Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Maafkan aku Hubby.



Tio dan yang lainnya hanya bernafas gusar kala suara Maya yang memutuskan hubungannya sangatlah terdengar jelas di indera pendengaranya. Dimana keberadaan mereka bertiga tak melihat pertengkaran itu namun suara Maya dan Aaron masih mampu di dengarnya. Hanya tersekat dinding kaca dan tembok mereka bisa dengan jelas mendengarnya, Apalagi dengan dentuman tembakan itu.


Bukan bermaksut tak peduli namun mereka beranggapan bahwa seorang pelayan menonton film action hingga suaranya melengking seperti itu. Apa mungkin hingga membuat yang mendengarnya serasa nyata pikir mereka.


Namun setelah mendengarkan umpatan dan teriakan Maya, Mereka bertiga berlari ke taman belakang tepat dimana keberadaan dua sejoli yang tengah rapuh tersebut.


Mereka tercengang melihat Aaron yang sudah tak berdaya dalam pelukan Maya, Tangan saling menggenggam. Dan tak lupa wajah kesakitan Aaron dengan darah mengalir dibibirnya.


"Ada apa ini." Suara teriakan Noah membuat Tiara dan Tio tersadar dari rasa tak percayanya. Mereka melangkahkan kakinya secara terburu- buru ke arah Aaron maupun Maya.


"Ada apa May." Ucap Noah lagi ketika sudah berada di dekat Aaron sang sahabat.


"Tolong bawa ke rumah sakit Noah, Ada seseorang disana yang bikin Hubby kayak gini. Tolong." Ujar Maya sesegukan, Walau Aaron masih sadar dan membuka matanya namun dirinya sangatlah khawatir.


"J-angan nangis, A-ku gak apa- apa s-ayang.'' Ujar Aaron dengan nafas tersenggal, Sakit rasanya melihat istrinya yang nampak rapuh di matanya.


Noah mengirim pesan, entah pada siapa namun bisa dilihat jelas di wajahnya ada semburat kemarahan di garis wajahnya.


Lalu setelah itu baik Noah dan para bodyguard yang baru saja datang membopong tubuh kekar namun ringkih itu kedalam mobil yang sudah di persiapkan sebelumnya.


Dengan berbantal paha sang istri di kursi belakang membuat Aaron tak berhenti menatap lekat wajah istrinya.


"T-ersenyumlah S-ayang, inikan yang kamu mau. A-ku siap mati agar kamu b-ahagi....."


"Tutup mulutmu by, aku mohon berhentilah berbicara. Jangan buang-buang tenagamu untuk membicarakan hal yang tak berguna." Kesal Maya kala Aaron terus saja berbicara hal- hal yang membuatnya naik pitan.


"Hati- hati Mas, Tenangkan fikiranmu ya." Ucapan Tiara ketika Noah sudah masuk kedalam kursi kemudi. Ya, Noah yang akan mengantarkan sahabatnya ke rumah sakit karena memang dirinya sangat prihatin dengan keadaannya walaupun bisa saja dirinya menyuruh sang sopir pribadinya.


Dengan ketenangan yang dimiliki Noah, Maya sampai tak sadar jika kendaraanya yang di naikinya melaju dengan kencangnya.


"By, tetap terjaga jangan tutup matamu." Ucap Maya membelai lembut wajah Aaron yang secara perlahan menutup matanya.


Aaron tak meresponya, Namun genggaman tangannya dengan tangan istrinya semakin menguat.


Maya bernafas lega, Ketika Aaron masih bisa sadar walau dengan mata tertutupnya. Dirinya juga membuang fikiran buruknya jauh- jauh walau beberapa jam lalu dirinya ingin mengakhiri hubungannya dengan sang suami.


Air matanya luruh semakin derasnya kala teringat kata- katanya yang sangat ia hindari ketika ijab kabul sudah terucap dari bibir Aaron.


Bisa di katakan dirinya egois karena enggan menerima penjelasan dari Aaron tadi. Entah mengapa rasa kecewanya teramat besar pada sang suami hingga tak memperdulikan rasa cintanya yang begitu menggebu padanya.


"Aku tarik ucapanku by, Jangan berfikir untuk pergi dariku." Ujar Maya dengan pelan tak lupa mengecup dahi Aaron sangat dalam.


