Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Kemurkaan Rangga



Rangga berjalan dengan langkah lebarnya ditengah hingar bingar musik dj didalam bar. Tangan yang terkepal kuat menandakan bahwa Rangga kini tengah menahan amarahnya.


Dirinya tak terima jika rencana yang sudah di susun apik- apik sekarang hancur karena ulah ayah handanya Luxio.


Bahkan sudah diperingatipun namun Luxio masih tetap mengganggu kehidupannya, Walau masih satu darah dengannya namun tak mampu mengurungkan niatnya untuk menghajar Ayah kandungnya.


Brakkkkk...


Rangga menendang pintu yang di jaga anak buah Luxio dengan sekali tendangan, Anak buah yang berdiri di depan pintu tak mampu melarang putra Luxio walau sikapnya sangatlah di luar dugaannya.


"Tua bangka." teriak Rangga kala mendapati Luxio tengah bercinta dengan wanita yang sudah tak berpakaian sehalaipun. Rangga memalingkan wajahnya takkala melihat si wanita mengedipkan mata ke arahnya, Sungguh menjijikkan menurutnya.


"Oh ****." Umpat Luxio kala aktivitasnya di ganggu dengan kehadiran sang anak.


Luxio terpaksa mencabut fasilitasnya pada liang yang hampir saja membuatnya melayang. Namun dengan kehadiran Rangga, Luxio mau tak mau menghentikannya.


"Pergilah." Ujar Luxio sembari melempar pada wanita yang telah di gaulinya.


"Terima kasih tuan" Ucap si wanita meraih lembaran cek lalu bangkit dan memungut pakaian yang sudah terhempas kemana- mana kala berlangsungnya adegan panas mereka.


Setelah kepergian si wanita tersebut, Luxio memakai pakaian di depan sang anak tanpa rasa malunya.


Rangga keluar dari ruangan yang sangat menjijikkan sekali di matanya. Apalagi dengan tingkah Luxio yang sangat terlampaui batasanya.


"Ada apa son?." Tanya Luxio menghampiri Rangga yang terduduk di sofa, dirinya juga mendudukkan bokongnya di sofa tepat di depan Rangga.


"Apa maksutmu hah." Bentak Rangga menghampiri Luxio dan mencengkram kerah kaosnya dengan erat. Tak peduli lagi jika orang yang di hadapannya adalah ayah kandungnya.


"Apa maksutmu Son." Ujar Luxio bingung dengan kata- kata yang terucap dari mulut anaknya sehingga membuatnya terlihat sangat marah padanya.


"Kamu lupa apa pikun hah, Jangan membuat kesabaranku habis tua bangka. Mengakulah jika kamu yang sudah menembak si brengsek Aaron itu hahh jawabb." Sergah Rangga dengan kilat kemarahan di wajahnya.


Dirinya mendengar kabar dari bawahannya yang disuruh mengintai Maya ,jika Aaron di bawah kerumah sakit karna ulah ayah kandungnya. Luxio mengirim seseorang untuk mencelakai Aaron dan membuatnya kehilangan nyawanya jika berhasil.


Rangga geram dengan sikap Luxio yang membuatnya kembali naik pitan. Sebab dulu dirinya juga menegaskan pada Luxio, jika dirinya tak boleh ikut campur urusannya.


Dan kini yang di lakukan Luxio sangatlah merugikan dirinya. Maya menuduhnya sebagai musibah yang menimpa pada diri Aaron dan yang lebih parahnya lagi rencana yang sudah di susun secara matang kini hancur sudah.


"Ow masalah bocah tengil itu, Kenapa kau marah pada ayahmu ini son hanya karna Aaron bermarga Addison itu hmm. Apa kamu sudah bersahabat dengannya atau malah sudah menjadi madunya." Ujar Luxio tersenyum sinis.


"Berhenti berbicara omong kosong tua bangka." Sarkas Rangga meninju wajah keriput milik Luxio hingga membuatnya terpental.


Buggghhhh.


Luxio tersenyum remeh memandang wajah anaknya, dimana harusnya seorang anak menjaga ayahnya namun tidak dengan Rangga yang seperti musuhnya sendiri.


"Berhenti mencampuri urusanku pak tua, aku gak butuh bantuanmu. Aku bisa mendapatkan apa yang ku mau tanpa campur tanganmu tua bangka." sergah Rangga melenggang pergi dari hadapan Luxio yang masih dengan posisi tersungkurnya di lantai.


"Harusnya kamu berterima kasih pada ayahmu ini son, Jika Aaron mati kamu akan dengan mudahnya menggantikan posisi wanita itu." ucap Luxio kala Rangga akan membuka handle pintu.


Rangga membeku, memang ada benarnya apa yang di ucapkan Luxio jika Aaron mati setidaknya dirinya sangatlah leluasa mendekati Maya.


Tapi yang membuatnya gelisah adalah tuduhan Maya yang tak berdasar pada dirinya dan membuatnya harus memiliki cara agar Maya percaya padanya.


Namun Rangga berfikir kembali, Rencana yang hampir saja berhasil dijalankannya harus hancur dengan kelancangan Luxio.


Keinginannya membuat rumah tangga Aaron dan Maya hancur tanpa ada mencelakai siapapun ataupun saling membunuh. Cukup dengan memakai cara yang apik itu sudah cukup menurutnya.


"Tapi aku tak tertarik." Ujar Rangga melenggang keluar dari tempat itu.


Entah bagaimana nanti dirinya akan membuat Maya percaya padanya jika yang melakukannya bukanlah dirinya melainkan orang lain.


