
Dirasa sudah terlalu lama mengobrol dengan keluarga inti Addison, ia bergegas meminta bantuan agar ada yang mau mengantarnya berganti pakaian. Selama berjam- jam memakai gaun pengantin yang membuatnya kesulitan untuk bergerak bebas hingga kini hari menjelang malam, ia sudah tak tahan dengan gaun yang menurutnya ribet.
Aaron mengantarkannya ke kamar miliknya, Namun dirinya hanya mengantar sampai depan pintu, Alasanya sih masih ada yang harus di bahas bersama para sahabatnya.
"Kamu duluan ya, nanti kamu istirahat aja gak perlu nungguin aku. Mungkin aku akan lama Hummy." Ujar Aaron membelai pipi Maya dengan pandangan tak terbaca.
"Iya." Maya berlalu dan menutup pintu kamarnya, Dirinya kesal bukannya ini malam pertamanya. Mengapa Aaron lebih memilih bersama sahabatnya ketimbang dirinya. Dibilang ngebet sih iya, Maya sudah terlanjur menyukai sentuhan sensual Aaron walau belum ke tahap inti.
Ia membuka gaunnya di kamar mandi, Biarlah menjadi nasibnya kini. Maya tak mau berfikir negatif dulu pada Aaron, Karena dirinya sendirilah yang sudah memantapkan hatinya untuk bersanding dengan pria tersebut.
Mengguyur tubuh letihnya di bawah shower, Bukannya mau melupakan ucapan Rangga sewaktu dirinya berada di london namun dirinya sangat yakin Aaron bisa menjaganya dan dirinya sendiri jika sesuatu hari nanti Rangga datang.
Dengan hati sedikit dongkol, Maya dengan cepat- cepat menyelesaikan ritualnya. Ingin segera merilekkan tubuhnya karena seharian full harus berusaha menahan penatnya dengan gaun yang lumayan berat.
Setelah usai, ia berjalan ke arah lemari mencari baju yang membuatnya nyaman untuk tidur. Setelah terbuka betapa syoknya Maya ketika tak mendapati pakaian apapun, hanya satu yang tergantung disana sebuah lingeri hitam dangan panjang tak sampai menutupi pahanya apalagi bahannya menerawang.
Maya begidik ngeri membayangkan jika dirinya yang memakainya meskipun dirinya rindu dengan sentuhan Aaron, entah mengapa jika menggunakan pakaian yang menurutnya kurang bahan seperti itu membuatnya hilang muka.
"Ihhh ini pasti kelakuan hubby, Dasar otak cabul." Batin Maya tersenyum malu.
"Pakek aja kali ya, Soal malu mah di pikir belakangan dari pada bugil kan gak lucu juga." Batinnya lagi.
Membuang weardropenya ke sembarang arah lalu memakai lingerie yang kurang bahan menurutnya, Selama tinggal di luar negeri sekalipun dirinya tak pernah memakai baju laknat seperti itu. Ini kali pertamanya dalam sejarah seorang Maya memakai lingerie di depan suaminya lagi.
Meloncat ke arah ranjang dan menutupi tubuhnya sebatas leher, Mencoba memejamkan mata namun rasanya sangat sulit terpejam. Hingga beberapa kali memejamkan mata namun nihil, mungkin karena kesal dirinya tak bisa memejamkan mata.
Mencoba mencari udara segar dengan membuka pintu balkon. Melihat awan hitam, bintang dan bulan saling memancarkan sinarnya membuatnya bernafas kasar. Apakah bisa bersinar seperti mereka kisah hidupnya pikir Maya.
Hingga beberapa menit ketika ia mendongak menatap langit, Dirinya di kagetkan dengan sebuah tangan kekar mengelus lengannya sontak membuatnya membalikkan badannya.
"Hubby." Ujar Maya ketika membalikkan tubuhnya mendapati Aaron tersenyum manis padanya.
"Kenapa malam- malam disini." Ucap Aaron dengan suara beratnya, Dirinya terlalu lama menahan hasratnya kepada wanitanya hingga kini sepertinya ia takkan bisa terkontrol lagi.
"Mau apa kesini. Mending sana deh gak usah deket- deket." Ucap Maya ketus dirinya menghindar dari pandangan Aaron.
Namun bukan Aaron namanya jika dirinya putus asa dengan tingkah Maya yang menurutnya kesal kepadanya.
"Kamu marah sama aku hmm.?" Tanya Aaron yang berhasil memeluk Maya dari belakang.
"ihhh lepas mending sana deh, aku lebih nyaman sendiri." Ucap Maya mencoba melepas pelukan Aaron tersebut.
