Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Kamuuu....!!



Flasback on.....


Setelah kepergian Aaron, Maya berusaha melangkahkan kakinya menuruni brangkar dengan bantuan dokter Nadia.


Mendudukkan dirinya di kursi tepat berhadapan dengan sang dokter tersebut. Banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya tentang kondisinya yang tak masuk akal menurutnya.


"Lalu saya harus bagaimana dok? sedangkan saya merasa tak ada minum obat- obatan apalagi semacam jamu." Ujar Maya dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.


Padahal baru sebentar dirinya merasa bahagia ketika dirinya di nyatakan hamil, Hingga kemudian datanglah kepahitan yang membuat rasa bahagianya sirna sudah.


" Saya rasa ada yang tak suka jika nona hamil, Bukannya seudzon nona, Tapi dari pemerisaan saya tak ada yang salah pada diri nona. Tetapi kadar dari obat penggugur itu sangat efektif, walau secara perlahan bekerjanya. Tapi saya yakin, janin nona akan selamat jika nona lebih berhati- hati dalam mengamati sesuatu yang akan nona makan ataupun minum. Jika obat itu tak terminum lagi oleh nona saya yakin janin anda selamat." Terang Dokter nadia dengan apa yang diketahuinya.


"Tuhan... Siapa yang tega melenyapkan bayiku." Batin Maya menjerit dengan air mata membanjiri kedua pipinya.


"Baiklah dok saya permisi dulu." Pamit Maya hendak berdiri namun perkataan sang Dokter mengurungkan niatnya.


"Minumlah vitamin ini nona, InsyaAllah akan membuat anda lebih pulih lagi. Mari saya antar ke ruangan dokter Revan nona." Ujar Dokter nadia memberikan kresek putih yang di dalamnya sudah terdapat beberapa obat.


Maya menolak dengan tawaran Dokter Nadia, apalagi pasiennya masih banyak yang antri di depan. Bukannya tak mau tapi Maya berusaha mengerti situasi sang Dokter.


"Tunjukkan saja ke arah mana saya harus berjalan Dok, Tak perlu mengatarkan." Sahut Maya ketika sudah berada di luar ruangan Dokter Nadia.


"Nona lurus saja mentok, lalu di pintu ada tulisan ruangan dokter Revan." Ucap Dokter Nadia mengarahkan tangannya ke lorong- lorong rumah sakit.


"Terima kasih Dokter, permisi." Ucap Maya melenggang pergi dari hadapan Dokter Nadia.


Maya mengusap kembali air mata yang kembali mengalir dipipinya dengan sendirinya.


Ia takut akan membuat Aaron kecewa kala melihat tad raut wajah cerah dari sang suami.Tapi bagaimanapun juga dirinya tak bisa berbuat apa- apa sebab pelakunya saja dirinya tak tau.


Apa salah dirinya, Mengapa ada orang yang tega ingin melenyapkan darah dagingnya yang masih belum diketahui jika dirinya hamil. Apakah orang yang ingin mencelakinya mempunyai ilmu gaib sehingga dengan gampangnya tau jika dirinya sedang hamil.


Setelah beberapa menit mengikuti arahan Dokter Nadia ,kini Maya berdiri di depan pintu ruangan Dokter Revan.


Diketuknya berkali- kali namun tak ada sahutan, hingga dirinya memberanikan diri membuka sedikit pintu dengan kepala menyembul ke dalam.


Sepi, naman hingga di beberapa menit terdengarlah seorang Revan berbicara dengan nada tingginya dan disahuti oleh suaminya Aaron.


Dirinya kembali membuka pintu dengan lebar agar tubuh mungilnya bisa masuk dan mendengarkan percakapan apa yang sedang di bahas . Hingga membuat dokter Revan yang setaunya tak pernah marah kini meninggikan suaranya dengan amarah tentunya.


"Buat apa lu ngasih bini lu obat kayak gitu, Apa maksut lu Ar. Gua gak habis pikir sama lu Ar." Cecar Revan menyunggar rambutnya, Seperti seorang ayah yang tengah memarahi anaknya.


"Gua hanya ingin membuatnya gak hamil van dan gua...


