
Dalam keheningan kendaraan yang di tumpangi Noah dan Maya membelah jalan yang begitu nampak lenggang tersebut.
Ya, kini sekarang Maya mengikuti kemauan Noah untuk ikut bersamanya walau harus terjadi perdebatan kecil antara keduanya. Maya tak mau ikut bersama Noah karena ia takut jika Noah membawanya pada Aaron.
Dirinya masih enggan bertemu dengan suaminya yang sudah sangat mengecewakan dirinya.
Namun dengan perkataan Noah yang berjanji takkan memberi tahu Aaron jika Maya bersama Noah, Maya menerima ajakan Noah dengan terpaksa.
"Anterin aku ke apertement aja Noah, Aku pengen sendiri." Ujar Maya dengan mata fokus mengarah pada jalanan didepannya tanpa melihat lawan bicaranya.
"Tidak, Anakku rindu pada auntynya May, tolonglah temuin dulu anakku ya." Sahut Noah melihat sekilas ke arah Maya dan kembali memfokuskan menghadap jalanan.
Noah melakukan itu semata- mata bukan karena masih menyimpan hati untuk Maya namun Noah merasa iba atas apa yang telah menimpanya.
Selama bertahun- tahun menjalin hubungan dengannya dan selama itu juga Maya tak bisa merasakan kebahagian dengannya. Kini ketika sudah bersatu dengan pria yang begitu di cintainya, Masalah silih berganti menimpanya.
Noah mendengar semua ceritanya dari Revan hingga memutuskan pergi ke tempat mereka berselisih paham.
Menceritakan kesalah pahaman agar hubungan mereka kembali seperti sedia kala. Namun perasaannya mengatakan bahwa sekarang bukan waktunya yang tepat untuk membahasnya.
Mobil Noah kini berbelok ke arah gerbang yang menjulang tinggi, Inilah pertama kalinya Maya menginjakkan kakinya ke rumah Noah selama menikah dengan Tiara.
Bukannya tak mau bertamu ke rumah sahabatnya apalagi sekarang ini Ayahnya juga tinggal dengan Noah dan Tiara.
Maya berfikir jika bermain kekediaman mereka akan membuatnya tak nyaman dengan perasaan Tiara apalagi dulu antara Maya dan Noah pernah terlibat perasaan dan itupun Noah yang sangat menggilai seorang Maya Afrieresa.
Noah dan Maya membuka pintu mobil dan disambut Tiara dan baby Queena, Entah mengapa mereka bisa tau jika Maya akan bertamu kekediamannya. Dan itu mungkin salah satu rencana Noah agar dirinya tak berlarut dalam kesedihan.
"Aunty Maya." Teriak Tiara dengan suara dibuat- buat seperti anak kecil.
Maya agak berlari ke arah Tiara dan Baby Queen, Lalu mengambil alih bayi gembul dengan bandana menghiasi kepalanya.
Baby Queen seperti sangat antusias menyambut anntynya bisa dilihat dengan jelas selama dalam gendongan Maya dirinya tak berhenti tertawa dan berceloteh ria.
Tiara mempersilahkan sahabatnya yang nampak pucat itu masuk kedalam kediamannya. Rumah megah dan mewah itu sangatlah besar menurutnya, Tak seperti rumah yang ditinggali Maya dan Aaron tapi jangan salah walau hanya rumah minimalis namun interiornya sangat memanjakan mata. Apalagi dengan barang- barang mewah yang senghiasi setiap sudut rumah minimalisnya.
"Kangen ya sama Aunty hmmm.?" Tanya Maya menoel pipi gembulnya sembari mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Aumm...Yayayyayyh." Celoteh baby Quen dengan senyuman yang tak pernah luntur dibibirnya.
"Ihhh gemes banget dehh." Sahut Maya memeluk erat tubuh kecil tersebut.
"Aumm yayyayyyhhhhh." Celoteh baby Quen lagi dengah tangan memukul- mukul wajah Maya.
Tiara dan Noah melihat interaksi mereka berdua merasa iba, Apalagi kondisi wajah Maya yang nampak pucat tersebut.
"May, Gua bisa bicara berdua sama lu.?" Tanya Tiara , ia enggan membuat Maya merasa tak nyaman berada di kediamannya.
"Ngomong aja kali, Privacy atau emergency nih." Tanya Maya tak sekalipun menampakkan kekecewaannya dan kesedihannya.