"Hummy maaf dong, kan gak enak kalau mereka di tinggal sedangkan aku disini tuan rumah." Timpal Aaron mempererat pelukannya karena Maya terus berusaha melepaskan dirinya.
"Bodoh."
"Sallah sendimmpttt.." Sahutan Maya terpotong karena Aaron membukam bibir ranum itu dengan bibir tebalnya. Ia gemas melihat wajah wanitanya kesal ,membuat hiburan tersendiri untuknya.
Maya berusaha mendorong Aaron agar melepaskan ciumannya, Maya masih teramat dongkol dengan sifat Aaron yang meninggalkannya sendiri tepat di malam pertama.
"Hummy maafin aku ya.?" Ucap Aaron ketika ciuman itu telepas tak lupa wajah mengiba agar wanitanya memaafknnya.
"Kesel aku by, Dari tadi sendirian disini. Nyari baju juga bikin kesel, Ini ulah kamu kan ngasih baju gak ikhlas banget kekurangan bahan, tipis lagi. Makin double keselnya kan." cecar Maya membelakangi Aaron, niat hati ingin membuat Aaron tersiksa karena tindakannya. Namun sepertinya takkan bisa karena Aaron terlalu pandai merayu.
Mendengar penuturan Maya, Aaron hanya mengembangkan senyumannya memeluknya lagi dari belakang tak lupa di kecupnya leher mulus itu dengan lembut.
"Aku memang sengaja Hummy , Jangan marah dong nanti jelek loh." Ucap Aaron tangannya memasuki Lingerie tipis itu ,mencari titik sensitif dari sang wanita agar dirinya kembali luluh padanya.
" Yaudah kalau gak di maafin aku mau kembali ke mereka ya."
"Akhhh.." Pekikan Maya ketika Aaron menemukan titik kelemahan wanitanya. Meremas dan memilin sesuatu yang sepertinya sudah menegang .
Aaron memang sengaja mencari titik sensitif seorang Maya agar dirinya tak lagi di campakkan oleh wanitanya. Dan setelah mempermainkan sesuatu yang sudah menegang ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Maya yang tengah memejamkan mata. Sengaja mempermainkan agar wanitanya yang memintanya untuk di puaskan dirinya
Maya membuka matanya ketika pendengarannya menangkap suara seseorang yang tengah melangkahkan kakinya. Sontak dirinya membalikkan badannya dan benar saja Aaron akan pergi meninggalkannya lagi.
"By ." Panggil Maya ketika Aaron melangkah menjauh darinya.
"Sebentar sayang aku mau mandi dulu ya. Udah gerah banget nih, Tunggu bentaran aja kok." Ucap Aaron berlalu tak lupa dirinya mengedipkan sebelah matanya pada sang wanita.
"Jangan lama- lama ya." Timpal Maya menggigit bibir bawahnya, Dia rindu dengan sentuhan Aaron sewaktu mereka melakukan aktivitas di toilet tempo lalu. Ingin mengulangu lagi namun malu yang mau menyampaikannya.
Aaron melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Berendam adalah pilihan Aaron.
"*Biaran Hummy mondar - mandir ketika aku gak nongol- nongol dari kamar mandi, Aku yakin dia gak bakalan lama udah gedor- gedor tu pintu." Batin Aaron cekikikan, Dia sangat terhibur dengan wajah kesal wanitanya meskipun dirinya juga harus menahan hasratnya . Toh, nanti bakalan unboxing pikirnya.
"Sayang gak nyangka kamu udah jadi milikki setelah banyak ujian dan cobaan yang menghalangi cinta kita untuk bersatu. Semoga Tuhan membiarkan kita bahagia sayang untuk selamanya. " Batin Aaron menengadah kepalanya.
Setelah di rasa cukup Aaron mengambil Weardrobe yang tergantung di belakang pintu, Dengan hati secerah matahari dan seterng bintang dirinya bersiul membuka pintu*.
***Ceklekk.
" Sayan....." Ucapan Aaron terpotong ketika mendapati wanitanya sudah tidur dengan tubuh di tutupi selimut sebatas leher, Aaron melangkahkan kaki lebarnya ke arah ranjang tempat sang wanita tertidur.
"Hummy malah tidur sihhh, Pantesan sedari tadi aku nunggu gak ada yang gedor pintu. Nasib- nasib malam pertama tadi di cuekin sekarang di tinggal tidur, Kan gak jadi unboxingnya." Ucap Aaron pelan takut mengganggu wanitanya yang tertidur dengan pulasnya.
Ia juga membaringkan tubuhnya di samping wanitanya, Dia kesal tanpa berganti pakaian dirinya memeluk Maya dengan erat. Aaron tau wanitanya kecapekan jadi dirinya enggan mengganggu sang wanita***.