
Menapaki teras rumahnya dengan perlahan dangan di bantu tangan kekar Aaron yang merangkul bahunya.
Maya sudah menolak ketika Aaron terus saja membantunya berjalan, ia sudah bilang bahwa badannya tak selemah itu namun usahanya sia- sia. Aaron dengan kekehnya membantu Maya berjalan hingga memasuki kediamannya.
Setiba di dalam, Maya di kejutkan dengan suara melengking milik Tiara yang sangat memekatkan telinganya.
"Aunty Maya aku merindukanmu." Teriak Tiara yang masih duduk di sofa dengan mulut yang penuh makanan.
"Astaga Tiara kamu berisik banget sih." Ujar Maya menggosok telinganya, Ia berjalan ke arah Tiara dengan tangan Aaron yang masih setia bertengger di bahunya.
"Hati- hati my." Timpal Aaron yang melihat Maya semakin melebarkan langkahnya.
"Halahh Ar posesif amat lu." Sergah Noah yang keluar dari arah dapur, Ia tadi di suruh si jabang bayi mengambil air putih kata si calon mama sih.
"Bini gua juga suka- suka gua dong." Sergah Aaron yang tak mau kalah.
"Brewoknya tuh di cukur rambutnya juga, gak pantes brewokan tapi bucin." Timpal Noah tertawa meledek.
"No ... Aku gak izinin kamu main cukur- cukuran. Aku suka suamiku yang kayak gitu malah lebih macho manurutku." Sahut Maya yang sudah berada di sebelah ibu hamil tersebut.
"Kau dengar Noah, Gua macho begini." Sombong Aaron dengan gaya coolnya.
"Helehhh menurut gua lu jelek gak ada macho- machonya..." Timpal Noah lagi tak mau kalah.
"Mas jangan gitu, Kak Aaron kan emang tampan walau sekarang style kayak gitu tapi masih tetep cakep kok." Bukan Maya yang berucap melainkan Tiara sang istri, Sontak membuat Noah membulatkan matanya. Beraninya dia memuji pria lain di depannya.
"Hahahhha... Istrimu saja mengakuinya brother." Tawa Aaron menggelegar sembari menggepak bahu Noah yang kesal dengan ucapan istrinya.
Sejak Aaron menikah dengan Maya, Mereka tak pernah berkumpul lagi terkeculai Ben yang memang tangan kanannya yang selalu stay bersamanya. Karna memang seminggu ini setelah Aaron menikah dan cuti sementara waktu, Benlah yang mengurus perusahaannya hingga waktu yang belum di tentukan. Walau dalam keadaan terpaksa sekalipun namun Ben tetap menjalankan tugasnya dengan jeli.
"Aw....." Pekikan Tiara tiba- tiba membuat Maya yang berada di sampingnya terkejut.
"Kenapa Ra." Ucap Maya yang melihat Tiara mengelus perutnya.
"Sayang kenapa?." Noah menghampiri Tiara, bertumpu pada kakinya agar bisa mensejajarkan wajahnya pada wajah Tiara.
"Sakittt Mass..Akhhhh." Ucap Tiar tersenggal- senggal.
"Non Tiara mau lahiran Tuan, Ketubanya udah pecah itu." Ucap pelayan muncul dari dapur , sembari mengantarkan minuman untuk tamu atasannya.
"Cepat gendong Noah, Gua anterin ke dokter." Aaron juga ikut panik, ia segera berlari ke luar untuk menyiapkan mobil yang akan di bawanya mengantarkan Tiara.
Tanpa jijik Noah menggendong tubuh lemah Tiara yang bercampur dengan air ketuban membasahi kakinya. Dengan langkah yang lebar juga ia ingin cepat- cepat sampai di rumah sakit dan istrinya di tangani oleh dokter.
Melihat Tiara kesakitan membuat Noah kembali meneteskan air mata, Dulu ia juga pernah menangis ketika cintanya tak pernah terbalas oleh wanita yang begitu di cintainya. Hingga kini dirinya mampu melupakan wanita tersebut dengan cepatnya ketika wanita yang baru di kenalnya mengandung benihnya.
