
Maya dan Aaron kini tengah mengelilingi mall ternama di ibukota walau Aaron selalu menggerutu di setiap langkahnya namun tetap saja langkahnya mengikuti kemanapun istrinya tercintanya. Enggan meninggalkannya sendiri meskipun sudah ada seseorang yang selalu mengikuti kemanapun istrinya pergi.
Bukannya apa- apa Maya mengajak paksa pergi ke mall, Menurutnya Ia sangat capek selalu di kurung suaminya di kamar. Bukan hanya bosan bahkam rasa tubuhnya remuk redam oleh ulah mesum suaminya. Setiap ada kesempatan sang suami selalu saja menggepurkan. Ia juga bingung mengapa kekuatan sang Suami ketika bercinta staminannya selalu bertambah kadang juga membuat Maya kualahan mengimbanginya.
"Hummy udah ya jangan banyak- banyak barangnya nanti kita bisa beli lagi di lain waktu." Ucap Aaron mencekal tangan Maya ketika sang istri akan memasuki toko perabotan yang berada di dalam Mall.
Bukannya apa mereka membeli beberapa perabotan dan alat lainnya karena baik Maya ataupun Aaron sudah matang akan menempati rumah minimalis. Tempat dimana Aaron menyimpan semua tentang Maya istrinya selama Maya masih menjadi kekasih sahabatnya.
Talia sempat menolak dengan keputusan mereka berdua, namun dengan bujuk rayuan Aaron yang mengatakan mereka ingin mandiri. Membuat Talia tak mampu menolaknya apalagi putranya telah menjadi kepala keluarga.
Salah satu alasan selama seminggu berada di kediaman Addison yang membuat Aaron kesal adalah tingkah sang adik yang jutek. Menurut Aryan sang kakak selalu membuatnya mati kelaparan sebab selalu datang terlambat di meja makan, itu yang membuat si bocil geram pada sang kakak.
Pernah sekali Aryan melihat Aaron tengah berciuman panas di kolam renang, Tanpa melihat keadaan sekitar Aaron dengan agresifnya mencumbu wanitanya di alam terbuka. Mata yang masih suci itu menghampiri ke dua insan yang tengah beradegan panas tersebut.
"Kak Maya aku mau juga di cium kayak kakak dong, kayaknya enak sampek kakak merem gitu." Ucap Aryan dengan polosnya yang membuat kedua sejoli di tengah kolam reflek terkejut dengan kemunculan si bocil itu.
"Ehh Aryan kenapa dek.?" Tanya Aaron tergagap , Betul apa kata Bunda kalau mereka tetap disini otak si bocil akan terkontaminasi oleh keminusan sang kakak.
"Mau di cium kak, Kayaknya enak." Ucapan polos itu kembali meluncur sempurna di bibir si bocil.
"Emm Aryan, gak boleh ngomong gitu yahh. Gak baik loh Mm maksut kakak itu jangan di tiru Maafin kakak ya udah...." Ucapan Maya terhenti ketika Aryan membentaknya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Kakak jahat , Bilang aja gak mau nyium Aryan. Kakak gak sayang lagi sama Aryan, huhuuuhhuu." Ucap Aryan berlari ke dalam dan meraung memanggil nama Bunda dan papa.
"Itu kan, kamu sihh males aku sama kamu By. Gak tau kondisi banget udah tau disini ada Aryan yang selalu ada dimana- mana." Ucap Maya juga pergi dari sisi Aaron, menaiki kolam dengan cepat dan berganti pakaian dan berusaha berbicara pada Aryan agar tak salah paham lagi.
"Ishhhh bocil minta di ajarin ciuman, udah gila kali otaknya huffffffft." Ucap Aaron mmandang punggung istrinya yang sudah menjauh. Menyunggar rambut kepalanya kebelakang dengan frustasi mengingat kemarahan sang istri.
"Mati lu Ar, si piton pasti cuti nanti malam." Batin Aaron menggelengkan kepala. Sudah sebulan mereka menjadi seorang suami istri, Aaron tak sekalipun mengistirahatkan tubuh Maya meskipun sudah lemas di bawahnya.
