Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 29



Bulan sabit sudah menampakkan warna pucat pasinya. Deburan ombak mengiringi keindahan malam yang menyejukkan hati. Banyak orang menghabiskan malamnya di pantai dengan teman- temannya namun alangkah lebih indah jika bersama sang kekasih seperti yang dilakukan Aaron dan Maya. Maya duduk di atas pasir sedangkan Aaron tidur berbantal paha sang kekasih sungguh siapa saja yang melihat akan merasa iri dengan kemesraan mereka.


Begitu juga dengan Ben yang sedang merayu pelayan yang disewa oleh Aaron. Masih muda , mandiri dan pekerja keras sungguh tipe Ben sekali.


Memandang lekat paras ayu yang membuatnya tergila- gila sesekali mengecup tangan sang kekasih yang digenggamnya.


Malam hari ini adalah malam terakhir mereka dipulau Bali begitupun hubungan mereka harus berakhir setelah sampai di ibukota. Sesak membayangkan sesuatu yang sulit untuk dilupakan apalagi melupakan wanita yang teramat dicintainya.


'' Setelah sampai ibukota jangan pernah menjauh lagi ya honey dari aku. Meskipun kita udah gak ada hubungan lagi, Please jangan menjauh ataupun menghindar.'' Ucap Aaron membelai wajah ayu itu masih dalam posisi berbantal paha sang kekasih.


''Iya. Tapi harus jaga sikap ya. Disana sama disini beda. Disini aku kekasih kamu kalau di sana aku ke....''Ucapan Maya terbungkam ketika bibir Aaron ********** sekilas.


'' Jangan sebut nama si brengsek itu. Sekarang kamu punyaku jangan sebut pria lain ,Aku cemburu.'' Sahut Aaron kesal. Ia terduduk disamping sang kekasih memeluknya dari samping.


''Lah nanti kalau udah disana gimana dong.??. Akukan sama dia terus, Aku sebut namanya aja , kamu cemburu'' Timpal Maya.


''Yah kalau bisa kamu menghindar jangan mau kalau diajak ketemu.'' Pangkas Aaron.


'' Yehh kalau dia curiga gimana. Nanti dia curiga terus membenarkan tuduhannya kalau aku gak mau resign dikantor kamu gara- gara pengen selalu deket sama kamu.'' Sahut Maya .


''Lah kan emang bener kamu gak bisa jauh dari aku sayang. Biarin dia tahu kalau kamu masih belom move dengan siculun ini.''Timpal Aaron memperagakan gaya coolnya.


''Ih tau ah..'' Ujar Maya menyembunyikan wajahnya dipelukan Aaron.


Aaron hanya terkekeh geli dengan gaya malu- malu sang kekasih. Mempererat pelukan itu, Menghalau angin yang menerpa kulit indah sang kekasih.


''Jangan anggap aku orang asing ya sayang. Aku seperti orang gila ketika kamu berpura- pura tak mengenal aku. Kamu bohong sayang kamu bukan membenciku tapi sebaliknya kamu masih mencintaiku itu sebabnya hatimu takut goyah ketika aku kembali. Kamu takut menghianati Almarhum Ayahnya Noah. Iya kan.'' Tanya Aaron menangkup wajah Maya, Memandangnya penuh cinta.


Maya hanya mengangguk, Membenarkan ucapan Aaron kalau memang dia takut goyah dengan kedatangan Aaron.


'' Aku minta maaf A' kalau perkataan bulan lalu terlalu menyakitkan untukmu. Aku hanya takut, Wasiat itu membuat aku gak bisa mengambil keputusan.'' Ungkap Maya ia menunduk, Menghapus air mata yang dengan kurang ajarnya menetes.


''Kita cari jalan keluarnya sama- sama ya. Kamu gak perlu terbebani dengan wasiat itu, Jangan terlalu terfikirkan oke. Senyum dong biar gak jelek.'' Timpal Aaron mencairkan suasana.


Maya memejamkan matanya ketika Aaron mulai mencium bibirnya dengan penuh cinta. Begitu lembut hingga Maya memeluk pinggang Aaron dengan erat . Sungguh terlampau nikmat jika melakukan dengan seorang yang dicinta berbeda ketika Noah yang menciumnya rasanya begitu hambar.


Mereka sudah terbuai dengan keindahan cinta yang tak dapat menyatukan cintanya.


''Sayang apa boleh akkk...uu memegangnya.'' Tanya Aaron tergagap takut sang wanita marah.


''Iss kenapa mesti tanya si... kan malu.'' Batin Maya.


Maya mengangguk, Ia memalingkan wajah ketika merasa wajahnya memanas.


Tangan Aaron kembali mencari sesuatu yang membuat hasratnya meronta- ronta. Ketika sesuatu itu sudah berada dalam genggamannya, Ia semakin gemas cukup besar untuk ukuran tangan Aaron.


Diremasnya berulang kali, Memilin pucuk merah jambu itu dengan lembutnya membuat Maya menahan desahannya, Ia menggigit bibir bawahnya agar tak menimbulkan suara.


''A' Udah yahhh.. Aaaku taakuuttt keblabasan A'.''


Ucap Maya menahan tangan Aaron ketika Aaron hendak membuka pengait Branya. Aaron dengan berat hati menarik tangannya dari dalam swetear yang dikenakan sang kekasih. Ia memilih duduk menetralkan gelora hasrat yang mulai mencuat.


''Maaf sayang, Aku terbawa suasana.'' Ungkap Aaron ketika melihat sang kekasih ikut mendudukkan dirinya.


Ben datang dengan membawa 2 piring ikan laut yang sudah di olah oleh sang pelayan.


Maya dan Aaron sama-sama terkejut dengan kedatangan Ben. Apa Ben melihat adegan barusan atau tidak itu yang ada di benak Maya.


''Cuss santappp... Salmon ala chef Ben sudah siap.'' Ucap Ben menaruh makanan di atas tirai yang sudah dipersiapkan.


''Halah paling lu cuma gangguin pelayan itu doang. Untung gak gosong.''Timpal Aaron


''Enak banget lu ngomong . Gua nih yang bakar lu gak tau kalau gua udah bau acem nih gara- gara bakar nih ikan.'' Sahut Ben yang tak mau kalah.


''Ceilehhh gaya lu ... Setiap hari juga lu bau asem, baru ngerasa lu hah.'' Sahut Aaron . Merasa senang jika Ben terlihat kesal.


''Buju busyeet awas aja lu abang garong gua potong bener tuh si jono. Seenaknya aja ngatain orang, lu pikir situ selalu wangi.'' Timpal Ben.


''Tentu.'' Dengan gaya Coolnya.


''Udah ah jangnan berantem mulu, udah tua juga masih kayak bocah.'' Sarkas Maya. Memilih mencicipi masakan yang baunya sudah menggugah selera.