***Dehggg....


Penuturan Revan membuat tulang disekujur tubuh Maya melemas apalagi dengan jawaban yang Aaron berikan. Membuatnya menangis sejadi- jadinya dalam diam.


pyarr....


Suara pecahan itu menggelegar diruangan Revan hingga suara pemilik ruangan memekik di balik skat tembok***.


"Siapa disana." Ujar Revan, Namun Maya hanya diam. Tak dapat di pungkiri kenyataan yang menyakitkan untuknya kala mendengar suaminya tak menginginkan anak darinya hingga dengan teganya akan menyingkirkannya pikir Maya.


"Maya." Ucap Revan terbelalak ketika rasa penasaran nya belum tuntas ketika tak mendapati penyebab barang diruangannya pecah.


Hati Revan mencelos, Ketika air mata Maya sangat kentara menetes dipipinya.


Begitupula dengan Aaron ketika nama Maya terucap dari bibir Revan, Seakan tulang- tulangnya lemas. Namun dirinya berusaha bangun dan berjalan ke arah Revan, Siapa tau Revan salah orang.


Deggggg....


Mata Aaron membulat sempurna kala netranya bersitubruk dengan netra sang istri yang masih setia mematung di belakang pintu ruangan Revan.


"Sayang..." Belum usai ucapan yang dikeluarkan oleh Aaron, Maya berbalik keluar dari ruangan Revan.


Berlari dan terus berlari hingga sama sekali tak menggubris panggilan Aaron yang terus mengejarnya. Hatinya sakit, Mendengar kenyataan pahit yang di lakukan suami tercintanya.


Haruskah dirinya mempertahankan hubungan ketika sang suami menginginkan anaknya mati. Entahlah hanya Maya yang bisa menjelaskan antara memaafkan atau membawa lukanya pergi bersama buah hatinya yang tak berdosa.


"Kenapa kamu tega melakukannya by, Apa salahku.? Kamu bilang cinta sama aku lalu dengan tindakanmu yang kayak gini, apa itu yang di bilang cinta? Salahkah aku memilihmu menjadi pendampingku hingga kita menua bersama by." Batin Maya bersembunyi di balik tembok ketika tubuh lemahnya kembali melemah disaat Aaron masih dengan gencarnya mencarinya.


Maya mengatur nafasnya dan membuangnya secara perlahan, Mengelus perut yang masih rata itu dengan air mata terus mengalir dipipinya.


"Harus bagaimanakah aku ini Tuhan." Ucap Maya menengadah kepalanya ke atas. Menceritakan keluh kesahnya pada sang kuasa agar dirinya bisa sedikit lega.


Untung di rumah sakit terbesar itu memiliki fasilitas yang lengkap termasuk musolla yang sudah terdapat mukenna didalamnya.


Melakukan sholat wajibnya terlebih dahulu dengan air mata yang tanpa hentinya mengalir. Hingga di salam terakhirnya, Maya kembali bersujud dengan dosa yang telah ia perbuat hingga sang maha kuasa memberikan cobaan seberat ini dalam hidupnya.


Tangannya menengadah ke atas memohon dan berdoa agar semuanya usai dengan kuasaNya. Sambil memejamkan mata dirinya berdoa menyampaikan rasa tersiksanya batinnya lewat hati yang selalu bermunajat padaNya.


"Bimbinglah hamba dalam jalan kebenaranmu Tuhan, Hamba tau jika engakau takkan menguji umatmu dengan ujian yang tak dimampunya. Hamba yakin dibalik ujian ini ada kebahagiaan yang menanti hamba. Ampuni hamba yang banyak mengeluh Tuhan." Doa Maya mengusap wajahnya kala Doa yang di panjatkannya telah usai.


Maya membuka mukenahnya dan dilipatnya seperti sediakala, Dirinya melangkahkan kakinya menuju keluar musollah yang tepat di sisi kiri rumah sakit RV. medika.


Hingga tiba- tiba langkahnya terhenti ketika seseorang membuka sepatunya dan menghampiri dirinya yang masih dengan rasa keterkejutannya.


"Kamuuu..." Ujar Maya ketika wajah tak asing itu sudah berada tepat di hadapannya.


"Untuk apa dirinya kesini." Batin Maya membuang muka kala wajah di hadapannya itu hendak menyentuh wajahnya.