Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Samsak jadi pelampiasan



Maya tertidur di dekapan Aaron setelah semua kegelisahannya ia ceritan tanpa ada yang di tutup- tutupi pada suaminya. Aaron mengelus surai hitam legam milik sang istri, Entah kini rasanya berat sekali dirinya menutup mata. Berusaha mencari cara agar masalahnya cepet terselesaikan tanpa ada yang saling menyakiti.


Aaron memandang garis wajah pemilik surau hitam legam dengan bulu lentik yang menghiasi wajahnya. Dirinya akan berusaha lebih ekstra lagi menjaga sang istri ketika seorang yang membuatnya berpisah bersama Maya selama beberapa bulan kini hadir kembali.


"Gak ada yang akan memisahkan cinta kita lagi sayang, Aku akan berjuang demi keutuhan rumah tangga kita." Ucap Aaron pelan sembari membelai wajah sang istri.


"Semoga ketika dia hadir semua masalah yang menimpa kita telah usai, Aku gak mau dia sampai terluka karna perbuatan papanya." Ucapnya lagi kini tangannya membelai perut rata sang istri. Sebenarnya ia sangat menginginkan keturunan dari sang istri namun kondisinya sangatlah tak tepat menurutnya mengingat masalah datang bertubi- tubi pada keluarga kecilnya yang baru saja ia bangun bersama wanita tercintanya.


Ia kembali mempererat pelukannya, berusaha memejamkan mata dengan bersusah payah karena ingin selalu menemani wanitanya walaupun dalam mimpi sekalipun.


Hingga pada akhirnya usahanya tak sia- sia tepat di jam 03:45 ia terlelap dengan pulasnya dengan memeluk mesra sang istri.


Siapapun menginginkan rumah tangganya tak ada masalah walau secuilpun namun jika takdir sudah berkehendak kita sebagai manusia hanya bisa menjalani tanpa harus menghakimi.


---------------------------------------


Disebuah apertement tempat tinggalnya sementara ketika berada di indonesia, Nampak seorang pria tengah emosi sembari memukuli samsak tanpa ampun.


Ia tak tau harus bagaimana lagi mendapatkan sesuatu yang teramat di inginkannya, Sudah beberapa kali rencananya gagal karena seseorang yang ia incar memiliki banyak pelindung. Mencoba berfikir dengan jernih namun dengan bodohnya bayangan paras ayu wanita yang sudah menghianatinya menghantui fikirannya.


"Akhhhh bangsattt." Teriak Rangga dengan penuh emosi, Ia melampiaskan kemarahannya pada samsak yang ia anggap sebagai musuhnya.


"Kenapa kamu begitu menjijikkan Maya, Dasar ******." Umpat Rangga dengan tangan yang masih setia meninju dan menendang samsak.


Dirinya pernah berharap jika hubungannya dan Maya akan membaik setelah Maya mengalami kecelakaan meskipun dalam keadaan hilang ingatan. Ketika mengetahui kondisi sang wanita memprihatinkan, ia memang sengaja mengaku sebagai tunangannya agar dirinya dengan leluasanya menggapai sesuatu yang sempat ia pendam ketika pertama bertemu. Namun semuanya berubah ketika setiap harinya wanita yang begitu di pujanya menemani hari- harinya. Hingga timbullah rasa yang pernah sempat mati karena kekasih hatinya meninggalkannya untuk selamanya. Ya, Rangga awalnya menginginkan Maya karna wanita tersebut bisa membuat hasratnya meningkat tetapi ketika berjalanannya waktu kebersamaan antara dirinya dan Maya membuatnya jatuh sejatuh- jatuhnya.


Ia tau jika perasaanya takkan terbalas walaupun dengan kondisi Maya yang lupa ingatan. Bisa ia lihat dengan jelas dari netranya jika pandangannya pada dirinya seperti hambar meski dirinya mengaku sebagai tunangannya.


Rangga sangat frustasi ketika mendengar kabar bahwa wanitanya hilang di pesta kala itu. Bukannya tak menghiraukan keberadaan Maya namun seperti yang di fikirkannya bahwa ada seseorang yang sudah mengalihkan perhatiannya padahal dirinya mengawasi setiap pergerakan Maya.


Hingga kini Rangga berfikiran jika antara Maya dan Aaron sudah bermain di belakangnya dengan berpura- pura amnesia .Namun ketika Rangga sudah jatuh cinta padanya dengan seenak hati Maya meninggalkannya, Sungguh perbuatannya membuat seorang Rangga sangat frustasi.


