Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Ingatan kembali



Awan di langit telah menampakkan warna jingga dengan sejuta keindahanya. Dengan segenggam harapan seorang wanita berdoa agar keluarga kecilnya yang baru saja merajut mahliga rumah tangganya di jauhkan dari badai yang melanda.


Menengadah kepalanya menyaksikan keindahan alam semesta yang akan hilang di gantikan dengan gelapnya malam.


Maya memejamkan matanya dengan gerakan cepat juga dirinya menarik nafas dalam- dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


Hingga pada akhirnya sebuah tangan kekar melingkar sempurna di perutnya membuatnya terjingkat kaget namun ia sudah tau pelakunya dari parfume yang sangat familiar di indera penciumannya.


Seseorang yang memeluknya menaruh kepalanya di bahu Maya bisa di rasakan juga hembusan nafas dengan aroma mint memenuhi indera penciuaman Maya.


"Hummy kenapa masih disini hmmm.? Udaranya dingin sayang." Ucap Aaron bertanya dengan posisi memeluk sang istri.


"Aku suka dengan udaranya disini By apalagi banyak bunga dan tanaman disini membuat aku nambah betah disini." Ucap Maya mengelus tangan yang ada diatas perut ratanya.


"Maafkan aku Hummy kalau perkataanku tadi pagi menyakiti hati kamu, Sungguh aku gak bisa tenang seharian ini dengan ucapanku sendiri." Ucap Aaron membalikkan tubuh Maya agar menghadap kepadanya. Bisa di lihat dengan jelas bahwa Aaron tengah menyesali perkataannya di pagi tadi.


"Sudahlah By jangan di permasalahkan. Memang aku saja yang terlalu sensitif, Serius aku gak apa- apa kok." Timpal Maya dengan senyum manisnya hingga membuat hati Aaron lega jika Maya tak mempermasalahkan ucapannya tadi.


Aaron memeluk kembali tubuh Maya dengan erat sehingga membuat Maya spontan memekik karena pelukan dadakan dari Aaron yang membuatnya terkejut.


Bukannya melerai, Aaron malah semakin mempererat pelukannya pada seorang wanita spesial di hidupnya. Tawa renyah juga terbit di bibir Aaron kala Maya menggerutu atas tingkah yang di berikannya, Senyuman yang sedari tadi tersumbat dengan kegelisahan kini menjadi sebuah anugerah bagi dirinya sendiri. Sebab senyumannya itu terbit berkat netranya melihat wajah ayu nan manis milik sang istri .


"Aku mencintaimu Hummy."


"Aku juga By"


Degggg.


"S-ayang mulai kapan? Mmm maksutnya mulai kapan kamu mencintaiku." Tanya Aaron tergagap ketika bibir manis sang istri mengucapkan kata keramat menurutnya setelah sang istri lupa ingatan.


"Aku tadi teringat sesuatu dengan kejadian kita dulu, Aku sudah mengingatnya by. Aku mengingatmu sebagai Aa'ku, Aku mengingat tulisan yang kamu gantung tepat di depan kamar kita, Amy Aaron MaYa." Papar Maya dengan senyuman bahagia ketika ingatannya sudah kembali. Air matanya sudah mengenang di pelupuk matanya, Ia tau jika apa yang di ucapkannya akan membuat sang suami bahagia juga.


"Sayang... Ohh Tuhan. Terima kasih sudah menyembuhkan istriku." Ucap Aaron bersujud di atas rerumputan karna sangat bersyukur dengan kejadian yang menimpanya kini.


Maya juga ikut terduduk di samping Aaron yang masih setia bersujud bisa ia lihat jika Aaron sepertinya tengah menangis kala Maya melihat punggung Aaron bergetar bersamaan dengan cahaya rembulan yang sudah menampakkan sinarnya sebab hari sudah mulai petang.


Dirinya bangun dari sujudnya memandangi wanita yang sangat di cintainya dengan tatapan terharu. Apalagi bening- bening kristal juga mulai mengalir di pipi wanitanya.


"Sayang aku bahagia kamu sudah mengingat semuanya, B-agaiman kamu bisa mengingatnya Sayang hmm." Ucap Aaron menangkup wajah Maya dengan air yang setia mengalir di pipinya dan wanitanya.


***Flasback on.


Maya yang tengah asik melamun di taman belakang di kagetkan dengan bayangan seseorang yang tengah memerhatikannya di balik pohon dekat dengan jalan setapak. Hingga rasa penasarannya membuncah ketika wajah seseorang tersebut kembali mengintip dari balik pohon.


