Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 74



Dibelahan bumi yang lain sesosok wanita cantik kembali kerumahnya. Setelah dinyatakan sembuh karena dirinya mengalami koma selama hampir dua bulan, Kini dirinya bisa menghirup udara segar .


Berada dirumah sakit membuatnya agak asing dengan dunia kebebasan, yang ia tau hanya dinding putih dan selang infus menggantung di sisi kirinya.


"Honey apa kamu nyaman.?" Tanya pria yang berstatus tunangannya itu sambil mendorong kursi roda wanitanya ke taman belakang rumahnya.


"Sangat nyaman honey, Kamu tau? Aku seperti buta warna berada di rumah sakit. Badanku seperti remuk semua." Papar wanita itu. Dirinya berdiri dari kursi rodanya, Mengambil bunga mawar yang sedang beemekaran.


"Honey jangan lari- lari. Aku takut kamu kecapekkan honey." Pria itu mengahmpiri wanitanya , Dirinya sangat khawatir jika wanitanya capek apalagi dia baru pulang dari rumah sakit.


"Aku udah sehat Rangga, Seriusan." Ucap si wanita memutar tubuhnya, Agar Rangga percaya kalau dirinya sudah sembuh total.


"Mayra stoop jangan lakukan itu lagi." Rangga memegang bahu Mayra agar dirinya berhenti.


"Aku sehat Ngga tolong jangan terlalu berlebihan." Sergah Mayra.


Cuupppp.


"Jangan membantah cantik, Atau kamu mau aku cium disini disaksikan para pelayan itu." Tunjuk Rangga menggunakan dagunya ke arah pelayan yang sedang berkebun.


"Dasar gak tau tempat." Mayra mencubit pinggang Rangga, Membuat Rangga mengaduh kesakitan.


"Honey sakit." Ucap Rangga memelas.


"Biarin." Mayra melenggang pergi dari hadapan Rangga namun dengan gerakan cepat Rangga membawa Mayra ke dalam gendongannya seperti karung beras. Membuat Mayra memekik terkejut.


"Honey lepas, aku takut jatuh honey ." Teriak Mayra memukul punghung kokoh Rangga.


"Salah sendiri main nyubit." Sahut Rangga membawa Mayra menaiki tangga. Hingga tiba dikamarnya, Rangga merebahkan Mayra secar perlahan.


Sebelum Mayra kabur, Dengan cepat Rangga mengukung tubuh tunangannya.


"Honey mau apa?." Mayra terkejut mendapati Rangga membuka kaosnya.


"Kamu katanya sudah sembuh, Mari kita bercinta honey." Setelah berucap, Rangga melahap habis bibir Mayra dengan ganasnya.


Mayra mencoba melayani Rangga dengan lapang dada, Tetapi mengapa rasanya dirinya ragu untuk membalas cumbuannya.


Mayra mencoba memejamkan mata, namun yang ia dapati ketika memejamkan mata sesosok pria lain yang tengah mencumbuinya dan itu bukan Rangga.


Ketika Rangga bermain di area dadanya, Sekelebat memori rusak hinggap diingatan Mayra. Hingga dirinya tak sanggup menahan sakit di bagian kepalanya.


"Aw...." Mayra memegangi kepalanya. Ketika dirinya berusaha mengingat entah mengapa kepalanya teramat pusing.


"Honey kenapa?" Tanya Rangga menyudahi aktivitasnya ketika mendengar rintihan Mayra.


"Sakkiitt." Ucap Mayra menahan rasa sakit dikepalanya.


"Honey sebentar aku panggilin dokter." Belum juga Rangga beranjak, Mayra pingsan seketika. Membuat Rangga khawatir, Dirinya mengambil handpone untuk memanggil dokter yang menangani Mayra tak lupa pelayan ia suruh membuat sesuatu agar Mayra kembali siuman.


"cepat." Bentak Rangga kepada pelayannya.


"Bbaik ttuan." Ujar Pelayan ketakutan.


"Apa yang telah aku lakukan." Rangga menyunggar rambutnya. Ia meerangkak ke arah ranjang, membenahi pakaian Mayra yang telah ia buka.


"Honey aku minta maaf udah buat kamu kayak gini." Rangga membelai rambut Mayra sekali- kali mencium dahinya.


Setelah menunggu sekian menit, Akhirnya dokter yang ia tunggu datang.


Memeriksa kondisi Mayra dengan intensif, Karena Mayra pasien terkhususnya di rumah sakit ataupun dirumah seperti sekarang. Ia aka memprioritaskan Mayra meskipun dirinya dalam keadaan sibuk sekalipun. Karena jika ia menomor duakan Mayra, Nyawanya taruhannya.


Pernah sekali dirinya sedang melayani pasien lain namun Rangga meletakkan pistol dikepala belakangnya. Membuatnya membeku ditempat.


"Maaf Tuan dari pemeriksaan saya, Nona Mayra memaksa mengingat sesuatu terdahulu." Ujar Cleo sang dokter.


