Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Tuan Luxio vs Rangga



Setelah kepergian orang tuanya kini Maya dan Aaron tengah berpelukan di atas ranjang dengan selimut yang menutupi hingga dada mereka. Meresapi cinta yang begitu dalam hingga takut untuk terpisahkan ataupun berjauhan dengan sang pujaan hati.


Aaron membelai rambut hitam itu dengan kasih sayang, Dirinya bersandar pada kepala ranjang agar sang istri nyaman tertidur beralaskan dadanya.


Mendengarkan detak jantung sang suami sebagai pengantar tidurnya adalah hal yang sering ia lakukan sebelum tidur menyelami alam mimpi. Selama menikah dengan Aaron kebiasaan Maya telah berubah kala dulu memeluk guling namun sekarang dirinya tak bisa memejamkan matanya tanpa mendengar detak jantung suaminya.


"Sayang.." Panggil Aaron dengan setia membelai rambut indahnya sang istri.


"Hmmm.." Deheman Maya dengan mata terpejamnya.


"Apa kamu memaafkan aku jika aku sudah mengecewakanmu." Tanya Aaron berhati- hati karena dirinya takut jika Maya curiga akan pertanyaannya.


"My..." panggil Aaron lagi ketika tak ada sahutan dari sang istri, hingga dirinya berusah melihat wajah sang istri yang masih berbantal dadanya dan benar saja Maya sudah terlelap.


"Isshhh.... malah tidur lagi untung cinta." Ucap Aaron mengecup sekilas dahi sang istri lama, Ada rasa bersalah di dalam benaknya namun dirinya terus berusaha memantapkan hatinya.


"***Mungkin ini efek dari obat yang ku berikan, Biasanya juga bercerita panjang lebar sebelum tidur. Semoga apa yang ku lakukan tak mengecewakanmu sayang." batin Aaron membenarkan posisi Maya agar dirinya juga bisa berbaring di kasurnya dengan memeluk mesrah sang istri.


Hingga beberapa menit dengan posisi yang memeluk sang istri kini Aaron menyelami mimpi indah bersama istrinya***.


...****************...


Di kota sebrang, pria paruh baya yang tengah menanti anak buahnya yang di utus mengintai seorang wanita yang mampu membuat putra tunggalnya memilih pergi dalam dunianya dan enggan bersamanya lagi karena menurut sang putra pekerjaannya membuat wanita yang di cintai enggan bersamanya.


"Maaf tuan." Ucap pengawal yang bernama Tomo dengan meringis menahan sakit. Kedua temannya yang ikut masuk ke ruangan bosnya hanya diam tak berbicara sepatah katapun.


"Bagaimana." Ucapnya datar tanpa menghiraukan keadaan pengawalnya yang terluka.


"S-aya ketahuan mengintip lalu pengawalnya datang menembak saya dan saya juga berhasil memberi pelajaran padanya." Papar Tomo menuduk.


Brakkkkk......


Dengan kasar pria tersebut menggebrak mejanya hingga membuat ketiga pengawal terjingkat kaget oleh ulah atasannya.


"Bodoohh kalian bodoh." Umpat pria tersebut dengan garangnya.


"Bagaimana bisa kalian bodoh, Gak becus menjalankan hal mudah seperti itu." Bentaknya lagi.


"Wanita itu melihat saya ketika sedang mengintainya tuan, Ketika wanita itu menghampiri saya. Dia berteriak hingga para pengawalnya datang ke arah saya dengan pistol di tangannya." Papar Tomo beralasan karena takut dengan sang atasan yang akan murka padanya.


"Kamu juga punya pistol kenapa gak di tembak juga hah." Bentaknya dengan amarah semakin menggebu.


"S-aya lupa tuan." Sahut Tomo tergagap, itulah kekurangannya tak mampu mengingat dengan efektif.


"Bodohh." Ucap pria itu menendang perut ketiga pengawalnya termasuk Tomo hingga tersungkur tak peduli jika pengawalnya kesakitan dan terluka, Sungguh kejamnya dirinya.


"Pergi dan bawa dia kehadapanku jangan pernah melukainya dengan tangan kotor kalian sendiri, Cukup bawa saja kemari biarkan aku yang akan membuatnya bertekuk lutut di hadapanku." Terang pria tersebut dengan suara yang begitu terlihat jika auranya sangat menyeramkan.


Ketiganya berusaha bangkit dengan tenaganya namun tidak dengan Tomo yang masih dalam keadaan tersungkur menahan sakit di lengannya bekas tembakan musuhnya.


