
Setelah kepergian Ben yang entah kemana, Maya masih dalam posisi yang sama. Melamun di atas rerumputan hijau tak peduli jika nanti pakaiannya akan menjadi kotor.
Ia akui jika dirinya sangatlah egois karna terlalu mementingkan perasaannya dan tak tau menau tentang apa saja yang telah di alami Aaron. Masalah pelik ataupun yang menjadi hancurnya keluarga yang baru seumur jagung.
Maya tak menyangka jika Aaron masih memikirkan dirinya dalam keadaan genting beberapa jam lalu.
Dengan menyuruh Maya pergi bukankah itu hal yang membuktikan bahwa Aaron sangat menjagannya apalagi dirinya pasrah menerima keputusan sang wanitanya agar bahagia.
Maya merutuki kebodohannya jika mereka berbicara dari hati ke hati tak mungkin Aaron mendapat cobaan seperti sekarang ini.
"By, aku harus gimana. Aku bodoh udah mengambil keputusan yang salah, Aku terlalu kecewa hingga tak memberikanmu waktu untuk menjelaskan." Monolog Maya pada dirinya sendiri sembari menelungkupkan wajahnya ke tangannya.
"Kamu gak perlu menangis cantik." Ujar seseorang menyodorkan sapu tangan pada Maya.
Mendengar suara yang tak asing di pendengarannya membuat Maya mendongak dan mendapati seorang pria bule sudah berjongkok di hadapannya.
"Mau apa kamu?." Tanya Maya ketus, dirinya berusaha bangkit dari posisinya menghindari Rangga yang menurutnya sudah membuat suaminya seperti ini.
"Cantik, aku khawatir sama kamu." Ujar Rangga yang ikutan bangkit dan hendak menghampiri Maya.
"Jangan mendekat, Apa kamu gak punya malu menunjukkan wajah busukmu di hadapanku Ngga.?" Ketus Maya berusaha menghentikan langkah Rangga yang akan mendekatinya. Rangga bingung dengan perkataan Maya, yang di rasanya menuduhnya melakukan hal buruk entah pada siapa.
"Apa maksutmu.?" Tanya Rangga dengan tampang kebingungannya.
"Pura- pura lupa atau gimana hahh?. Aku tau kamu yang membuat suamiku jadi seperti itu, Dia sekarang ada di ruang operasi Ngga .Kamu tega banget sama aku, Kenapa kamu gak berhenti ganggu keluargaku Ngga. Apa salahku sama kamu.?" Cecar Maya dengan suara meninggi, dirinya lelah kala Rangga tak henti- hentinya mengganggu kehidupannya apalagi dirinya berani mencelakai suaminya.
Maya kembali terduduk di atas rerumputan kala rasa lemas yang sempat mendera tubuhnya kini kambuh lagi. Dengan memegang pagar besi yang mampu membantunya untuk duduk agar sang bayi tak terguncang di dalam sana kala Maya terjatuh.
"Tuhan, Kenapa sakit ini kembali lagi." Batin Maya memejamkan matanya sembari bersandar di pagar penepi.
"Cantik kamu kenapa.?" Tanya Rangga yang sudah berjongkok di hadapannya. Dirinya tak merespon kala Maya terus saja melarangnya mendekat.
Ia tak sanggup melihat wanita yang di pujanya dalam kondisi memprihatinkan namun jika itu atas ulahnya Rangga akan dengan senang hati berbahagia.
"Jangan sentuh kakakku." Teriakan melengking dari lorong rumah sakit yang di yakini Maya adalah suara Aryan, Adik kandung dari suaminya.
Aryan berjalan ke arah Maya dan Rangga tak lupa sembari bersedekap dada. Tepat di hadapan Rangga, Aryan menatap sinis ke arahnya.
Apalagi sedari tadi dirinya menyaksikan jika sang kakak ipar memberi jarak padanya. Hal itu membuat Aryan yakin jika Rangga sangatlah membuat Maya tak nyaman.
"Jangan ganggu kakak saya." Ujar Aryan bersedekap dada di depan Rangga, tampaklah seorang kekasih yang sedang marah pada pria yang tengah mengganggu kekasihnya.
Rangga berdecih dan memutar matanya malas karena menurutnya sifat Aryan sangat sama seperti abangnya yang terlalu kolot.
