Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Pasca melahirkan



Sudah berjam- jam menunggu di depan ruangan dan berdoa kepada sang maha pencipta agar semuanya lancar tanpa halangan apapun .Semua keluarga yang sudah datang tengah menunggu dengan harap- harap cemas. Mereka mendapat kabar dari Aaron hingga mereka segera melesat pergi ke arah rumah sakit tempat dimana Tiara tengah memperjungkan nyawanya.


Begitupun dengan Maya yang tak pernah melepaskan pelukannya pada Aaron. Berharap- harap cemas sebelum dokter yang menangani Tiara keluar dari ruangan tersebut.


Oekkk.... oekkk......


Tangisan bayi menggelegar di dalam ruangan hingga yang berada di luar berucap syukur ketika mendengan pantulan suara bayi menangis. Ayah Tio bersujud mengucap syukur ketika tangisan cucu pertamanya memenuhi indera pendengarannya.


Maya yang melihat ayahnya bersujud dengan linangan air mata berusaha menghampiri dan memeluknya. Ia juga cemas sebab sedari tadi hanya teriakan Tiara yang di dengarnya lalu sekarang hatinya lega ketika suara mungil tengah menangis di dalam ruangan.


***Ceklekk....


"Dok bagaimana keadaan putri dan cucuku." Tanya Tio berdiri menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan bersalin.


"Selamat pak cucu anda seorang putri yang sangat cantik dengan kondisi yang sangat baik dan normal hanya saja ibunya masih lemah karena sedari tadi tak ada asupan yang mengisi tubuhnya sehingga membuatnya sangat kehabisan tenaga saat mengejan." Papar sang dokter dengan ramah.


"Apakah saya bisa melihatnya dok." Tanya Tio yang sangat antusias.


"Sebentar lagi pak, perawat akan memindahkan ruangan bu Tiara terlebih dulu. Maaf saya permisi." Pamit dokter melangkahkan kakinya menjauh dari keluarga yang tengah berbahagia itu. Walau Tiara bukan anak kandung dari Arkan ataupun Talia, Namun mereka sangat dekat dengan Tiara sama ketika bersama Maya . Mereka akan menganggapnya putri sendiri walau kenyataannya hanya putri ketemu besar.


"Nak Ayah punya cucu nak, dan kamu akan jadi tante." Ucap Tio di depan Maya dengan air mata yang masih setia menetes.


"Iya yah, Ayah sudah menjadi oppa. Jangan sedih dong kan mereka baik- baik aja, Senyum yah." Ucap Maya menghibur Tio dengan candaannya.


"Ayah takut nak, Kejadian yang menimpa ibumu terulang lagi pada Tiara. Ayah sangat khawatir, Tapi sekarang sudah lega karena Tiara tak selemah itu." Ucap Tio menghapus sisa- sisa air matanya dengan kasar.


"Tiara kuat kok yah." Bukannya Maya yang menjawab melainkan Tiara yang sudah keluar dari dalam ruangan dengan tertidur di atas brankar. Noah dan para perawat menghentikan dorongan brankar tersebut ketika Noah mengkodenya.


"Tiara.. Iya Ayah tau kamu kuat. Kamu penyemangat Ayah nak jangan perna berfikir untuk menyerah jika sedang putus asa." Papar Tio menghujani ciuman diwajah putrinya.


"Aku selalu ingat pesan Ayah kok. Tolong gendong cucunya dulu ya yah, Aku mau istirahat dulu. Capek." Ujar Tiara, Karena kelamaan menangis membuat matanya sangat mengantuk ingin segera memejamkan mata.


"Iya nak Ayah akan menggedongnya." Ucap Tio mengangguk antusias, Ia segera mengambil alih bayi mungil yang masih dalam dekapan Talia, Dengan berat hati Talia memberikan nya walau dirinya juga masih ingin menggendongnya.


Noahpun kini sangat bahagia walau perkenalan pertama dengan Tiara terkesan sangat buruk namun mampu membuat hati Noah dengan cepatnya meluluh . Apalagi ketika Ayah Tio datang kepadanya dan menyatakan bahwa Tiara tengah hamil anaknya. Antara percaya tak percaya namun itu sudah terjadi pada diri Noah, Otaknya selalu menyangkalnya jika pada pandangan pertama dirinya menyukai Tiara hingga lama kelamaan membuat ia berfikir bahwa hatinya selalu ingin melihat Tiara walau dari jarak jauh.


