Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 39



''Itu takkan terjadi selama aku masih bernafas dan sekalipun aku matipun itu takkan kulakukan sayang. Sungguh, Aku berani bersumpah aku sangat mencintaimu meskipun semua menolak aku gak perduli. Aku gak butuh mereka yang aku butuhin cuma kamu, Cuma kamu sayang.'' Aaron terduduk dilantai bersimpuh dipaha Maya. Membuat Maya mau tak mau meneteskan air mata, Dirinya juga tak sanggup harus melihat pria yang dicintainya nampak lemah dihadapannya.


''Mengertilah A, Bunda sangat kecewa dengan hubungan kita. Aku yang salah telah menerima kamu masuk dalam hubunganku dan Noah. Tolong hargai keputusan Bunda, Dia teramat menyayangimu dari pada aku. Jangan buat Bunda kecewa karna kamu tak mau mengikuti kemauannya . Bunda benar kalau aku yang membuat kamu salah arah, Tolong A jangan buat Bunda kecewa lagi aku gak sanggup melihat Bunda penuh dengan tatapan terluka.'' Ungkap Maya menangkup wajah Aaron.


''Aku sudah bicara sama Bunda yank. Dia gak bakal kecewa lagi sama kamu.'' Aaron menggenggam tangan Maya.


''Apapun itu, Hargai keputusan bunda karna bunda gak mungkin menjerumuskan anaknya ke jalan yang salah A. Berdamailah dengan keadaan A, Kalau kita jodoh meskipun kita terpisah jauh insyaAllah nanti kita bisa bersama''. Sarkas Maya, Ia membersihkan sisa air mata yang mengalir dipipi Aaron.


''Apa kamu akan tetap menikah dengan Noah??'' Tanya Aaron memastikan. Berharap Maya tidak akan menikah dengan Noah.


Maya mengangguk membenarkan ucapan Aaron kalau ia akan menikah dengan Noah sahabatnya yang kini sudah menjadi rivalnya.


Aaron berdiri tangannya memukul kaca rias. Dunianya runtuh, Masa depan yang telah ia rancang untuk sang kekasih musnah sudah. Membawa luka yang belum sembuh total kini kembali menganga.


Maya menghampiri Aaron, Tangan yang penuh dengan kaca yang menancap darah mengalir dari sisi manapun. Maya berusah mencari obat atau apalah yang bisa membuat darahnya berhenti.


Menuntun Aaron agar duduk di tepi ranjang, Mencabut kaca yang masih menancap di tangannya dengan perasaan terluka. Dirinyalah yang membuat seorang Aaron melakukan hal gila seperti ini.


''Aa jangan gila A. Kalau masih ada kaca yang gak berhasil dicabut gimana A'' Ucap Maya membersihkan luka di tangan Aaron.


''A..'' Panggil Maya lagi. Ia memandang Aaron yang tampak dengan tatapan kosong.


''A jangan gini dong A. Jangan bikin aku khawatir'' Ucap Maya mengguncang bahu Aaron.


Maya merogoh saku Aaron, mencari ponsel untuk menghubungi Revan sahabat Aaron sekaligus dokter pribadi keluarga Addison. Ia juga menghubungi Ben sang sahabat terdekat namun tidak untuk Noah bisa runyam nanti masalahnya kalau ia sampai tau Maya berada disana juga.


Sekitar dua belas menit Revan maupun Ben tiba dirumah minimalis secara bersamaan. Mereka begitu khawatir terhadap sahabatnya yang kuat tahan baja bisa pingsan.


Revan segera mengecek kondisinya, Hingga ia melihat ke arah tangan Aaron yangbpenuh dengan darah.


Revan dan Ben yang berada diluar nampak panik karna Revan tak kunjung keluar dari kamar . Apa separah itu.???


Ceklekk.


''Gimana Van'' Tanya Ben.


''Masuk aja liat sendiri.'' Sahut Revan. Namun matanya masih mengarah ke arah Maya dengan penuh intimidasi.


Maya dan Ben memasuki kamar Aaron yang masih kacau balau. Kaca berserakan dimana- mana.


''Apa yang sebenarnya terjadi May??''. Tanya Revan.


''Aa marah ketika aku bilang mau tetep menikah sama Noah.'' Sahut Maya menundukkan wajahnya.