"Enggak kak, Toge ini udah gangguin kakak dan bikin kakak nangis. Aku gak mau kak Aaron marah kalau Aryan gak bisa jagain kakak." Sahut Aryan tanpa menoleh ke arah Maya dan malah menatap Rangga dengan sinisnya.
Sungguh berbanding terbalik dengan sifat Aaron yang sangatlah penakut di masa kecilnya. Aaron kecil akan menangis kala mainannya di ambil oleh temannya apalagi jika Aaron kecil di ganggu teman- temannya.
Rangga mendelik mendengar ucapan Aryan yang menyamakannya dengan toge, Jauhlah kan dirinya manusia bukan sayuran pikir Rangga.
"Sifatnya menyebalkan mirip Aaron." Batin Rangga mlengos kala tatapan Aryan menusuk padanya.
"Pergi yang jauh, kak Maya udah punya cowok yang jauh lebih tampan dari toge sepertimu, pergilah." Usir Aryan mengibaskan tangannya.
Lagi- lagi apa yang di lakukan Aryan membuat Rangga kembali mendelik ke arah Aryan. Rangga yang sudah kesal dengan bocah di hadapannya tersebut, Mencengkram bahu Aryan dengan eratnya. Sungguh sifat menyebalkan yang dimiliki Aryan sangatlah membuatnya kesal sekaligus geram.
Aryan merintih dengan perlakuan Rangga padanya, Walau air mata sudah mengenang di pelupuk matanya namun Aryan berusaha agar air matanya tak menetes.
Rangga tak peduli walau Maya tau sifat aslinya karena sikap menyebalkan Aryan, Karena sedari tadi Maya menghalau tindakan Rangga tak mampu membuat Rangga melepaskan cengkraman tangannya pada bahu Aryan.
"Rangga lepas brengsek." Umpat Maya dengan tangan terus menarik tangan Rangga agar tak terlalu menyakiti sang adik.
"Dia anak kecil Ngga, jangan kayak banci." Papar Maya, dan sanggup membuat tangan Rangga meluruh di bahu Aryan. Tatapan sinisnya masih saja ditujukan pada Aryan yang tengah tersenyum tengil ke arahnya.
"Heh bocah, awas kamu ya." Seru Rangga berlalu dari hadapan mereka berdua, namun tatapan mematikannya terus saja mengarah pada Aryan yang tengah mengkode lehernya dengan jarinya seperti tengah mengancam akan membunuh.
"Aryan jangan gitu dek, Kakak takut kamu terluka nantinya kalau kayak gitu." Ujar Maya mengecek bahu Aryan yang lebang akibat ulah Rangga.
Maya berasa bersalah kalau luka lebam itu terpampang jelas di matanya apalagi Aryan jadi seperti itu karna menolongnya.
"Aku gak apa- apa kak, Ayo masuk kak Aaron nanyain kakak waktu bangun dari pasca operasinya." Terng Aryan sembari membantu Maya berdiri.
"Bangun Dek, Kak Aaron bangun." Tanya Maya lagi memastikan.
Pantes saja dirinya kecapekan hanya karna melamun sendiri apalagi melamunnya sedari 4 jam yang lalu.
Dengan langkah tertatih- tatih Maya dan Aryan meninggalkan taman belakang. Maya bahagia kala Aryan mengatakan Aaron sudah siuman pasca operasinya dan menanyakan keberadaannya.
Berkali- kali Maya mengucapkan syukur pada Ilahi Robbi kala doa yang sedari tadi di panjatkannya akhirnya terkabul juga.
Dengan penampilan yang luar biasa acak- acakan apalagi mata sembabnya yang sedari tadi tak berhenti menangis. Maya tak menggubrisnya, Ia tak sabar melihat pria yang begitu di khawatirkannya membuka mata di depan matanya.
"Kak jangan cepat- cepat." Ucap Aryan memberi tahu. Aryan tak tega melihat Maya berjalan dengan terseok- seok akibat tak ada tenaga di tubuhnya. Apalagi wajah pucatnya membuat Aryan berfikir bahwa Maya belum makan sedari pagi. Hingga dirinha berinisiatif membelikan makanan di kantin . Dan membiarkan Maya melanjutkan langkahnya ke arah ruangan sang kakak.