"Heyy siapa disana?." Teriak Maya menajamkan indera penglihatannya , ia melangkah pelan berniat menghampiri seseorang di balik pohon tersebut .Hingga hampir saja tiba, Seorang pria dengan baju serba hitam dan kacamata bertengger di hidungnya menampakkan dirinya.


"S-iapa?" Tanya Maya gemetaran, ia takut jika seseorang itu akan menyakitinya.


"Jangan mendekati nona kami." Teriak pengawal suruhan Aaron menodongkan pistol ke arah pria berpakaian hitam tersebut. Membuat Maya menoleh ke arah pengawal dan dengan gerakan cepat si pria berpakaian hitam itu menarik Maya dan berusaha mencekiknya.


"T-olonggg.." Pekik Maya menahan sakit dilehernya kala pria tersebut mencekiknya.


"Ahhhhhh..." Teriak pria itu ketika tangannya tertembak oleh pengawal Aaron, Dengan tergesa- gesa pengawal menolong Maya yang sudah terjatuh akibat cekikan erat di lehernya terlepas begitu saja.


"Nona tidak apa- apa.?" Tanya pengawal mengecek nonanya takut ada luka lecet di tubuh sang nona. Hingga tak menyadari jika musuhnya tengah merencanakan ancang- ancang walau tangan kirinya tertembak.


"Tidd Ahhhh...." Ucap Maya terpotong ketika pria tersebut memukul Maya menggunakan balok kecil hingga menimbulkan luka di dahi kepalanya.


"Bajingan." Bentak pengawal membabi buta menghajar pria tersebut hingga detik kemudian dua orang berpakaian hitam lainnya muncul dari dalam mobil yang terparkir di ujung jalan setapak.


***Bughhhh.


bughhh.


bughh.


"Berhenti." Teriak Para pengawal yang datang tergopoh- gopoh ketika mendengar suara gaduh dan tembakan.


Dorrrr


dorrr.


Pengawal melayangkan tembakan ke atas udara hingga menghentikan aksi dari hajar menghajar salah satu rekannya.


"Pergi sebelum kami tembak mati disini." Ucap salah satu pengawal menodongkan pistol ke arah dua pria berpakain hitam, Hingga di persekian detik ketiga pria tersebut memapah rekannya yang sudah tertembak dengan penuh kekhawatiran atas kekalahannya. Mereka mengira keluarga Addison hanya keluarga biasa yang takkan punya benda api. Mereka menyesal tak membawa benda tersebut sehingga membuatnya kalah sebelum bertarung.


"Sialan mereka ternyata ada pengawal dan senjatanya pistol lagi." Ucap pria berpakaian hitam yang bernama Tomo, Sudah sakit karena tertembak di tambah lagi pukulan bertubi- tubi dari pengawal Aaron.


"Salah lu sendiri, Mafia macam apa sampai kelupaan bawa pistol." Sahut satunya lagi dengan mengendarai mobilnya.


Disisi lain para pengawal tengah cemas ketika ada luka di dahi sang Nona, mereka takut dengan kemarahan tuannya jika terjadi sesuatu dengan nonanya.


"Nona." panggil salah satu pengawal ketika sang nona masih terus memegangi kepalanya.


"Cepat panggilkan dokter , Aku yang akan membawa nona masuk." Ucap Satu pengawal bersiap menggendong Maya namun ucapan Maya menghentikan niatnya.


"Udah gak perlu aku bisa sendiri. Terima kasih atas bantuannya." Ucap Maya berusaha berdiri dengan tangan yang masih setia memegang kepalanya.


"Tapi nona kepala nona terluka, kami takut Tuan marah." Ucap pengawal ketakutan.


"Jangan beri tahu suamiku, Biarkan aku saja. Beneran aku gak apa- apa, Tolong bantu saya berdiri saja." Ucap Maya.


Tanpa melawan para pengawal membantu sang Nona berdiri dan mendudukkan nya di kursi panjang yang berada di taman tersebut.


"Jangan khawatirkan aku paman, Kalian cukup menjagaku dari jauh saja. Aku takkan kemana." Ucap Maya memijit pelipisnya dengan mata terpejam.


"Baik Nona, Kami ada disini untuk nona." ujar Pengawal final dengan keputusan sang Nona***.


flasback off