Dalam mata terpejam ,Aaron tersenyum dalam balutan darah yang masih menempel di bibirnya. Meskipun sedari tadi dengan sangat telaten Maya membersihkan darah yang terus keluar dari mulutnya itu. Tak mampu membuat darahnya berhenti sampai disitu juga.


Noah yang sedari tadi terdiam tetapi matanya tak berhenti melirik ke arah spion, dimana dua sejoli dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


Kecewa tentu saja dengan Maya yang mengambil keputusan dengan entengnya. Apalagi dirinya juga tak mau memberi ruang untuk Aaron menjelaskannya.


Noah akui jika sahabatnya bersalah dalam hal ini, Apakah kesempatan menjelaskan tak di perlukan dalam sebuah hubungan. Apalagi kesalahan Aaron sangatlah tak wajar jika dirinya ingin membunuh janinnya sendiri.


Itu sangatlah mustahil, Noah masih mencari biang keroknya dalam masalah sang sahabat. Noah tau dengan sifat Aaron yang takkan tega membunuh janinnya apalagi dari wanita yang sangat di cintainya.


Apalagi mengingat pengorbanan yang sangatlah penuh rintangan.


Hingga beberapa menit kemudian dengan ketangkasan yang dimiliki Noah dalam mengendarai mobil.


Revan yang tadi menerima kabar bahwa Aaron mengalami kejadiaan naas berinisiatif menunggunya di depan lobi rumah sakit.


Biarlah sang pasien di pegang kendali oleh dokter lainnya, Dirinya akan fokus pada kondisi sang sahabat.


Aaron ditidurkan dalam brangkar dalam keadaan telungkup sebab bagian punggungnya yang terkena tembakan. Posisi seperti itu agar melancarkan jalannya operasi pengangkatan peluru di bagian punggungnya.


Maya dan Noah ikut serta mendorong brangkar milik Aaron, walau dalam meperhatinkan sekalipun Aaron tetap memegang erat tangan sang istri.


Hingga tepat didepan ruangan operasi mereka memberhentikan laju brangkarnya sebab Aaron enggn melepaskan genggaman tangannya pada Maya.


Ruangan operasi memang dikhususkan untuk orang- orang tertentu saja termasuk pasien yang akan mereka tangani. Apapun alasannya seseorang yang tak memiliki izin dari kepala rumah sakit tidak boleh memasukinya.


"Hubby lepas ya, aku yakin kamu pasti kuat. Jangan buat aku kesepian disini ya, Lekaslah pulih." Ujar Maya pelan sembari melepas tangan Aaron yang memegangnya dengan hati- hati.


Namun tangan Aaron seakan melemas ketika Maya melepas tangannya, bisa dilihat dari posturnya yang sangatlah tak bertenaga.


"Van selamatkan suamiku van." Timpal Maya yang melihat tangan Aaron menggelantung ke bawah dengan lemah.


"Aku usahakan May. Berdoalah agar operasinya Aaron berhasil" Sahut Revan kembali mendorong brankar memasuki ruang operasi yang sangatlah steril.


"Tentu." Ujar Maya pelan.


Maya mendudukkan di kursi tunggu dengan tatapan mengarah pada lampu operasi yang sudah menyala beararti Revan dan perawat lainnya sudah mulai melakukan operasinya.


Lain halnya dengan Noah yang nampak sibuk dengan gawai yang berada dalam genggamannya. Entah siapa yang tengah di hubunginya karena Noah terlihat sangatlah gelisah, Mondar mandir di depan pintu ruangan operasi.


"Maafkan hamba Tuhan, karena sudah mengatakan hal yang sangat engkau benci. Hamba salah, Yang tak mau memberi suami hamba untuk menjelaskan. Lindungilah dia Tuhan, Lancarkanlah operasinya." Batin Maya berdoa sembari mengusap kasar air matanya yang tak hentinya mengalir dipipinya.


Gelisah bercampur khawatir ketika pintu operasi yang berada tepat di hadapannya masih setia tertutup. Separah itukah kondisi Aaron, hingga satu jam berlalu masih belum ada tanda- tanda operasi berakhir.