Di tinggal pas sayang- sayangnya membuat dirinya seakan hancur tanpa sisa, Apalagi jika teringat penghianantan itu.


"Aku membencimu Aaron, Kamu yang sudah mengambil milikku. Kamu harus menanggung semuanya." Bentak Rangga dengan sekali tinju samsak itu terpental, Mengatur nafas yang mulai tersenggal- senggal akibat emosi dan aktivitasnya yang menguras tenaga.


"Jangan menyesal jika hari itu apa yang menjadi milikmu akan kembali padaku." Batin Rangga pelan dengan senyuman sinis di sudut bibirnya.


"Boss." Ucap Pengawal yang sedari tadi menunggu aktivitas Rangga terhenti, ia takut jika dirinyalah yang akan menjadi pelampiasaan sang tuan di kala emosi seperti saat ini.


"Ada apa.?" Tanya Rangga datar tanpa mengalihkan tatapannya ke arah depan.


"Nona Amanda sudah di amankan polisi, Tuan Aaron sengaja menjebloskan nona karena nona Amanda sudah terbukti jika yang menabrak nona Mayra ehh maksut saya nona Maya dua bulan yang lalu adalah nona Amanda." Terang pengawal dengan menunduk, meskipun tak melihatnya ia tau jika tuannya dalam mode amarah plus- plus. Terlihat dari tanggannya yang mengepal dengan erat hingga buku- buku jarinya memutih.


"Lalu bagaimana dengan Pattinson" Tanyanya lagi.


"Tuan Pattinson tentu saja tak terima dengan keputusan pengadilan tuan, Mereka akan membebaskan nona Amanda segera walau tuan Aaron tak mencabut tuntutannya." Papar sang pengawal lagi.


"Dengar baik- baik, Jangan sampai Pattinson berhasil mengeluarkan Amanda dari penjara. Biarkan dia membusuk di penjara karena telah membuat wanitaku kesakitan. Pahamm." Terang Rangga membalikkan badannya melihat si pengawal yang tengah menunduk takut padanya.


"B-aik tuan." Ucap si pengawal tergagap, Menurutnya informasi yang baru di sampaikan pada sang Bos sangat sensitif bagi bosnya karena tak biasanya Bosnya menyulitkan Amanda sepupunya sendiri.


Setelah kepergian pengawal tersebut, Rangga menceburkan dirinya ke kolam renam. Merefreskan otaknya yang selalu terbayang wajah ayu Maya yang tengah tersenyum manisnya.


Namun pada kenyataan ketika bertemu dengannya bukan senyuman manis lagi yang di tujukkan melainkan wajah ketakutannya seperti melihat setan.


"Aku gak nyangka bahwa selama ini keluarga Pattinsonlah yang membuat skenario jika Maya tertabrak atas perintahku, Sungguh memalukan. Aku yakin Aaron juga menuduhku yang membuat Maya dalam kondisi memprihatinkan seperti itu." Batin Rangga menyembulkan kepalanya di permukaan kolam renang.


"Lalu jika beneran Amanda yang menabrak Maya, Berarti Maya beneran lupa ingatan dan apa mungkin sebelum ke pesta Maya sudah ingat dan masih berpura- pura tak mengingat." Monolog Rangga pada dirinya sendiri. Ia bingung dengan kejadian yang membuatnya berfikir ekstra, tak mungkin jika dirinya mengambil tindakan yang salah pada wanita tercintanya.


"Tapi jika dia beneran masih lupa tak mungkin dengan mudahnya Maya ikut dengan Aaron dan menikah dengannya, Fix Maya ngehianati gua. Gua pasti gak salah dugaan, Aku bakal hancurin rumah tangga kalian apapun caranya. Karena kalian berbahagia di atas penderitaanku dengan sangat kejamnya."


"Akhhhhh.... kamu membuatku gila Maya Afriaresa, aku benci kamu, aku jijik denganmu. Dengan seenaknya kamu mempermainkanku Maya." Teriak Rangga memukul air kolam renan dengan gigi bergemelatuk.


Rasa cintanya terabaikan jika akalnya sudah berbicara, Terus saja menyangkal bahwa dirinya merindukan Maya hanya karena penghianatan yang belum tentu ada kebenarannya.