"Kenapa bisa sampai begitu.?" Tanya Rangga dengan nada meninggi.


"Mmungkin nona melakukan sesuatu yang perna ia lakukan dulu tuan, Jadi nona Mayra berusaha mengingatnya." Ujar sang dokter memilih menunduk.


"*Apa dia pernah melakukannya dengan pria itu." Batin Rangga semakin menyala api kemarahannya.


"Aaa brengsek." Umpat Rangga meninju udara, Dirinya melenggang pergi dari kamar* wanitanya.


Cleo hanya bisa menggelengkan kepala melihat sifat Rangga seperti itu, Wanita yang masih terpejam itu sangat kuat menjalin hubungan dengan pria yang menurutnya sangat arogant dan berbahaya.


"Kasian sekali nona Mayra, Harua memiliki kekasih seperti itu. Apa tak tertekan setiap harinya." batin Cleo.


Cleo memasang infus ditangan Mayra dan dibantu para pelayan mengoleskan minyak angin di dada serta hidungnya.


Cleo mendesah kasar ketika mendapati tubuh nonanya banyak tanda merah disekitar leher dan dadanya.


"Gimana mau sembuh, Tuan Rangga selalu memaksa kehendak. Mungkin nona pingsan juga karena paksaan dari tuan. Sungguh malang nasibmu nona, Semoga cepat atau lambat kebahagiaan menghampirimu." Batin Cleo, Dirinya undur diri ketika pekerjaannya sudah selesai. Tinggal menunggu Mayra siuman saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekelompok pria berjas hitam tengah memukil seorang pria tampan dan kekar, Karena dirinya sendirian dan dikroyok. Menjadikan dirinya kalah hingga membuat dirinya babak belur ditangan keliama pria berjas hitam.


Seorang wanita cantik menyaksikan kejadian itu, Dirinya berinisiatif ingin menolong dengan alat seadanya meskipun sangat kecil untuk bisa meloloskan pria yang sedang terkapar itu.


"Kalau berani jangan main kroyok dong. Lakik kok kayak bencong." Teriak wanita itu memegang kayu, menurutnya akan lebih waspada jika dalam keadaan bahaya.


Pria berjas hitam menoleh ke sumber suara tak terkecuali pria yang sudah terkapar itu .Terlihat wanita cantik tengah gemetaran memegang kayu.


"Sayang pergi." Teriak Aaron ketika mendapati Maya.


"Aa." Maya kaget ternyata orang yang akan ditolongnya adalah pria yang dicintainya. Maya berlari ke arah Aaron, Tak menggubris keselamatannya saat ini yang terpenting prianya selamat.


"Pergi." Bentak Aaron melihat Maya mendekapnya.


"Enggak A. Aku mau nolongin kamu, Ayo kita pergi sama- sama." Maya membantu Aaron berdiri, Namun tak berhasil karena tubuh kekar itu sudah remuk redam.


"Gak bakalan bisa cantik, Dia hanya tinggal menunggu ajalnya menjemput." Timpal Rangga, Muncul diantara pria berjas hitam.


"Rangga. Aappa maksut kamu? Jangan bilang kalau kamu yang menyuruh mereka memukuli Aa.?" Tanya Maya dengan air mata bercucuran dari matanya.


"tentu." Jawab Rangga singkat. Dirinya mengkode anak buahnya dengan jarinya. Seakan mengerti, Dengan segera mereka membawa Maya ke arah Tuannya.


"Lepass kalian gila hah.?" Teriak Maya ketika tanganya sudah berada dalam genggaman Rangga.


"Jannggann lukkai wanitakkuu." Ujar Aaron dengan suara lemah.


"Jangan mimpi Aaron Addison, Lenyaplah dengan tenang karena wanitamu akan menjadi milikku." Ucap Rangga mengarahkan pistol ke arah Aaron yang terkapar.


"Jangan, aku mohon lakukan itu ngga." Teriak Maya menangis histeris, Dirinya berusaha memberontak namun usahanya sia- sia karena tangan kanan dicekal oleh Rangga dan yang kiri oleh pengawalnya.


"Tak semudah itu cantik." Ujar Rangga dengan senyum sinisnya.


***Doorr


Doorrr***.


"Tidakkkkk..." Teriak Mayra terbangun dari pingsannya. Entah mengapa mimpi itu seperti nyata menurutnya. Setiap kali bermimpi selalu datang pria yang bernama Aaron, Dan Mayra tak mengenalinya. Namun dalam semua mimpinya bahwa dirinya sangat mencintai pria tersebut.


"*Aaron Addison siapa kamu? kenapa mimpiku selalu tentang kamu." Batin Mayra mengelap keringat yang bercucuran didahinya.


"Dan Rangga, Kenapa setiap dalam mimpiku dia selalu menjadi pemeran antagonis. Tuhan bantu aku, Apa yang terjadi denganku. Aku baru bangun dari koma, Rangga mengaku sebagai tunanganku. Aku gak ingat sama sekali tentang semua dimasa laluku." Batin Mayra bertanya- tanya*.