
Pertengahan malam Aaron , Ben dan Noah tengah bersiap menggunakan jet pribadinya, Mereka akan melakukan penerbangan ke London untuk menghadiri undangan Mr Green koleganya. Revan memang sengaja tak ikut ke acara tersebut karena Revan sedang ada pasien yang sangat membutuhkannya selama beberapa hari kedepan.
Dan untuk Tiara, Sebenarnya dia ngeyel akan ikut bersama rombongan suaminya. Namun dokter menyarankan agar tak melakukan perjalanan jauh apalagi kondisinya tengah hamil besar.
Dengan bujuk rayu Noah, Akhirnya sng istri mau ditinggal bersama ayah tio di rumah barunya. Mereka sengaja agar Tio tetap tingal di ibukota agar dirinya tak bolak- balik dari ibukota ke pekanbaru. Apalagi sekarang Tiara lagi manja- manjanya pada sang ayah hingga dengat berat hati Tio meninggalkan kota dan pekerjaannya.
Menempuh jalur udara selama hampir 17 jam lamanya membuat Ben dan Noah tertidur dengan lelapnya. Sedangkan Aaron, Entah apa yang difikirkannya namun air matanya tak bisa dibohongi bahwa dirinya kini tengah sedih.
Dirinya belajar lebih kuat lagi selama wanita tercintanya entah kemana, Berusaha menjadi pribadi yang lebih kejam agar tak ada yang mengusik dirinya dan wanitanya . Semua itu ia lakukan agar bisa melindungi sang wanita cukup dulu dirinya seperti orang bodoh yang tak pernah bisa melindungi wanitanya.
Dua kali wanitanya pergi dari hidupnya karena kebodohannya dan Dua kali juga seorang Aaron tak bisa melindungi wanitanya dari seseorang yang menjahatinya.
Dia akan menjadi pribadi yang tangguh dan kejam pada siapapun, Agar dirinya disegani. Bukan hanya dirinya namun juga wanitanya.
Mereka memilih menginap di hotel Griz , Hotel dengan fasilitas mewah jadi pilihan mereka bertiga. Memesan satu kamar dengan kasur yang sangat luas ,bisa saja menampung lebih dari lima orang.
Mereka kembali merebahkan tubuhnya pada kasur empuk itu, Mereka akan membeli outlet untuk pakaian resmi ketika malam harinya saja. Karena tertidur di jet pribadi membuat badannya agak sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang cerah namun tak secerah hati wanita yang sedang duduk di meja makan, Ia hanya mengaduk- aduk sarapannya itu.
Entah apa yang dipikirkannya, Namun dirinya merasa tak ada nafsu makan. Membuat pria yang berstatus tunangannya melihat itu dibuat bingung olehnya.
"Honey, kenpa gak dimakan.?" Tanya Rangga ketika mendapati Mayra melamun.
"Gak apa kok honey cuma lagi gak nafsu aja." Sahut Mayra dengan malasnya.
"Apa makananya kurang enak, Aku minta pelayan bikin apa yang kamu mau ya?." Tanya Rangga hendak beranjak namun Mayra menahanya.
"Hmm udah berani ya ngegoda." Pungkas Rangga memeluk Mayra dari belakang. Sebenarnya Mayra risih dengan perlakuan Rangga tapi mau gimana lagi dirinya berstatus tunangan Rangga apalagi negaranya yang tempati kebarat- baratan.
"mau ya jalan- jalan gitu." Pinta Mayra mengiba agar Rangga mau meluangkan waktunya untuk dirinya.
"Dengan senang hati cantik." Sahut Rangga menggigit cuping Mayra.
"Ihh Honey jangan dong sakit tau." Mayra mengerucutkan bibirnya. Menurutnya semakin hari dirinya agak risih berdekatan dengan Rangga.
"Oya sekalian belanja gaun buat hadir di acara mr. Green honey." Timpal Rangga mendudukkan dirinya.
"Berapa hari lagi." Tanya Mayra antusias.
"2 hari lagi."
"What,? Dan kamu ngomong sekarang." Mayra terkejut dengan penuturan Rangga karena menurutnya itu sangatlah mendadak. Belum juga membeli gaun, perawatan dan lain sebagainya. Menurutnya itu membutuhkan waktu yang lumayan lama.
"Cukup sore nanti kamu pergi ke mall bareng mbak katty ya. Maaf aku gak bisa nganter karena ada kerjaan, Kalau masalah perawatan kamu tenang aja tanpa itupun kamu tetep cantik. Tapi jika kamu mau perawatan, Besok pagi akan ada orang kesini buat perawatannya kamu." Ujar Rangga menoel dagu Mayra.
"Ok, no problem aku sama mbak katty ajah. Tapi bener loh ya orang salon bakal kesini Aku gak mau nanti penampilanku kurang fress waktu acara itu." Timpal Mayra.
"Iya- iya bawel."
Cuuupppp.
Rangga mengecup sekilas bibir Mayra, Lalu dirinya beranjak meninggalkan Mayra tak lupa dia membisikkan bahwa dirinya pamit ke kntor. Membuat Mayra mematung, Antara risih dan jijik menjadi satu.