihat suamimu ini berperang dengan alat dapur." Saran Aaron, membuat Maya membulatkan matanya.
"No Hubby biarkan aku saja nanti yang memasak, sebagai seorang istri kan wajib melayani suaminya." Ujar Maya memberi alasan yang masuk akal agar tak menyakiti hati Aaron.
"No.. tugasmu melayaniku di atas ranjang hummy cukup di ranjang." Ujar Aaron penuh penekanan membuat Maya pasrah tanpa mau melawan. Toh, percuma saja jika dirinya beralasan sedemikian rupa jika Aaron tetap dalam pendiriannya.