"Silahkanlah kalian ngobrol ,si tukang nguping ini mau otw ke kantor dulu." Ucap Noah melenggang pergi dari hadapan kedua gadis di hadapannya ini , Masih pantaskah mereka berdua di sebut gadis tentu saja tidak.
Tiara membawa Maya ke balkon rumahnya, dengan Baby Queen yang sudah di ambil alih oleh perawatnya. Bukannya tak mau merawat dengan tenaganya sendiri namun Noah sangat menghawatirkan kesehatan Tiara yang waktu itu masih dalam keadaan lemah.
Maya memegang pagar pembatas balkon dengan manjanya angin menerpa kulit wajahnya dan memainkan rambut hitam legam dengan indahnya. Berusaha mengusir kekecewaan yang sampai saat ini masih mereda di dalam hatinya.
Hingga suara Tiara yang membawa nampan minuman mengagetkan dan membuatnya terpaksa membuka matanya.
"Lu ada masalah?" Tanya Tiara kala sudah menaruh nampan di atas meja.
"Meskipun aku gak cerita pasti Revan sudah cerita ke Noah dan kamu pasti juga sudah mendengarnya." Ujar Maya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
Tiara menggaruk kepaanya yang tak gatal, bisa- bisanya Maya membuatnya mati kutu di tempat.
"Mm gua harap, Lu harus denger cerita dulu dari kak Aaron May. Bukannya apa- apa sih takutnya kamu salah paham dengan maksut yang di bicarakan itu ." Ujar Tiara yang tadi sok tak tau menau kini menjadi serba tau.
"Hah....." Hembusan nafas kasar Maya kala mendengar penuturan Tiara yang tengah membela Aaron menurutnya.
"Itu takkan terjadi Ra, Aku mendengarnya sendiri dari bibirnya jika dia tak menginginkan anak yang ada dalam rahimku ini." Timpal Maya berusaha tegar walau air mata dengab kurang ajarnya menetes dipinpinya.
"Tapi kamu harus pastiin dulu, Siapa tau ada sesuatu yang belum kamu dengar darinya." Sahut Tiara yang terus saja meyakinkan bahwa Aaron tak salah dalam hal itu.
Maya menoleh ke arah Tiara yang tengah menatapnya dengan kepastian jawabanya. Tak taukah jika dirinya sangatlah kecewa dengan Aaron dan dengan seenaknya Tiara menyuruhnya untuk mendengarkan penjelasanya lagi dan nantinya akan semakin melukai hatinya.
"Tak perlu penjelasan lagi ra, Semuanya sudah jelas dan aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Biarlah anak ini akan menjadi tanggung jawabku tanpa adanya campur tangan dari Daddynya." Ucap Maya menunduk sembari mengusap perut ratanya dengan tatapan memelasnya.
"Jangan gegabah May, plis tenangkan fikiranmu. " Ucap Tiara menasehati. Tanpa menggubris ucapan Tiara, Maya menundukkan wajahnya ke arah dimana sang buah hati tengah berkembang di dalam rahimnya.
"Mommy yakin nak, kita akan bahagia walau tanpa Daddymu." Batin Maya mengusap perutnya sembari memejamkan matanya. Mencoba untuk ta rapuh tapi apalah daya air matanya tak mampu menutupi kehancurannya.
Tiara tak bisa berkata- kata lagi kala air mata Maya luruh dipipinya, Ingin mencegah dengan keputusan sang sahabat. Namun rasanya dirinya takut jika Maya mengira dirinya ikut campur dengan masalahnya.
Biarlah Aaron yang berusaha sendiri membujuk Maya walau itu sangatlah sulit nantinya apalagi dalam keadaan hatinya yang teramat kecewa.
"May..." Timpal Tiara memeluk tubuh Maya dari depan.
Tak bisa di bayangkan jika apa yang menimpa pada sahabatnya itu menimpa padanya. Mungkinkah dirinya akan mengakhiri hidupnya ketika masalahnya terlalu pelik untuk dihadapinya.
Tringggg...
Handpone Maya berdering kembali, Segeralah diringa mengambil gawai di atas meja dengan malas.
Sudah bisa di tebak siapa yang menelvonnya yaitu sang suami. Bukan hanya sekali dirinya menelvon bahkan hampir ratusan kali, namun Maya enggan mengangkatnya .Begitupula dengan chat yang masuk namun tak mengurungkan niatnya untuk mengabaikannya.
Hingga kini Maya memilih mematikan gawainya, Agar tak ada lagi gangguan yang membuatnya bertambah kecewa dengan sikap sang suami.