Entah mengapa ketika kulit sudah bersentuhan dengan kulit mulus bak porselen milik istrinya, si piton selalu turn on di buatnya. Meskipun kasihan dengan sang istri namun ia berusaha bodoh amat sebab istrinya sangat pasrah dan menikmati permainannya.
Setelah malam menjelang, tepatnya saat berkumpul di ruang keluarga Aaron menjadi bulan- bulanan Talia dan Arkan. Bukan sekali dua kali mereka mengingatkan si sulung jika bercinta ingat tempat dan berakibat fatal seperti sekarang ini dengan secara langsung mengajari Aryan yang masih menginjak umur 12 tahun dengan hal- hal negatif.
Hingga Aaron memilih untuk menempati rumah minimalis setelah berdiskusi dengan istrinya.
"Jangan bosan- bosan main kesini. Biar bunda gak kangen ya nak." Ucap Talia membelai rambut Maya.
"Iya bun di usahain kok." Sahut Maya dengan senyuman tulusnya.
...----------------...
Maya pasrah dengan apa yang di ucapkan Aaron, Mereka melangkahkan kakinya ke arah restoran cepat saji. Setelah berjam- jam keliling di luasnya Aa mall membuat perut yang sudah di isi dengan cepatnya meminta di isi kembali.
Memanggil waiters dan memesan beberapa makanan den cemilan tak lupa minuman yang membuatnya akan selalu nampak manis dengan penyajian yang elegan.
Setelah semua pesanan tiba, Baik Aaron maupun Maya memakannya dengan khidmat tanpa peduli dengan orang- orang sekitar yang nampak memandangnya dengan tatapan remeh.
Memang wajah Maya tak nampak sebab seseorang yang menatapnya dengan remeh tersebut berada di belakang Maya dan posisinyapun agak jauh hingga membuatnya hanya bisa melihat Aaron yang tengah bahagia bersama wanita.
"*Gua yang udah bikin Maya celaka dan kini wanita itu dengan enaknya menggantikan posisi Maya dengan gampangnya sedangkan aku yang berusaha mati- matian selalu di tolak mentah- mentah sama Aaron." Batin Amanda mengepalkan tangannya dengan penuh amarah berkobar.
"Jangan harap hubungan kalian akan baik- baik saja selama ada aku yang selalu menanti cinta seorang Aaron Addison". Batinnya lagi, membuat teman semejanya kebingungan dengan tingkah Amanda yang seperti tengah marah.
"Manda, lu kenapa." Tanya Arin teman semeja Amanda, Bukannya menjawab Amanda berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah Aaron dan wanita misterius itu.
Dengan gaya seksinya, Amanda berjalan berlenggak- lenggok ke arah Aaron. Ia berfikir Aaron akan melihatnya .Namun usahanya sia- sia, Melirikpun Aaron juga tidak apalagi memandang. Aaron terlalu sibuk memperhatikan Maya yang tengah menggeruru oleh makanan yang pedas tersebut.
"Sayang, aku merindukanmu." Ucap Amanda ketika berada di meja Aaron. Menubruk tubuh maskulin itu yang masih tercengang dengan kedatangannya. Tak lupa Amanda menyempatkan mencium bibir Aaron dengan lembut.
Bukannya menolak Aaron malah sepertinya masih syok dengan kedatangan Amanda sehingga bibirnya ketika di cium olehnya seperti tak menolak dan itu menurut pandangan Maya. Hingga*...
***Brukkkkk...
Tubuh Amanda terjatuh ketika kesadaran Aaron pulih total dengan tingkah Amanda. Marah dengan sikap kelancangan Amanda yang menciumnya di depan istri tercintanya, ia takut Maya akan salah paham apalagi ingatnnya belum pulih.
"Sayang sakitt." Rintih Amanda menjukurkan tangannya ,meminta tolong agar Aaron membantunya.
"Apa- apaan kamu Amanda." Bentak Aaron membuat seisi restoran menatap ke arahnya***.