Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Maya bukan Mayra



Sore menjelang malam, Aaron , Ben dan Noah telah usai mengunjungi mall tebesar di London. Awalnya Aaron enggan mengikuti Ben dan Noah keluar ke mall tersebut namun dengan paksaan dari Ben, Akhirnya Aaron mengikuti mereka berdua dengan ogah- ogahan.


Aaron membuka pintu belakang mobil, Namun dirinya mematung antara percaya tak percaya ketika netra matanya mendapati sesosok wanita tercintanya memasuki mobil.


Dirinya menggelengkan kepala, Menurutnya dia pasti berhalusinasi seperti sebelum- sebelumnya.


"Come on Aaron, Mata lu buta "Batin Aaron kesal sembari mengeplak dahinya berulang kali.


Dirinya memasuki mobilnya dengan perasaan kalut, Dia teramat merindukan Maya hingga semua wanita terlihat seperti kekasihnya.


Ben mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Sembari menikmati angin malam di negeri London. Sedangkan Noah, dirinya tengah menelvon sang istri yang tengah hamil besar. Sebenarnya dirinya tak tega meninggalkannya meskipun sudah ada Ayah Tio yang menjaganya. Namun Tiara terus- terusan meyakinkan Noah jika dirinya akan baik- baik saja selama kepergian Noah.


Mobil yang dikendarai mereka terhenti ketika lampu rambu lalu lintas menyala berwarna merah. Aaron sibuk memandang luar cendela, Hingga tepat di samping mobilnya, seseorang wanita membuka kaca mobilnya, Menikmati angin yang menerpa kulit wajahnya dan rambutnya.


Aaron tercengang, Dirinya juga ikut membuka kaca mobilnya memperjelas wajah yang selama ini dirindukan walau itu hanya halusinasi menurutnya. Ketika kaca mobil Aaron terbuka sempurna , Mayra menoleh ke arah Aaron , ia menatap lamat- lamat wajah pria gondrong itu. Hingga di persekian detik lampu sudah berubah warna .


"Aaron Addison. Iya dia Aaron." Batin Mayra.


"Kamuuu." Ujar Mayra kaget, Dia ingat bahwa sedari tadi pria yang memandangnya adalah pria dalam mimpinya. Bersamaan dengan itu mobil Mayra berjalan dahulu karena rambu lalu lintas sudah berwarna hijau.


Aaron terbelalak ternyata dirinya tak berhalusinasi ketika tangan Maya mencoba memegang tangannya yang berada di cendela mobil.


"Maya." Teriak Aaron, Dirinya hendak berlari mengejar wanitanya. Ketika membuka pintu banyak kendaraan berlalu lalang, Tak memungkinkan untuk bisa membuka pintu mobil.


"Kejar mobil didepan Ben cepattt." Teriak Aaron.


"Iya gua liat dia Maya Ar. Semoga bener itu dia." Sergah Noah juga melihat tadi ketika Aaron memanggil nama Maya. Membuat Noah dan Ben sontak melihat ke arah pandang Aaron.


"Bodohnya gua, kenapa gua diem aja tadi padahal jelas- jelas dia Maya. Tuhhann tolong pertemukanlah aku dengan Maya dan jangan pisahkan lagi." Batin Aaron mengusap air matanya dengan kasar.


"Cepat Ben." Bentak Aaron yang tak bisa menahan dirinya.


Ben kembali menancapkan gasnya dengan kecepatan maksimum. Sungguh dirinya juga penasaran dengan wanita tersebut.


Setelah dirasa aman dan sepi, Apalagi mobil yang diyakini milik Maya sudah berada di depannya. Ben dengan gesitnya memotong jalur mobil yang diincarnya.


Aaron membuka pintunya dengan tak sabaran begitupun Noah dan Ben. Aaron melangkahkan kakinya ke arah pintu penumpang tempat tadi dirinya melihat sesosok kekasih hatinya , sungguh dirinya merindukan wanitanya. Ben dan Noah sama- sama turun dan memaksa seseorang yang berada dalam kemudi mobil tersebut untuk keluar.


"Ada apa tuan?" Ujar si pengemudi.


" Tolong buka pintunya." Bentak Aaron mencengkram kerah si sopir karena pintu penumpang masih terkunci.


Ceklekk.


Aaron ,Ben dan Noah menoleh ke sumber suara. Mereka tertegun melihat sesosok wanita cantik keluar dari mobilnya. Hinnga Aaron tak sanggup membendung air matanya, Tangannya luruh dari cengkraman kerah si sopir dan Aaron melangkahkan kakinya ke arah Mayra dengan perlahan, Dirinya masih ingin memastikan bahwa dirinya tak berhalusinasi.


Ketika sudah berada tepat didepan Mayra, Tanganya terulur menyentuh wajah wanita yang dirindukannya. Air matanya menetes ketika semuanya bukan halusinasi melainkan nyata.