Baik Aaron ataupun Maya ikut serta mengantarkan Tiara ke rumah sakit, Maya juga khawatir dengan keadaan Tiara dan ingin memastikan langsung bahwa dia baik- baik saja bersamaan dengan si jabang bayinya.
"Sabar sayang kita akan segera sampai." Ucap Noah membelai wajah yang sudah di basahi keringat bercucuran.
"Sakit mas." Rintih Tiara memejamkan matanya.
"Sabar ra sebentar lagi." Timpal Maya menoleh ke arah bangku belakang yang terdapat Noah sedang memangku kepala Tiara yang kesakitan.
Aaron dengan lihainya menyetir dengan kecepatan tinggi, Walau harus mendapat banyak umpatan dari banyak pengendara yang di lewatinya. Tak menggubrisnya adalah jalan satu- satunya agar istri dari sahabatnya bisa segera di tangani tepat waktu.
Hingga di persekian menit tiba di depan rumah sakit, Tanpa melihat situasi mereka berjalan tergopoh- gopoh ketika Brankar yang mereka dorong membawanya ke ruangan bersalin. Noah terus saja menitikan air matanya ketika istrinya menggenggam erat tangannya. Dengan penuh kelembutan, ia juga mengusap perut sang istri agar rasa sakitnya berkurang menurutnya.
"Sayang bantu mama ya nak, Jangan buat mama kesakitan." Ucap Noah sembari berjalan mendorong brangkar Tiara.
Ketika pintu bersalin terbuka, Maya beserta Aaron terpaksa menghentikan langkahnya ketika perawat mengatakan bahwa hanya suaminya saja yang menemani . Aaron meminta Maya agar tak ikut masuk ke dalam menurutnya Tiara biar cepat di tangani oleh dokter. Hingga di persekian detik mau tak mau Maya harus mengalah ketika suara Tiara kembali memekik kesakitan.
"Aku pengen nemenin Tiara by, kasihan dia pasti kesakitan." Ucap Maya menyandarkan bahunya di dada Aaron.
"Kita doakan yang terbaik sayang semoga Tiara baik- baik saja. Lagipula udah ada Noah di dalam, Ini lagi Ayah, Bunda sama papa udah otw kesini juga. Kamu yang sabar ya." Papar Aaron agar wanitanya tenang sembari mengelus bahu sang istri.
Dibalik pohon tepat berada di depan ruangan bersalin Tiara, Seseorang tengah menahan amarahnya yang memuncak ketika mendapati informasi dari bawahannya bahwa seseorang yang di cari tengah berada di alamat yang sudah ia kirim melalui email. Dirinya dengan cepat membawa kuda besinya ke arah alamat yang di tujukan padanya, Ketika sampai disana. Ia kembali kecewa ketika seseorang yang tengah ia cari memasuki mobil dan hendak pergi. Setelah kehilangan wanita yang ia cintai yang ke dua kalinya, ia bergegas terbang kembali ke negara asal wanita yang telah membuatnya menggila di setiap detiknya.
Hingga kini ia berhasil mengintai wanita yang tengah asik berpelukan bersama pria yang di bencinya setengah mati. Tangannya mengepal dengan erat, Ia sebenarnya sangat merindukan wanita tersebut namun rasa benci pada dirinya sangat mendominasi. Dirinya merasa bahwa telah di bohongi dan di khianati oleh wanitanya dengan kabur bersama rivalnya.
"Aaron bajingan..." Ucap seseorang tersebut meninju pohon yang dianggapnya meninju Aaron.
"Kamu harus membalas semua rasa sakit hatiku cantik, Aku takkan bisa melepaskanmu begitu saja. Biarlah meskipun kamu sudah menjadi istri si bangsat itu takkan mampu menghalangi niatku. Kamu beraninya membohongi aku, Aku yakin kamu sudah mengingat semuanya ketika masih bersamaku. " Batin Pria tersebut tersenyum ngeri namun tak ada yang melihatnya sebab keberadaannya sangat tersembunyi.
"Kau tunggu permainan dariku, Kamu akan menyukainya Aaron Addison." Ucap Pria tersebut pelan, tatapannya sangat menusuk ke arah dua sejoli yang masih asik berpelukan tersebut.