
''Ini Bunda nak jangan panggil tante. Maafin Bunda , Bunda emosi waktu itu sayang. Bunda gelap mata , Bunda berfikir kamu menjadikan Aaron hanya pelarian nak. Maafin bunda sayang, maafin nak.'' Talia memeluk Maya menangis sesegukan, Bukan hanya mereka semua yang berada dalam ruangan tersebut ikut terharu menyaksikannya.
''Bunda gak salah, Aku yang salah bun udah buat Aa menjadi salah arah. Aku yang salah bun.'' Sahut Maya juga merasa bersalah dalam menyikapi sesuatu.
''Sudah jangan saling menyalahkan, yang terpenting sekarang kita harus saling mempercayai satu sama lain agar tak terjadi kesalahpahaman lagi.'' Timpal Arkan menengahi. Maya dan Talia saling melepaskan pelukannya, Mereka menoleh ke arah Arkan. Benar yang diucapkan Arkan kalau saling percaya adalah kuncinya agar tak terjadi kesalahpahaman.
Mereka yang berada disana nampak bahagia terkecuali Tiara, Ia nampak murung dengan nasibnya. Minta pertanggung jawaban takut Noah tak mengharapkan kehadirannya dan bayi yang ia kandung.
Aaron memberi kode pada Tiara untuk mengikutinya keluar, ia tak mau sang kekasih mendengar pembicaraan mereka hingga membuat Maya drop lagi.
''Tiara.'' Panggil Aaron. Ia melihat Tiara seperti sedang memikirkan sesuatu.
''Iya kak.'' Sahut Tiara secara spontan.
''Kita datangi Noah, Minta pertanggung jawaban sama dia. Dia harus tanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan sama kamu.'' Papar Aaron. Hatinya antara lega dan miris, Lega karna sang kekasih tak akan mau menikah dengan Noah dan mirisnya kasihan Tiara harus menjadi korban obsesi Noah.
''Tapi kak, Dia gak bakal mau mengakui anak ini. Dia udah ngancem aku kalau sampai aku ngebocorin semuanya sama Maya. Dia bakal hancurin masa depan Maya.'' Sahut Tiara.
''Aku pernah liat Noah memberi sesuatu ke minuman Maya. Pas waktu aku kerja direstoran, Noah menyuruh waiters memberi serbuk kepada teman wanitanya dan itu adalah Maya. Sebelum gelas itu dianter ke meja aku berinisiatif menukarnya.'' Mengingat beberapa hari lalu sewaktu badannya dirinya bekerja sebagai waiters.
''Lalu kenapa kamu kerja di resto bukannya kamu kerja di kantor Noah.???'' Tanya Aaron lagi.
''Itu karna dia udah nginjek harga diriku kak. Aku benci sama dia jadi aku mutusin ngundurin diri.''Sahut Tiara menundukkan kepalanya, Biarlah dia mengeluarkan unek- uneknya didepan Aaron. Menurutnya Aaron bisa membantunya.
''Kalau saranku sih kak mending kita biarin Maya yang bertindak soalnya Noah akan nurutin semua apa yang Maya mau. Karna dia sudah buta akan cintanya.'' pungkas Tiara memberi saran.
'' Enngak , Gak bisa Ra aku takut Noah macem- macem sama Maya. Enggak aku gak mau itu terjadi. Kamu kan tadi juga bilang kalau Noah sempet mau ngercuni Maya'' Sergah Aaron.
''Menurutku itu bukan racun sih kak secara Noah sangat mencintai Maya. Kalau menurutku itu obat perangsang saja soalnya aku tanya ke apotek waktu itu ,Wadahnya aja aku tunjukin karna aku mungut di tong sampah sewaktu waiters yang disuruh Noah pergi.'' Terang Tiara.
Aaron hanya manggut- manggut memikirkan rencana agar tak salah langkah dan berakibat pada sang kekasih.
Memilih sendiri di taman rumah sakit agar bisa menenangkan fikiriannya. Dia tak ingin melibatkan sang kekasih meskipun Maya juga terlibat didalamnya cukup kemarin dia berfikir ektra dan berakhir pingsan. Tapi kali ini Aaron yang akan menyelesaikan semua masalah sang kekasih.