"Tuan...." Ucap sang sopir terhenti tatkala Ben dan Noah melototkan matanya. Sang sopir takut jika tuannya mengetahui semuanya dirinya dan katty yang kena imbasnya.


"Aku merindukanmu sayang, Kamu kemana saja.?" Ujar Aaron lagi melerai pelukannya, Dirinya menatap lekat wajah wanita yang telah meninggalkannya selama dua bulan ini.


Aaron bingung mengapa Mayra tak berekpresi sama sekali bertemu dirinya, Biasanya Maya akan membalas pelukan dari Aaron. Nah ini, Maya hanya memandang dengan lekat wajah seorang Aaron.


"Sayang." Panggil Aaron mencondongkan tubuhnya ,dirinya memegang bahu Mayra yang lebih pendek darinya.


"Apa benar kamu Aaron.?" Ucapan itu terlontar dari bibir Mayra membuat seorang Aaron bertambah bingung.


"Sayang aku Aaron calon suami kamu. Apa karna penampilanku seperti ini hingga membuatmu tak mengenaliku.?" Tanya Aaron yang masih dilanda kebingungan.


"Maaf Tuan kami permisi, Ayok nona." Ujar katty menarik tangan Mayra dari genggaman Aaron.


"Jangan pernah membawa wanitaku." Sergah Aaron membawa Mayra dalam pelukannya.


"Maaf tolong lepaskan saya, Mungkin anda salah orang. Permisi." Timpal Mayra melerai dekapan Aaron. Dirinya melangkah, namun belum genap dua langkah tangannya dicekal lagi oleh pria yang baru saja membuatnya nyaman dalam dekapannya walau sekejab.


"Jangan bercanda sayang, Kamu Maya afriaresa, Aku sangat mengenalimu." Pungkas Aaron.


"Maaf saya permisi." Sebelum terlepas cekalan tangan itu namun Mayra berusaha memberi sebuah kertas pada Aaron. Dirinya takut jika sang sopir ataupun Katty mengetahui jika dirinya mulai tak mempercayai Rangga. Dirinya berusaha menguak sendiri semua identitasnya. Tak mau meminta bantuan dari Rangga atau siapapun.


Aaron memandang punggung mobil yang telah berlalu itu dengan perasaan hampa. Ada apa sebenarnya dengan kekasihnya? Mengapa dirinya tak mengenali Aaron sebagai pria yang dicintainya.


Aaron membuka sepucuk surat dari Mayra, sewaktu dirinya bertemu dengan Aaron tadi, Dirinya berinisiatif menulis surat secara diam- diam. Mayra takut Katty dan sang sopir membocorkan semuanya pada Rangga jika dirinya telah tak mempercayai Rangga lagi. Apalagi atas kejadian sebelum- sebelumnya yang membuat Mayra semakin yakin bahwa Rangga telah mempermainkannya.


Maaf kan aku Aaron Addison, Sungguh aku tak mengenalmu namun didalam mimpiku selalu tentang kamu. Aku berusaha mengingat- ngingat memori terdahulu . Namun aku tak sanggup, sekali lagi Maafkan aku Aaron.


Mayra.


Aaron meremas kertas itu dengan kasar, hingga buku- buka di tangannya nampak memutih. Dirinya emosi, entah pada siapa.


" Aaa bajingann." Teriak Aaron meninju udara, Semua emosi ia luapkan mungkin itu akan membuatnya lega.


Ben dan Noah dengan segera mengambil kertas yang tadi berada di genggaman Aaron. Mereka membaca dengan seksama kata- kata yang ditulis Maya untuk Aaron. Bener apa yang dikatakan para pengawal yang telah mengintai kekasih sahabatnya bahwa Maya lupa ingatan.


" Ar gua ada rencana." Timpal Ben yang melihat Aaron dari tadi menunduk di kursi belakang.


"Apa.?" Sahut Aaron dengan suara lemahnya.


Ben menjelaskan dengan perinci rencana yang tengah Ben atur, Karena menurutnya semua itu akan berhasil jika emosi Aaron bisa dikendalikan. Mereka mengangguk serempak, Apalagi Aaron. Dirinya sangat antusias dengan rencana Ben jika itu menyangkut menyatukan dirinya dan kekasihnya.


Kini Aaron mengembangkan senyumnya, ia sedari masuk ke dalam mobil nampak murung namun kini senyumannya mulai terbit ketika rencana Ben menurutnya sangat briliant. Senyuman selama dua bulan yang lalu telah memudar kini kembali mengembang seperti bunga tengah bermekaran, Penuh dengan madu yang sangat manis hingga tak bisa menetralisirkan rasanya bagi siapa saja yang merasakannya.


"Tunngu aku sayang." Batin Aaron tersenyum.