Tak mungkin juga Noah memperlihatkan dirinya di depan mata Tiara, Sebab ia terlalu malu dengan malam indahnya bersama Tiara hingga menyebabkan Tiara teramat membencinya.


"Makasih sayang sudah bertaruh nyawa melahirkan keturunanku." Ucap Noah mengecup kening Tiara dengan lembut , Kini mereka tengah berdua di ruangan barunya. Berucap syukur walau dirinya merasakan badannya perih sebab kuku Tiara menancap sempurna di wajah dan sebagian tubuh lainnya namun Noah tak mempermasalahkannya.


"Iya mas sudah kodrat wanita melahirkan seperti ini maaf ya gara- gara aku kamu kayak benang kusut gini hehhe.." Ucap Tiara dengan cengirannya, ia membelai luka yang ada di wajah Noah dengan kelembutan.


Detik kemedian bibir mereka menyatu, Mangantarkan ketulusan cinta mereka berdua. Tiara juga tak menyangka jika umpatannya dulu pada Noah malah berbalik padanya. Karena benci pada Noah hingga membuat seorang Tiara bersumpah takkan merestui hubungan Noah dan Maya namun jika mereka masih kekeh .Tiara kembali bersumpah bahwa hubungan mereka akan hancur. Kenyataannya yang membuat hubungan mereka hancur adalah dirinya sendiri yang telah hamil anak Noah sendiri.


"Omoo Van mata gua yang suci ini ternodai. Oh noo." Ujar Ben memasuki ruangan Tiara tanpa mengetuk pintu, dan ketika masuk kedalam alangkah membolanya matanya mendapati kedua insan tengah berbagi saliva. Membuat sifat alay Ben kambuh dengan sendirinya.


Sontak kedua sejoli yang masih menyalurkan kasih sayangnya tersebut menghentikan aktivitasnya, mereka menoleh bersamaan. Dengan perasaan malu Tiara malah menutupi wajahnya dengan tangannya namun tidak untuk Noah, ia malah asik membuat Ben kesal.


" Apa sih Ben." Susul Revan ketika mendengar Ben berteriak dengan nada tinggi. Tadinya Revan bersamaan dengan Ben menjenguk istri sahabatnya namun sebelum masuk ke ruangan, Revan menyapa Arkan yang tengah duduk di depan ruangan Tiara terlebih dahulu.


"Van si Ben lagi ngintipin gua atau gimana sih main nyelonong aja, Kalau misal gua lagi main enak- enak gimana. Takutnya lu ngiler lagi." Ucap Noah dengan lantang membuat Tiara menggepak lengan suaminya yang menurutnya sangat vulgar di bicarakan pada sahabatnya.


Tiara masih belum terbiasa berkumpul dengan sahabat suaminya yang super gokil itu, sampai Tiara tak enak hati ketika Noah berbicara seperti itu didepan sahabat suaminya.


"Biarin sayang, Biar cepet kawin mereka." Terang Noah yang mengerti maksut Tiara, ia duduk di sebelah brangkar sembari mengelus rambut sebahu sang istri.


"Nikah dodol bukan kawin, kalau kawin mah Ben udah tiap hari." Ucap Aaron masuk kedalam ruangan Tiara bersamaan dengan Maya yang selalu di gandengnya. Aaron membawa Maya duduk di sofa dekat Tiara karna Aaron yakin Maya sangat antusias pada kondisi Tiara.


"Kawin apaan sih, gua gak gitu ya. Gua masih perjaka ting- ting." Ucap Ben menyusul duduk di sofa bersamaan dengan Aaron.


"Mana coba gua liat." Ucap Revan menaik turunkan alisnya.


"Ihh Ogahh mending gua liatin ke kebo aja dari pada sama lu bang Repan, gua gak mau aset gua terkontaminasi sama virus yang lu bawa." Cecar Ben yang kesal. Enak aja aset satu- satunya bakal jadi obrolan mereka berempat ehh ralat berenam bersama Maya dan Tiara tambahannya***.