
Pagi menjelang Maya menngerjabkan matanya biasanya ia akan mendengar ocehan Tiara jika dirinya sulit dibangunkan. Namun sekarang dirinya hanya sendiri dikamar ini, Maya masih dipaksa tinggal dirumah keluarga Addison . Sebenarnya Maya ingin kembali ke apertementnya namun dengan mudahnya hatinya luluh dengan rayuan Talia.
Kini ia bersiap berangkat ke kantor menjadi sekertaris kembali di Aa corp mendampingi Aaron. Maya menyajikan makanan di atas meja, Karna ketika ia turun Talia menyuruhnya agar tak membantu pelayan sebab dirinya baru sembuh begitulah perkataan Talia.
Jadi yang bisa ia lakukan hanya menyajikan makanan di atas meja meskipun harus mengecoh si pelayan. Karna Talia sudah memperingati para pelayan tidak ada yang boleh memberi pekerjaan kepada Maya. Jadinya para pelayan takut jika menuruti kemauan Maya ,terjadilah drama dahulu di dapur.
Setelah semua selesai Maya menunggu semuanya turun, Ia duduk di kursi makan sembari memainkan ponselnya. Tiba- tiba dia dikejutkan dengan tangan kekar memeluk dirinya dari belakang. Seketika dirinya menoleh, Dan hasilnya bibirnya menabrak benda lunak milik Aaron . Aaron dengan gesit menggigit kecil bibir milik Maya agar terbuka, Menjelajahi bibir itu dengan lembut dan lidah saling berbelit hingga ada deheman yang membuat mereka berhenti.
''Ehemm...'' Deheman Arkan.
Aaron dan Maya sama- sama menoleh dengan posisi masih intim. Mereka masih terbengong tak menyadari posisi mereka dimana Maya sudah berada dipangkuan Aaron. Para pelayan yang menyaksikan itu semua nampak malu- malu, Mereka tersenyum canggung.
''Apa kaget.??? Mau berapa lama lagi kalia seperti itu.'' Maya melihat dirinya yang masih duduk dipangkuan Aaron spontan dia berdiri. Maya menundukkan kepalanya terlalu malu menurutnya berbuat mesum didepan umum.
Sungguh, Maya seperti enggan menegakkan kepalanya.
Arkan menghampiri mereka berdua menghentikan langkahnya ketika berada di antara Maya dan Aaron.
''Aww sakit pa'' Arkan menjewer telinga putranya yang sudah keterlaluan.
''Rasain suruh siapa main nyosor aja.'' Tutur Arkan semakin menarik telinga Aaron.
''Papa sakiittt. Telinga Aaron ppppuuutttus Awww pa..'' Teriak Aaron semakin kencang.
''Jangan dibelain dia , Semakin ngelunjak aja nih anak.'' Sahut Arkan , ia melepaskan jeweran itu terlihat tampak memerah.
Talia yang sedang melayani Aryan mendengar teriakan Aaron ,mereka segera turun ke lantai dasar.
'' Ada apa pa.???'' Tanya Talia yang datang bersama Aryan.
''Si perjaka tua ini bun main nyosor anak perawan orang.'' Tutur Arkan menunjuk ke arah Aaron .
''Aku masih muda pa'' Seru Aaron.
''Udah jangan ngebantah.'' Titah Arkan. Aaron hanya mencebikkan bibirnya ketika mendapat perintah seperti itu dari Arkan.
''Kamu gak tau aja si pa kalau mereka di kantor kayak gimana. Bunda udah pernah mergoki soalnya.'' Terang Talia menggoda kedua sejoli yang lagi dimabuk asmara. Membuat wajah Maya memerah seketika.
''Kenapa harus dibahas lagi sih'' Batin Maya.
'' Emang gimana bun??'' Tanya Arkan penasaran.
'' Intinya mereka harus cepet dihalalin deh pa takut kebablasan juga, soalnya tuh bujang lapuk kayaknya udah gak bisa nahan.'' Papar Talia. Spontan Aaron berdiri, dirinya terlalu bersemangat kalau menyangkut menikah apalagi bersama sang kekasih.
''Aku setuju bun kalau bisa sekarang, Aku siap lahir batin. Ayok bun halalin.'' Sergah Aaron. Membuat Arkan dan Talia membulatkan Mata. Sedangkan Maya kembali menunduk malu karna sifat Aaron.