...****************...


Dirumah sakit Rv medika, Aaron sudah membuka matanya walaupun masih dalam keadaan telungkup. Sang dokter menyarankan agar posisi seperti itu di pertahankan sebab punggung Aaron masih dalam pemulihan dan belum sembuh total.


Namun keluarga patut bersyukur kala Aaron siuman ketika sudah di operasi biasanya pasien yang sudah di operasi akan siuman setelah beberapa hari dari berlangsungnya operasinya. Apalagi dengan luka serius yang dimiliki Aaron ditambah kekurangan banyak darah yang harus mentranfusi 3 kantong darah pada tubuhnya


Ceklekkk...


"By...." Panggil Maya berlari ke arah suaminya tak peduli para sahabat dari suaminya tengah berkumpul disana termasuk Tiara dan orang tua Aaron.


"Sayang kamu dari mana saja?" Tanya Aaron dengan nada lemahnya, dirinya berusaha memiringkan tubuhnyan agar bisa melihat wajah istrinya.


"Kamu kenapa sayang, Jangan bersedih aku tak apa." Ujar Aaron lagi kala melirik sekilas wajah istrinya yang sembab.


"Jangan banyak bergerak Ar, lu masih belum boleh banyak gerak." titah Revan ketika Aaron berusaha mengubah posisinya. Tak taukah dia, jika itu sangatlah berbahaya.


"Jangan bergerak by, Aku hanya merasa bersalah saja dengan keadaanmu yang seperti ini." Sahut Maya menggenggam tangan yang sangat dingin itu.


Maya mengerutkan dahinya, bagaimana bisa tubuh Aaron dingin seperti es. Padahal ruangannya biasa saja tak terlalu dingin pula. Namun tubuh Aaron membuat Maya kebingungan apakah memang seperti ini reaksi orang sehabis operasi.


"Van, kenapa tubuhnya dingin banget van.?" Tanya Maya dengan sejuta keingintahuannya.


Revan berdiri dari duduknya dan menghapiri Aaron yang sudah tak kuat menahan matanya untuk terpejam.


"Ar lu denger gua kan." Ucap Revan melihat monitar di sebelah Aaron.


"Ar..." Panggil Revan lagi kala Aaron masih tak menyahutnya.


"kenapa Van.?" Tanya Maya khawatir melihat wajah Revan yang nampak gelisah.


"Aaron drop." Dua kata itu mampu membuat semua yang ada disana tercengang tak percaya.


Bukankah baru saja Aaron mengobrol dengannya mengapa Aaron malah drop kembali.


"Tolong keluar semuanya , aku akan memeriksa Aaron. Sus tolong." titah Revan kala ke2 orang perawat memasuki ruangan Aaron.


"Van aku disini Van, akk.."


"Pliss keluar dulu may, jangan menghambat kesembuhan Aaron." Ujar Revan membuat Maya yang dituntun Tiara hanya bisa pasrah.


Hampir setengah jam lamanya, pintu ruangan Aaron kembali terbuka dengan perawat yang menyuruh Maya masuk atas permintaan Aaron.


"By, Kamu kenapa by. Jangan kayak gini dong." Ucap Maya yang sudah berdiri di samping brangkar Aaron. Ia membungkuk agar Aaron bisa tau betapa dirinya menghkhawatirkannya.


"Jaga dirimu ya, Aku gak kuat." Ujar Aaron dengan nafas tersenggal- senggal. Tangannya terulur menyentuh wajah ayu sang istri walau keadaanya sangatlah kelelahan.


"Jangan ngomong aneh- aneh by, aku yakin kamu pasti...." Ucapan Maya terhenti kala suara melengking di monitor tersebut melengking di pendengarannya sontak saja dirinya menoleh ke arah monitor.


tiiiiiiiitttttttttttt...


Bersamaan dengan buntinya monitor tiba- tiba saja tangan Aaron yang berada di tangannya meluruh. Apalagi di tambah ucapan para suster yang membuat Maya sangatlah histeris.


Sungguh pada malam ini dunia hancur bersamaan dengan jiwa Aaron yang sudah dipanggil oleh sang pencipta.


"By bangun, Van kenapa hubby gak bangun van." Ucap Maya histeris semabari memeluk tubuh yang masih setia telungkup itu.


"May tenang . Aaron udah kembali kesisinya ikhlaskanlah." Ujar Revan berusaha menenangkan Maya yang tak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Aaron.


"Enggak van, Aku mau ikut tolong bangunin dulu van. Aku mau ikut dia van. By ayok bangun bawa aku by, aku gak mau sendirian." Ucap Maya menggoyangkan tubuh Aaron.


Semuanya terpukul mendengar berita yang di sampaikan suster, mereka masuk kedalam ruangan dan mendapati Maya yang terus histeris memeluk Aaron suaminya.


"May, yang tenang may. Ikhlasin suami lu biar dia tenng disana." Ucap Tiara berusaha menarik tubuh Maya agar melepaskan pelukannya.


"aku gak ikhlas ra, aku mau ikut dia toll....." Sergah Maya sebelum dirinya tak sadarkan diri didalam pelukan Tiara.


Talia yang melihat itu tak bisa melakukan apa- apa sebab dirinya juga merasa terpukul atas perginya sang anak. Para sahabatnyapun hanya menunduk mengahalau air mata yang akan menetes.


"Semoga apa yang kau inginkan tercapai Ar.." Batin Ben melihat wajah yang berada dalam ruangan tersebut satu persatu dengan tampan kehilangan.