Don't leave me my dear

Don't leave me my dear
Chapter 76



Ben mengedarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Membelah karamaian jalan ibukota. Sedangkan Aaron yang duduk dikursi penumpang nampak letih, Sesekali dirinya memijit pelipisnya sembari memejamkan mata. Bisa saja Aaron menyuruh Ben untuk menghandle meeting tersebut namun sayang koleganya tak mau jika diwakili mereka menginginkan Aaron secara langsung menemuinya, Aaron muak dengan koleganya yang menurutnya banyak kemauannya seperti itu.


Ben denga santainya membelokkan mobilnya di jalan yang menurutnya sepi ,Tapi Tiba- tiba saja ada mobil sedan yang menyalip mobil mereka dan memutus jalur jalan Ben. Sehinga membuat Ben mengeremkan mobilnya secara mendadak.


"Bangsat." Aaron terhuyung ke depan bersamaan dengan Ben yang mengerem mendadak.


"Gila lu Ben." Bentak Aaron kesal.


"Maaf bos didepan ada mobil yang menghalau jalur kita." Sergah Ben yang tak terima dengan umpatan Aaron.


Aaron menoleh ke depan mobil, dan benar saja tiga orang berjas hitam keluar dari sedan tersebut.


"Bangsat cari mati tu orang." Umpat Aaron membuka pintu mobil.


"Bos jangan, mereka bawa senjata tajam." Namun ucapan Ben hanya angin lalu, Karena Aaron sama sekali tak menggubrisnya. Ben dengan berat hati keluar dari mobilnya mengikuti bosnya.


"Beraninya kalian menghalangi jalan kami.?" Bentak Aaron yang tersulut emosi.


"Kami takkan bertele- tele pada kalian, Kami akan membunuh kalian, Apa ada yang mau melawan.?" Jawab salah satu pria berjas hitam itu.


"Cihh membunuh kami, Siapa yang menyuruh kalian.?" Sergah Aaron.


" Gak perlu tau anda." Mereka menyerang secara bersamaan dan jangan lupakan benda tajam yang mereka bawa masing- masing.


Aaron dan Ben dengan gesit menghindari benda tajam yang memang disengaja menusuk dirinya.


Aaron memlintir tangan salah satu pria tersebut dan mengambil alih benda tajam itu.


Mengarahkan benda tajam itu pada wajahnya, Membuatnya si pria berjas hitan itu keluar keringat dingin bercucuran didahinya.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Aaron dengan wajah intimidasi. Pria itu menggeleng , Dirinya terlalu takut membocorkan rahasianya pada calon korbannya.


"Jawab atau aku potong fasilitasmu ini." Ancam Aaron meletakkan pisau itu pada alat vitalnya.


Ben yang melihat itu, Mencoba mendorong lawannya dan berlari ke arah Aaron. Belum juga pisau itu menancap, dengan gesit Aaron menendang pria yang akan menusuknya dengan sebelah kakinya. Hal itu membuat Ben mlongo, pasalnya Aaron masih fokus dengan lawan yang sudah dilumpuhkannya namun mengapa dirinya bisa membaca gerakan lawan yang lain tanpa melihatnya pula.


Pria tersebut tersungkur dijalanan, Hidungnya mengeluarkan darah akibat serangan dari Aaron yang mengenai wajahnya.


Aaron kembali lagi pada pria yang sedari tadi tak mau menjawab pertanyaannya. Menendangnya hingga dirinya tersunggur, Dan dengan segara dirinya menginjak dada pria tersebut. Aaron sangat emosi ketika apa yang dia mau tak terungkap, apalagi dirinya sedang letih. Ia juga merobek celana itu hingga nampak dalaman pria tersebut.


"Jangan tuan, Kami hanya menjalankan perintah tolong jangan lukai kami." Ujar pria tersebut memelas.


"Siapa yang menyuruhmu?" Bentak Aaron.


"Ttuuaann Ranggga." Suara pria tersebut melemah.


"Rangga Luxio." Sahut Aaron memastikan, Sang pria hanya mengangguk membenarkan ucapan seorang didepannya dengan tatapan bengis.


"Bangsaatt" Aaron menendang dengan kuat pria tersebut hingga berguling di aspalan. Dan jangan lupakan pria tersebut terbatuk- batu mengeluarkan darah karena Aaron menendang bagian dadanya.


Aaron melihat ke arah Ben , Ia menghampiri kedua pria berjas yang sudah dilumpuhkan oleh Ben itu dengan emosinya.


Menjambak ke dua rambut itu dengan kuat hingga darah mengucur disela- sela rambutnya. Membuat kedua pria itu merintih kesakitan.


"Bilang ke tuan kalian, Saya Aaron Addison tidak akan perna mau kalah dengan pengecut seperti tuan kalian. Kalau memang dirinya berani suruh datang sendiri jangan makai orang lemah kayak kalian." Bentak Aaron tepat didepan muka kedua pria berjas itu. Aaron mendorong mereka berdua ke jalanan, Membuat mereka dengan cepat melenggang pergi memasuki mobilnya dan dengan cepat membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.


"Bangsat." umpat Aaron meninju udara.


"Tenang Ar, Gua yakin Rangga ngelakuin itu ada sesuatunya." Sahut Rangga menenangkan Aaron.


"Persetan dengn sesuatu itu, Gua bakal lenyapin dia kalau sampai dugaan gua benar selama ini." Sergah Aaron memasuki mobilnya dan membanting pintu mobil dengan kerasnya.


"Ar mau sampai kapan lu kayak gini, Gua kangen lu yang dulu Ar." Batin Ben mengelus dadanya.