Suara menggelegar di ruangan pengap itu ketika seseorang yang di panggil tuan itu menembak Tomo yang masih berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. Namun tanpa belas kasihan Luxio ayah dari Rangga Luxio menembak Tomo tepat didadanya hingga dirinya meregang nyawa di tempat.


"Tak becuss." Teriak Luxio membuat kedua pengawal yang lainnya bergetar ketakutan kala netranya melihat temannya mati di tangan Tuannya.


"Dengar untuk kalian berdua jika ada yang teledor sepertinya bersiaplah mati di tanganku. Pahammm." Bentak Luxio menggebrak mejanya dengan senyuman meremehkan.


"P-aham T-uan." Ucap keduanya serempak walau tergagap.


Kedua pengawal itu bergegas keluar ketika Luxio mengkode dengan jarinya, Mereka tak mau nasibnya seperti Tomo yang sudah mati karna kekejaman sang atasan.


"Ckk... Rangga- Rangga sungguh bodohnya dirimu mencintai wanita yang sama sekali tak mencintaimu. Tapi tenang saja Ayah akan membunuhnya agar sakit hatimu terbalaskan." Batin Luxio menyeringai.


Dirinya kembali mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya tak mampu menutupi ketampanannya walau sudah lanjut usia sekalipun.


Brakkkkk......


Rangga menendang pintu yang tertutup rapat itu dengan kakinya, Tak peduli dengan ekpresi papanya yang akan menyakitinya.


Dengan penuh emosi yang membara membuat Rangga semakin berani menampakkan rasa tak sukanya dengan apa yang di lakukan sang Ayah pada wanitanya.


Pengawal yang setia berdiri di depan pintu ruangan sang Ayah membiarkannya masuk begitu saja karena mereka tau jika Rangga anak tunggal Luxio sang atasan.


"Apa yang ayah lakukan hahaa." Bentak Rangga menggebrak meja tempat kerja sang Ayah.


"Sopankah dirimu Rangga ketika mengunjungi Ayahmu ini." Ucap Luxio santai sembari melepas kacamata yang baru saja ia gunakan .


"Tak perlu berbasa- basi , Cepat katakan apa maksutmu menyuruh pengawal melukai wanitaku." Ucap Rangga yang masih mengukung meja kerja Ayahnya dengan nafas tak beraturan sebab menahan emosi yang terus mencuat ketika teringat Ayahnya telah melukai wanitanya.


"Kamu sudah mengetahuinya putraku." Ucap Luxio berdiri, dirinya melangkahkan kakinya ke arah Rangga dengan bersedekap dada.


"Aku sengaja melakukan itu karena dirimu putraku jika kamu tak menolak apa yang aku katakan wanita yang sudah menjadi istri orang itu takkan tersakiti." Papar Rangga bingung dengan penjelasan sang ayah yang menurutnya berbelit- belit.


"Maksutnya." Sahut Rangga melihat Ayahnya yang bersedekap dada di sampingnya.


"Kamu ternyata terlalu kolot putraku, Kurang dalam segi mengingat pula." Ucap Luxio.


"Jangan membuatku semakin emosi bapak tua." Bentak Rangga hanya di tanggapi senyuman datar oleh Luxio yang sudah mendudukkan bokongnya kembali.


"Jadilah penerusku di dalam pekerjaan seperti ini, Hanya itu karna kamu putra tunggalku Rangga . Dari kerja seperti ini Ayahmu mampu mencukupi apa yang kamu mau. " Terang Luxio yang terlihat mengiba pada Rangga.


"Maaf itu takkan pernah terjadi dan suruh orang suruhanmu berhenti mengintai dan menyakiti wanitaku. Karna jika itu sampai terjadi lagi bersiaplah dirimu akan menjadi musuh besarku." Paar Rangga tanpa ekperesi.


"Dia bahkan tak memperdulikanmu Rangga tapi dengan teganya kamu menganggap ayahmu adalah musuhmu sendiri hanya karna wanita itu. Dia sudah punya suami hentikan kegilaanmu ini, kamu bisa saja mendapatkan wanita yang lebih darinya." Cecar luxio.


"Peduli atau tak peduli itu bukan urusanmu karna wanita yang ku mau adalah dia. Tak peduli dengan statusnya saat ini. Berhenti atau kita anggap saja musuh." Ucap Rangga menunjuk ke arah Luxio dengan arogantnya dan setelah itu berlalu pergi tanpa memperdulikan Luxio yang terus berteriak memanggil namanya***.